Oleh: Ummu Alana
Pendidikan dalam Islam adalah indentitas negara dalam menjaga integritas dan kedaulatan. Konsep pendidikan dalam Islam diusung dengan kurikulum yang berbasis akidah Islam. Tujuan dari kurikulum tersebut adalah mewujudkan generasi yang berkepribadian Islam, kreatif, berpikir kritis, responsif, dan mahir dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
CemerlangMedia.Com — Memasuki tahun ajaran baru 2026/2027, selain disibukkan dengan urusan administrasi, belanja peralatan sekolah, dan kegiatan awal tahun pembelajaran, dunia pendidikan kemunculan fakta baru yang cukup menarik perhatian publik, yaitu sepinya murid baru pada beberapa sekolah dasar negeri di beberapa wilayah Indonesia. Fenomena ini menambah panjang deretan persoalan dunia pendidikan sekaligus menjadi sinyal perlunya evaluasi kinerja pemerintah selaku penyelenggara dan pelaksana pendidikan.
Melansir harian cnnindonesia.com pada 15 Juli lalu, tercatat beberapa daerah yang mengalami fenomena kekurangan peserta didik, di antaranya SD Negeri 1 Gedung Meneng, Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung. Selain Lampung, fenomena serupa juga terjadi di kota lain, misalnya di Sleman, Jawa Tengah, sekitar 60-an sekolah juga masih kekurangan siswa baru hingga akhir masa Sistem Penerimaan Siswa Baru atau SPMB.
Menurut peneliti senior Lembaga Demografi FEB UI Turro Wongkaren, ada beberapa penyebab sepinya peminat sekolah negeri. Dua di antaranya adalah penurunan angka kelahiran dan selisih jumlah penduduk antara desa dan kota akibat tingginya angka urbanisasi.
Problem Sistemik
Fenomena ini tentu tidak hadir secara spontan, bisa jadi gejalanya sudah terjadi sejak lama. Namun karena gejalanya perlahan, tidak sempat terdeteksi hingga akhirnya memuncak pada awal tahun ajaran sekarang. Jika dibiarkan berlanjut, kondisi ini tentu akan memberi dampak buruk pada kelangsungan kedaulatan negara karena tidak ada regenerasi kepemimpinan.
Menanggapi pernyataan peneliti mengenai penyebab sepinya sekolah dasar negeri di banyak wilayah Indonesia, tentu hal tersebut menjadi bukti bahwa permasalahan di dunia pendidikan adalah problem sistemik yang solusinya tidak pernah bisa dituntaskan hanya dengan gonta ganti kebijakan dan kurikulum semata. Kegagalan pemerintah dalam menjaga stabilitas nasional pada sektor ekonomi, sosial, dan politik turut andil memunculkan isu pendidikan yang ada saat ini.
Faktor menurunnya angka kelahiran yang merupakan salah satu penyebab penurunan jumlah siswa di banyak sekolah negeri dipicu oleh ketiadaan jaminan hidup di masyarakat. Beratnya beban ekonomi karena tingginya biaya hidup ditambah minimnya lapangan dan kesempatan kerja menjadikan generasi mudanya memilih membatasi keturunan.
Selain itu, tingginya angka urbanisasi warga juga menjadi penegasan adanya ketidakpuasan rakyat terhadap pola ekonomi yang dikelola negara. Inilah salah satu benang merah yang mengaitkan sektor ekonomi dengan sektor pendidikan dalam proyek pencerdasan generasi.
Pergeseran pola pikir masyarakat mengenai standar orientasi pendidikan pun mengalami perubahan seiring dengan makin masifnya fenomena kerusakan moral dan kenakalan remaja saat ini. Rakyat menilai bahwa kualitas pendidikan sekolah negeri kurang berhasil memberikan penanaman nilai-nilai agama dan moral pada anak-anak hingga remaja sehingga banyak orang tua yang memilih dan mempercayakan pendidikan anak-anaknya di sekolah yang berbasis agama dengan harapan anaknya menjadi anak saleh yang cerdas dan memiliki pemahaman yang benar.
Kinerja pemerintah dalam menerapkan kebijakan pada sektor pendidikan dinilai gagal mencetak generasi intelektual yang cerdas, kritis, kreatif, dan berakhlak baik. Padahal keberadaan kaum intelektual menjadi sangat penting pada perannya sebagai perisai kedaulatan negara dan kelangsungan peradaban. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa permasalahan-permasalahan yang hadir di dunia pendidikan saat ini merupakan salah satu efek domino dari penerapan sistem politik pemerintahan yang keliru.
Pendidikan dalam Islam
Kondisi ini kontras dengan sistem kepemimpinan Islam yang mengadopsi hukum Islam sebagai dasar negara, landasan politik, aturan hidup, dan sumber perundang-undangan. Islam meletakan ilmu sebagai kewajiban sekaligus jalan kemuliaan. Sebagaimana hadis Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam,
“Menuntut ilmu itu wajib atas semua Muslim.” (HR Ibnu Majah).
Oleh karena itu, negara dalam hal ini penguasa, menempatkan sektor pendidikan di skala priotas. Penguasa dalam kepemimpinan Islam bertanggung jawab penuh dalam memberikan hak dan jaminan pendidikan terhadap seluruh warga negaranya tanpa terkecuali dan tanpa pungutan biaya sedikitpun. Alasannya karena sektor pendidikan merupakan ranah ekslusif yang penyelenggaraannya tidak boleh diintervensi pihak lain, apalagi dikomersialisasikan dalam rangka mencari keuntungan semata.
Pendidikan dalam Islam adalah indentitas negara dalam menjaga integritas dan kedaulatan. Konsep pendidikan dalam Islam diusung dengan kurikulum yang berbasis akidah Islam. Tujuan dari kurikulum tersebut adalah mewujudkan generasi yang berkepribadian Islam, kreatif, berpikir kritis, responsif, dan mahir dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam tatanan negara Islam, negara bertanggung jawab penuh dalam penyelenggaraan pendidikan, termasuk menyediakan infrastruktur pendidikan yang memadai dan menciptakan stabilitasi ekonomi, sosial dan politik yang mapan agar penyelenggaraan bisa berjalan dengan tenang. Artinya, dalam kepemimpinan Islam, seluruh sektor penunjang kehidupan harus terintegrasi antara satu dan yang lainnya untuk menciptakan kinerja yang serasi dan berimbang. Setiap kebijakan pada salah satu sektor akan berpengaruh pada sektor lainnya.
Fakta sejarah membuktikan, sistem pendidikan dalam Islam ini terbukti efektif dan sukses mencetak cendekiawan dan ilmuwan muslim kenamaan yang mampu mewariskan ilmu pengetahuan dan teknologi hingga hari ini. Sebut saja, Al-Khawarizmi, penemu aljabar yang memperkenalkan konsep matematika algoritma dan desimal angka nol, Ibnu Sina yang dikenal dengan julukan Avicenna penemu ilmu kedokteran modern, Ibnu Al-Haltan (alhaizen) ilmuwan di bidang optik dan sains penglihatan, dan masih ada beberapa cendekiawan muslim lainnya.
Dengan demikian jelas, solusi dalam menyelesaikan persoalan di dunia pendidikan adalah penerapan sistem Islam. Sebab, hanya sistem Islam yang mampu mengintegrasikan iman, ilmu, dan kekuasaan untuk melahirkan generasi unggul yang akan menjaga persatuan dan merawat peradaban serta kedaulatan di masa yang akan datang. Hanya sistem kepemimpinan Islam yang mampu melahirkan generasi kepemimpinan di setiap masa.
Allahu a’lam bisshawab. [CM/Na]
Views: 1






















