Lulusan Bertambah, Pasar Kerja Gagal Bertumbuh

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Neti E
Aktivis Muslimah

Dalam Islam, menuntut ilmu merupakan ibadah yang paling utama melebihi ibadah lainnya. Bahkan, ibadah lainnya sangat bergantung pada ilmu. Tanpa ilmu, ibadah akan menjadi kurang sempurna.

CemerlangMedia,Com — Mengutip laporan yang ditulis oleh Muhammad Hanri, PhD. dan Nia Kurnia Sholihah yang bertajuk ‘Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap?’, ada poin penting yang dimuat oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (LPEM FEB UI). Selain menyorot delapan juta lulusan sarjana yang bekerja di bawah pendidikannya, laporan tersebut juga menunjukkan ada lima bidang studi yang banyak ditemukan di antara pengangguran lulusan S1. Data-data tersebut menjadi butir-butir krusial mengingat pemerintah tengah merencanakan pembangunan perguruan tinggi baru, yakni Universitas Republik Indonesia (detik.com, 10-08-2026).

Terdapat lima bidang studi yang secara bersama-sama mencakup sekitar 40% dari pengangguran lulusan sarjana. Kelima bidang studi tersebut adalah manajemen (10,3%), hukum (9,0%), ekonomi (8,7%), pendidikan (7,1%), dan akuntansi (5,1%). Data tersebut menunjukkan bahwa pengangguran sarjana cukup banyak berasal dari prodi yang mempunyai cakupan luas, tidak mengerucut pada keahlian profesi dan memiliki jumlah lulusan cukup besar.

Keterampilan dari lulusan perguruan tinggi sering kali tidak sesuai dengan kriteria yang dicari oleh dunia industri modern. Mereka pun menurunkan gengsi standar pekerjaan agar tetap berprofesi. Padahal, lulusan sarjana yang bekerja pada bidang pekerjaan dengan pendidikan lebih rendah menjadi indikasi bahwa pertumbuhan tenaga kerja terdidik lebih cepat dari terciptanya lapangan kerja bagi sarjana profesional yang membutuhkan keterampilan tinggi.

Jumlah pencari kerja yang tidak sebanding dengan ketersediaan lapangan kerja, gelombang PHK massal, serta kemajuan teknologi otomatisasi yang menggantikan tenaga manusia, menjadi masalah kompleks penghasil pengangguran. Hubungan antara program pendidikan, kompetensi lulusan, dan kebutuhan pemberi kerja belum terjalin sempurna. Pertumbuhan lapangan kerja belum mampu mengimbangi bertambahnya lulusan.

Pendidikan di Tangan Kapitalis

Pendidikan sejatinya merupakan salah satu tonggak peradaban suatu negeri, sebagaimana peradaban terdahulu yang tercatat dalam sejarah. Kaum intelektual menjadi motor penggerak inovasi, pengawal moral kebijakan, serta pemberi solusi atas berbagai masalah pembangunan nasional lewat ilmu pengetahuan dan riset.

Ketika pendidikan dijadikan ladang bisnis, esensi pendidikan bergeser dari hak publik menjadi sebuah komoditas atau barang dagangan. Hal ini memicu kapitalisasi dan komersialisasi. Rakyat pun kehilangan hak untuk memperoleh pendidikan dan negara melalaikan kewajibannya dalam mencerdaskan bangsa.

Inilah yang terjadi di negara yang berpaham kapitalisme. Penguasa tidak menjalankan kewajibannya sebagai raain bagi rakyatnya. Rakyat dibiarkan menempuh pendidikan dan mencari pekerjaan sendiri. Hal ini menjadi makin komplek karena negara juga tidak menjamin kesejahteraan rakyatnya. Negara tidak membangun integrasi antara ketersediaan lapangan kerja, ketersediaan lulusan, dan jaminan kebutuhan hidup.

Negara telah melakukan kesalahan dengan membentuk pola pemikiran bahwa menempuh pendidikan tinggi akan membuka kesempatan berkarir. Negara secara tidak langsung telah membuat rakyat lupa hakikat menuntut ilmu. Kapitalisme telah menyusup ke dalam pikiran semua orang, memberikan konsep bahwa tujuan hidup adalah memperoleh materi duniawi seperti harta dan jabatan.

Hakikat Pendidikan dalam Islam

Riset keilmuan pada masa kekhalifahan Islam (terutama era kejayaan Islam di Dinasti Abbasiyah) mencapai puncak kemajuannya berkat dukungan penuh negara, pendirian pusat penerjemahan dan riset seperti Baitul Hikmah di masa Khalifah Al-Ma’mun. Kekhalifahan Abbasiyah adalah contoh penting dari bagaimana kekuasaan politik dapat memengaruhi perkembangan budaya dan ilmu pengetahuan. Dinasti ini menunjukkan bahwa kemajuan peradaban tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh kemampuan untuk mengintegrasikan berbagai budaya dan tradisi, serta mendorong inovasi dan penelitian.

Ada hal-hal yang dilupakan pada masa ini, yaitu hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, Allah menjadikan kekayaannya dalam hatinya, mengatur urusannya, dan dunia datang kepadanya meskipun ia tidak menginginkannya. Dan siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, Allah menempatkan kemiskinannya di depan matanya, mengacaukan urusannya, dan dunia tidak datang kepadanya, kecuali apa yang telah ditentukan untuknya akhirat maka dunia akan mengikuti.”

Menuntut ilmu itu adalah kewajiban asasi yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana hadis Rasul yang berbunyi, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR Ibnu Majah no. 224).

Menuntut ilmu merupakan ibadah yang paling utama melebihi ibadah-ibadah lainnya dalam Islam. Bahkan, ibadah-ibadah lainnya sangat bergantung pada ilmu. Tanpa berbekal ilmu, ibadah akan menjadi kurang sempurna.

Lulusan dari universitas atau madrasah tinggi pada masa Dinasti Abbasiyah menjadi kelompok elite intelektual yang sangat dihargai dan langsung diserap oleh sistem pemerintahan serta pusat-pusat kebudayaan dunia Islam. Karier utama lulusan adalah mengisi tiga pos penting. Pertama, sebagai birokrat pemerintah seperti menteri (wazir), penasihat khalifah, sekretaris negara, atau duta besar. Kedua, menjadi aparat peradilan seperti hakim (qadi) di berbagai wilayah kekhalifahan. Ketiga, menjadi dosen dan ilmuwan yang mengajar di lembaga pendidikan atau memimpin pusat riset dan perpustakaan. [CM/Na]

Views: 5

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *