Santri, Kader Ulama Pembangun Peradaban Islam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Nur Rahmawati, S.H.
Chief Editor Cemerlang Media

CemerlangMedia.Com, EDITORIAL — Kementerian Agama Republik Indonesia mencatat data resmi per Oktober 2026 bahwa jumlah santri terverifikasi secara By Name By Address (BNBA) telah menembus angka 4.634.406 jiwa. Mereka tersebar di puluhan ribu pondok pesantren yang membentang luas dari ujung Sumatra hingga Papua. Angka yang amat fantastis ini menjadi latar belakang menggemanya peringatan Hari Santri Nasional 2026 di berbagai penjuru tanah air.

Pemerintah melalui Kementerian Agama secara resmi mengusung tema besar “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, sementara organisasi Nahdlatul Ulama mengangkat tajuk “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”. Momentum tahunan ini secara sistematis diarahkan untuk memperkuat posisi santri dalam kancah pembangunan nasional, mendorong mereka tampil sebagai generasi yang adaptif, kreatif, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki kemandirian ekonomi, serta teguh mengamalkan nilai-nilai kebangsaan.

Namun, di balik gegap gempita perayaan seremonial dan narasi besar pembangunan tersebut, terdapat pergeseran esensial yang sangat patut kita cermati secara kritis dan mendalam. Penekanan berlebihan yang menuntut santri untuk terserap penuh dalam arus pragmatisme ekonomi dan agenda pembangunan berkarakter sekuler berpotensi besar mendegradasi fungsi historis pesantren.

Peringatan Hari Santri belakangan ini kerap kali terjebak dalam pusaran rutinitas formalitas belaka, diisi sekadar oleh kompetisi olahraga, ajang pentas seni budaya, serta ragam pelatihan keterampilan praktis yang lambat laun seolah menggeser orientasi mendasar lembaga pendidikan Islam. Lebih jauh lagi, bingkai “pengamalan nilai agama dan kebangsaan” yang terus didengungkan hari ini terkesan kuat menggiring pemahaman agama ke dalam kungkungan nasionalisme spiritual yang sempit. Seolah-olah pencapaian tertinggi dari seorang penuntut ilmu syariat hanyalah menjadi pilar pelengkap bagi keberlangsungan sebuah negara-bangsa modern.

Jika kita menengok kembali khazanah sejarah panjang peradaban Islam, identitas hakiki dari seorang santri adalah sebagai tafaqquh fiddin, yakni para pencari ilmu agama yang ditempa secara mendalam untuk disiapkan menjadi kader ulama masa depan. Menyejajarkan tuntutan dan kualifikasi santri sekadar dengan tolok ukur kesiapan kerja atau kontribusi materiel dalam pembangunan ekonomi nasionalis merupakan bentuk penyempitan peran yang amat nyata. Ulama bukanlah sekadar teknokrat, birokrat, ataupun penggerak roda ekonomi semata, melainkan waratsatul anbiya (pewaris para nabi) yang bertugas menjaga kemurnian akidah, memimpin pandangan hidup masyarakat, meluruskan berbagai kebijakan penguasa, serta membimbing umat agar seluruh tata kehidupannya berjalan selaras dengan aturan Ilahi.

Visi dan kesadaran seorang santri tidak boleh dibatasi atau dikerdilkan hanya sebatas batas-batas teritorial geopolitik modern yang menyekat umat. Mereka seharusnya dipersiapkan sejak dini untuk menjadi calon pemimpin dunia yang memiliki cita-cita mulia mengembalikan kejayaan peradaban Islam di panggung global. Islam pada hakikatnya tidak pernah memandang umatnya terpecah-belah dalam kotak-kotak ikatan kebangsaan yang bersifat sektarian.

Nilai-nilai keimanan dan akidah Islam secara mendasar menyatukan seluruh kaum muslimin tanpa memandang sekat geografis maupun garis batas negara. Oleh karena itu, seluruh kurikulum, tradisi keilmuan, dan gemblengan di dalam pondok pesantren idealnya diarahkan untuk memberikan pemahaman utuh bahwa kejayaan peradaban Islam hanya akan terwujud secara nyata ketika hukum-hukum Allah diterapkan secara komprehensif dalam naungan satu kepemimpinan global (khalifah) serta satu institusi politik umat yang bersatu (Khil4f4h).

Upaya mengembalikan pesantren dan santri pada marwah serta fungsi aslinya merupakan sebuah kebutuhan yang sangat mendesak pada hari ini. Kita tidak boleh membiarkan potensi luar biasa dari jutaan kader muda Islam ini terdegradasi menjadi sekadar roda penggerak pendukung sistem kapitalisme bernuansa nasionalis. Santri harus secepatnya kembali pada jati diri mereka yang sebenarnya: menjadi benteng pertahanan keilmuan Islam, pembawa risalah dakwah yang tangguh, serta pelopor terdepan yang berjuang tanpa lelah demi tegaknya kembali peradaban Islam yang agung di muka bumi.

Redaksi
Kokoh dalam Literasi, Cemerlang Menyajikan Peristiwa Terkini [CM/Na]

Views: 2

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *