Pahitnya Secangkir Usaha

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBC

Oleh: L. Arelina

CemerlangMedia.Com — Pagi itu, kedai kopi kecil milik Danu baru saja membuka pintunya. Aroma kopi hitam menguar perlahan, menyambut jalanan yang belum sepenuhnya ramai. Ia menata cangkir satu per satu, memastikan semuanya siap, seolah dengan kerapian itu ia bisa menenangkan pikirannya sendiri.

Dua tahun lalu, tempat ini hanya mimpi. Danu memulainya dari tabungan yang nyaris habis, dari percobaan rasa yang sering gagal, dari hari-hari sepi tanpa pelanggan. Tapi pelan-pelan, kedai itu hidup. Ada beberapa wajah yang mulai akrab. Ada tawa ringan yang sesekali mengisi ruang sempit itu. Tidak besar, tapi cukup untuk membuatnya merasa berjalan.

Namun akhir-akhir ini, langkah itu terasa lebih berat.

Harga bahan baku naik tanpa banyak bicara. Kopi yang dulu bisa dibeli dengan tenang, kini harus dihitung ulang. Susu, gula, bahkan listrik semuanya bergerak naik, seolah berlomba siapa yang paling cepat membuatnya berpikir dua kali.

Danu mencoba bertahan tanpa mengubah harga. Ia tahu, pelanggan kecil seperti miliknya datang bukan hanya untuk rasa, tapi juga karena harga yang masih masuk akal. Tapi bertahan ternyata tidak selalu berarti diam. Terkadang, bertahan justru membuat sesuatu di dalam perlahan terkikis.

Suatu siang, seorang petugas datang dengan berkas di tangan. Percakapan mereka singkat, nyaris seperti formalitas.

“Ini untuk kelengkapan usaha ya, Mas.”

Danu mengangguk, menerima kertas itu tanpa banyak bertanya.

Baru setelah petugas itu pergi, ia membacanya perlahan. Angka-angka di sana tidak terlihat besar bagi sebagian orang, tapi bagi Danu, cukup untuk membuatnya duduk lebih lama dari biasanya.

Ia tidak marah. Tidak juga terkejut.

Hanya… diam.

Malamnya, ia membuka catatan keuangan. Menggeser angka demi angka, mencoba mencari ruang yang mungkin masih bisa disisakan.

Pengeluaran seperti tidak pernah lupa datang.
Sementara pemasukan… terkadang terasa ragu untuk menetap.

Ia menutup buku itu pelan.

Ada hal-hal yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan berhitung.

Beberapa hari kemudian, Danu menaikkan harga sedikit. Tidak banyak. Hampir tidak terasa. Tapi tetap saja, perubahan sekecil apa pun selalu punya dampak.

Seorang pelanggan tetap datang, memesan seperti biasa, lalu melihat daftar harga sejenak lebih lama dari biasanya.

Ia tetap membeli.

Tapi tidak kembali keesokan harinya.

Kedai itu perlahan menjadi lebih sunyi. Tidak kosong, tapi tidak lagi seramai dulu. Kursi-kursi yang biasanya terisi, kini lebih sering menunggu.

Danu berdiri di balik meja, memperhatikan semuanya tanpa benar-benar bergerak.

Ia tidak menyalahkan siapa pun.

Ia hanya mulai bertanya dalam diam, kenapa rasanya makin sempit, padahal ia tidak berhenti berusaha?

Suatu sore, dalam perjalanan pulang, Danu melewati jalan besar yang dipenuhi tempat usaha lain. Lampu terang, bangunan tinggi, dan parkiran yang penuh.

Ia berhenti sejenak di lampu merah.

Menatap sekeliling.

Lalu kembali melaju.

Tidak semua hal perlu dibandingkan, pikirnya. Tapi tidak semua perbedaan bisa diabaikan.

Beberapa malam kemudian, Danu duduk di masjid setelah salat. Ia tidak sengaja mendengar kajian yang sedang berlangsung. Awalnya hanya sepintas, tapi satu kalimat membuatnya tetap duduk.

“Terkadang, yang terasa berat bukan karena kurangnya usaha, tapi karena arah beban yang tidak seimbang.”

Danu menoleh sedikit.

“Dalam hidup, ada peran yang seharusnya menjaga dan ada yang dijaga,” lanjut suara itu tenang.
“Jika yang seharusnya menjaga justru ikut mengambil, sementara yang dijaga terus memberi… maka wajar jika terasa lelah.”

Tidak ada nada keras. Tidak ada penunjukan arah.

Tapi kalimat itu seperti menjelaskan sesuatu yang selama ini hanya ia rasakan tanpa pernah bisa ia susun.

Danu pulang dengan langkah yang sama, tapi pikiran yang berbeda.

Ia tidak tiba-tiba menemukan solusi. Kedainya masih sama. Pengeluarannya masih berjalan. Pelanggannya belum tentu kembali.

Namun, ada satu hal yang berubah. Ia tidak lagi sepenuhnya menyalahkan dirinya sendiri.

Keesokan paginya, ia kembali membuka kedai seperti biasa. Menyeduh kopi pertama, menyusun meja, dan menunggu hari berjalan sebagaimana mestinya.

Seorang pelanggan lama datang.

“Mas, seperti biasa, ya.”

Danu mengangguk, tangannya bergerak lebih ringan.

Di balik secangkir kopi itu, tidak ada cerita besar. Hanya usaha kecil yang terus berjalan, meski pelan. Hanya harapan yang tidak terlalu keras diucapkan.

Namun, di dalam diamnya, Danu mulai mengerti. Tidak semua rasa pahit berasal dari kopi dan tidak semua beban terlihat dari luar.

Ia menatap jalan di depan kedainya, memperhatikan orang-orang yang lalu lalang, masing-masing dengan urusannya sendiri. Barangkali, banyak yang merasakan hal yang sama. Hanya saja, tidak semua sempat mengatakannya.

Danu tersenyum kecil, lalu kembali bekerja. Karena untuk sekarang, itu yang bisa ia lakukan. Sambil diam-diam berharap suatu hari nanti, yang kecil tidak lagi harus selalu menyesuaikan diri, dan yang kuat benar-benar menjadi tempat bersandar. Bukan sekadar tempat menambah beban.

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia.

[CM/Na]

Views: 6

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *