Menemukan Kemerdekaan di Tengah Penjajahan Modern

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Yulweri Vovi Safitria
Managing Editor CemerlangMedia.Com

Dahulu, umat berjuang untuk merebut kemerdekaan dari penjajahan fisik. Kini, perjuangan tersebut bertujuan untuk membebaskan umat dari penjajahan ideologi sekuler, hukum jahiliyah, ekonomi kapitalis, budaya Barat dan tatanan yang tidak islami. Apabila tidak berjuang, selamanya umat akan terus terjajah dan tenggelam dalam lumpur kehinaan.

CemerlangMedia.Com — Tujuh dekade lebih bumi pertiwi lepas dari cengkeraman penjajah fisik. Ya, secara de jure, bangsa Indonesia telah merdeka. Namun jika menengok lebih dalam realitas kehidupan sehari-hari, timbul pertanyaan: apakah negeri ini benar-benar sudah merdeka secara hakiki?

Penjajahan Modern

Kemerdekaan hakiki bukan sekadar perayaan tahunan, upacara khidmat, atau bebasnya suatu wilayah dari pendudukan asing. Lebih dari itu, merdeka hakiki adalah kondisi bangsa yang individunya berdaulat atas diri, pikiran, dan masa depannya tanpa sekat ketakutan, penindasan, atau ketergantungan yang merusak martabat kemanusiaan.

Namun di era modern saat ini, penjajahan telah bertransformasi menjadi bentuk yang lebih halus, senyap, dan kerap tidak disadari. Memang, derap langkah serdadu penjajah ataupun suara meriam sudah tidak terdengar, tetapi pola pikir masyarakat terjajah oleh pemahaman Barat.

Masyarakat sering kali didikte oleh standar kesuksesan semu yang diciptakan oleh arus globalisasi dan media sosial. Gengsi, validasi digital, dan gaya hidup konsumtif telah merampas kemerdekaan finansial serta ketenangan batin. Kondisi ini melahirkan individu yang lebih mengutamakan gaya hidup daripada kebutuhan.

Begitu pula dengan teknologi. Alih-alih memerdekakan waktu dan pikiran, algoritma justru memperbudak perhatian. Masyarakat menjadi makhluk yang cemas (fear of missing out), mudah diintervensi oleh arus informasi instan, dan perlahan kehilangan kemampuan berpikir kritis yang mendalam.

Bukan hanya itu, ketimpangan ekonomi dan sosial makin terlihat nyata. Kemiskinan struktural, pemutusan hubungan kerja, sulitnya akses pendidikan dan kesehatan yang berkualitas, serta ketidakpastian jaminan kesejahteraan hidup masih terus dirasakan masyarakat ekonomi bawah.

Fakta Masyarakat

Mirisnya, di tengah sulitnya memenuhi kebutuhan pokok, mahalnya harga-harga, dan susahnya mendapatkan pekerjaan, pemerintah justru gencar menagih pajak rakyat. Bahkan, pemerintah pun melibatkan perangkat RT/RW untuk sosialisasi agar masyarakat taat pajak (batamnews, 10-07-2026).

Namun, hal demikian tidak berlaku bagi pengusaha. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) justru memberikan insentif pajak 0% hingga 50 tahun di Pusat Finansial Internasional Indonesia (cnbcindonesia, 20-07-2026). Meskipun wacana tersebut kemudian dibantah, tetapi rakyat tetap menjadi objek yang paling menderita akibat sistem yang tidak menciptakan keadilan.

Selama kebutuhan dasar masih menjadi barang mewah bagi sebagian kalangan dan selama ketidakadilan masih terus dirasakan, kemerdekaan sosial belum sepenuhnya terwujud. Oleh karena itu, menghadirkan keadilan dan jaminan kesejahteraan yang merata adalah utang yang harus segera dilunasi agar kemerdekaan tidak sekadar milik segelintir elite, melainkan dirasakan nyata oleh seluruh rakyat.

Perang Pemikiran

Penjajah memang telah lama pergi. Namun faktanya, mereka tetap masih bercokol dalam wajah yang berbeda. Penjajahan modern tidak bertujuan merampas tanah, melainkan mencaplok cara berpikir, merusak sistem, menguasai sumber daya atas nama investasi, dan melumpuhkan identitas umat Islam melalui gaya hidup global yang disamarkan dalam bentuk modernitas.

Disadari atau tidak, invasi hari ini berjalan lebih senyap dan mematikan. Pemikiran umat dijejeli dengan racun sekularisme liberal yang membisikkan ilusi bahwa kebebasan tanpa batas—tanpa peduli aturan agama—adalah puncak kemerdekaan.

Di bawah payung ideologi ini, manusia didorong untuk merdeka dari nilai-nilai Ilahi, yang justru berujung pada hilangnya arah moral dan rusaknya tatanan sosial. Bukan hanya itu, paham pluralisme yang menyamakan semua agama turut dipromosikan dan dikawal ketat, mengikis keyakinan hakiki umat Islam demi melanggengkan relativisme moral yang merusak akidah.

Sementara itu, teknologi informasi bak pisau bermata dua. Satu sisi menguntungkan karena berbagai peristiwa dari belahan dunia dengan cepat dapat diketahui. Di sisi lain, terjadi pula gelombang arus budaya Barat (westernisasi) ke negeri-negeri Islam. Hal itu berpengaruh pada cara berpikir dan perilaku kaum muslim.

Para penjajah juga gencar mempromosikan empat hal, yakni food (kuliner/pola konsumsi), fashion (busana/tren berpakaian), film (hiburan/sinema), dan fun (gaya hidup). Keempat hal tersebut bekerja secara sistematis dan terstruktur sebagai alat indoktrinasi massal. Melalui infiltrasi budaya ini, standar estetika, moral, hingga orientasi hidup masyarakat perlahan-lahan digiring menjauh dari nilai-nilai agama dan adat ketimuran.

Terkait hal ini, generasi muda menjadi target utama yang paling rentan. Kesadaran kritis mereka dibius oleh kenikmatan instan dan hedonisme sehingga tanpa sadar jauh dari ajaran agama, mengagungkan budaya asing seraya merendahkan jati diri. Oleh karena itu, penting membentengi diri dari gelombang perang pemikiran sehingga terbentuk nalar kritis dan ketahanan mental yang kokoh.

Ironi Kapitalisme

Alih-alih membebaskan, sistem ekonomi yang berpusat pada akumulasi modal segelintir elite ini kerap memenjarakan manusia dalam bentuk-bentuk eksploitasi baru yang terselubung. Ya, sistem kapitalisme telah menciptakan banyak persoalan.

Bahkan, di balik gemerlap pertumbuhan ekonomi global, sistem kapitalisme justru meninggalkan ironi besar bagi arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan individu direduksi menjadi komoditas pasar. Manusia dinilai bukan lagi dari kemuliaan martabatnya, melainkan dari daya beli dan produktivitas ekonominya bagi para pemilik modal.

Akibatnya, jurang pemisah antara si kaya dan si miskin menganga lebar. Mayoritas rakyat terjebak dalam lingkaran kerja tanpa henti demi sekadar bertahan hidup. Bahkan, tidak sedikit dari para ibu yang harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarga, meninggalkan tugas mulia sebagai ibu. Kebebasan finansial dan waktu mereka telah dirampas oleh sistem yang korosif.

Lebih dari itu, kapitalisme juga mengkomersialkan sektor-sektor paling esensial bagi hajat hidup orang banyak, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan pokok. Ketika hak-hak dasar rakyat diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar bebas yang berorientasi pada profit, maka keadilan sosial hanyalah ilusi belaka, dan kemerdekaan hakiki kian jauh dari genggaman.

Merdeka dengan Islam

Islam memandang, kemerdekaan bukan sekadar bebas tanpa batas, melainkan kebebasan yang terarah untuk memuliakan manusia. Kemerdekaan tersebut dirumuskan melalui prinsip-prinsip tertentu yang didasarkan pada dalil syarak.

Pertama, kemerdekaan adalah pembebasan dari penghambaan kepada sesama manusia. Pesan paling fundamental dari risalah para nabi adalah membebaskan manusia dari perbudakan terhadap sesama makhluk (harta, kekuasaan, atau manusia lainnya) menuju penghambaan yang murni hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika seseorang telah berakidah dengan benar (baca: Islam), ia tidak akan bertekuk lutut pada intimidasi kekuasaan duniawi atau takut kepada selain Sang Pencipta. Hal ini tercermin dalam kalimat yang masyhur dari sahabat Ruba’i bin Amir al-Tamimi saat berhadapan dengan panglima Persia Rustum, “Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan kepada sesama hamba menuju penghambaan kepada Allah semata, dari kesempitan dunia menuju dunianya yang luas, dan dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.”

Prinsip ini sejalan dengan penegasan Al-Qur’an dalam surah Al-Anbiya’ ayat 25, “Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku.” (QS Al-Anbiya’: 25).

Kedua, kebebasan yang bertanggung jawab. Islam tidak mengenal konsep kebebasan mutlak yang mengabaikan aturan Ilahi. Setiap kebebasan yang diambil selalu ada pertanggungjawabannya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan.” (QS Al-Muddatsir: 38).

Ketiga, kemerdekaan akliyah dan ruhiyah. Islam sangat menghargai akal pikiran dan melarang taklid buta. Kesadaran akan hubungannya dengan Allah akan melahirkan manusia yang bebas dari kebodohan, kebatilan, serta tahayul.

Allah Taala berfirman, “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Siapa yang ingkar kepada taghut dan beriman kepada Allah sungguh telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 256).

Terkait keadilan dan kesejahteraan, negara yang berlandaskan aturan Islam memikul tanggung jawab penuh terhadap kemaslahatan rakyatnya. Negara hadir untuk melindungi masyarakat dari pengaruh pemikiran yang destruktif dan menyesatkan, sekaligus mengoptimalkan kemajuan teknologi sebagai sarana strategis untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin ke seluruh penjuru dunia.

Khatimah

Dahulu, umat berjuang untuk merebut kemerdekaan dari penjajahan fisik. Kini, perjuangan tersebut bertujuan untuk membebaskan umat dari penjajahan ideologi sekuler, hukum jahiliyah, ekonomi kapitalis, budaya Barat dan tatanan yang tidak islami. Apabila tidak berjuang, selamanya umat akan terus terjajah dan tenggelam dalam lumpur kehinaan.

Dalam naungan sistem Islam secara kafah, keadilan sosial dan kesejahteraan yang merata bukan lagi sekadar angan-angan, melainkan keniscayaan yang menyejahterakan setiap jengkal negeri. Di saat itulah, kemerdekaan hakiki menjelma menjadi rahmat yang membebaskan manusia dari segala bentuk perbudakan duniawi menuju kemuliaan abadi di bawah ridha Ilahi.

Wallahu a’lam. [CM/Na]

Views: 7

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *