Persoalan kejahatan di lingkungan pelajar membutuhkan penyelesaian secara mendasar dan masif. Sulit rasanya berharap remaja mendapatkan pendidikan karakter dalam sistem sekularisme. Sebab, pelajar juga bukan hanya sebagai pelaku kejahatan, tetapi korban dari kebobrokan sistem.
CemerlangMedia.Com — Tawuran antar dua kelompok pelajar tingkat pertama terjadi di pinggir tol Jakarta-Cikampek kelurahan Jakasetia, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi (14-10-2026). Dari hasil penyelidikan, diketahui masing-masing kelompok berjumlah 10-15 orang, empat di antaranya terlibat bentrokan dengan menggunakan senjata tajam (15-10-2026).
Kekerasan antar pelajar mengalami peningkatan yang signifikan. Berdasar data dari Polda Metro Jaya, tercatat sekitar 440 kasus tawuran yang terjadi di wilayah Jabodetabek hingga Desember 2025 atau sekitar rata-rata 37 kasus per bulan. Fenomena ini menjadi sinyal bahwa dunia pendidikan saat ini sedang tidak baik-baik saja. Para pelajar yang seharusnya memiliki budi pekerti luhur, justru menjadi pelaku kejahatan dan harus bersentuhan dengan hukum.
Ada banyak faktor yang menjadi sebab pelajar melakukan kejahatan. Selain kegagalan sistem pendidikan dalam mencetak anak berakhlak baik, faktor keluarga juga memiliki dampak yang besar. Ketika orang tua tidak menjalankan perannya dengan baik, rumah tidak lagi menjadi tempat pulang yang nyaman. Ketika hak-hak anak yang tidak diberikan, maka mereka akan mencari pelarian di luar rumah tanpa kontrol.
Tidak sedikit anak berperilaku nakal karena komunikasi yang tidak baik, mencari perhatian, dan kurang kasih sayang orang tua. Namun jika ditelusuri lagi, Indonesia hari ini juga mengalami krisis keluarga. Fakta ini ditunjukkan dengan tingginya angka perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga.
Faktor lingkungan sosial juga akan memengaruhi baik dan tidaknya perilaku seseorang. Cengkeraman budaya sekularisme dan liberalisme mendorong pelajar bebas melakukan apa pun tanpa batas. Kesenangan menjadi tujuan utama. Pacaran, perzinahan, narkoba, dan tawuran adalah bentuk ekspresi dari nilai kebebasan yang mereka junjung tinggi.
Sistem negara saat ini yang menjauhkan agama dari kehidupan, perlahan menghilangkan rasa iman dan takwa dalam diri pelajar. Dalam sekularisme, agama hadir hanya ketika beribadah. Selain itu, buang jauh-jauh aturannya.
Sistem sanksi juga tidak memberikan efek jera bagi para pelaku kejahatan. Terlebih jika berusia di bawah 18 tahun, besar potensi mereka melakukan kejahatan yang serupa di lain waktu. Persoalan kejahatan di lingkungan pelajar membutuhkan penyelesaian secara mendasar dan masif. Sulit rasanya berharap remaja mendapatkan pendidikan karakter dalam sistem sekularisme. Sebab, pelajar juga bukan hanya sebagai pelaku kejahatan, tetapi korban dari kebobrokan sistem.
Syariat Islam menutup semua celah yang memicu kekerasan. Di sektor pendidikan, akidah Islam menjadi fondasi dalam seluruh aspek kurikulum sehingga tertanam akhlak dan karakter yang mulia. Para pelajar dididik untuk memiliki kepribadian Islam, punya kecerdasan unggul dan visioner, jauh dari nilai-nilai hedonis. Pendidikan yang berkualitas dan islami bukan lagi privilage untuk si kaya raya. Semua mendapatkan hak yang sama dalam daulah Islam.
Sudah saatnya kaum muslim memandang bahwa Islam satu-satunya solusi terbaik untuk problematika kekerasan pelajar. Islam merombak sistem sosial, pendidikan, dan hukum ke nilai-nilai sahih yang menyelamatkan jiwa dan menjaga keamanan. Hanya Islam solusi tuntas untuk menjauhkan kekerasan dari peradaban manusia.
Mia
Bekasi [CM/Na]
Views: 5























One thought on “Pelajar Brutal, Islam Solusinya”
Ortu banyak yang bingung dan gagap menghadapi anak. Sistem pendidikan di negara kita tidak menyiapkan laki-laki &, perempuan jadi orang tua. Sistem sekuler kapitalisme memang tidak membangun manusia kecuali dilihat sebatas mahluk ekonomi