Oleh: Yudiana Utami
CemerlangMedia.Com, MEMOAR — Ada sosok asing yang bahkan tidak pernah berbalik untuk sekadar menyapaku atau mengenali keberadaanku. Selama ini… aku telah menjadi pelukis ilusi yang tekun.
Aku menangkap bayang-bayang senyumnya yang dingin, lalu dengan bodohnya mengabadikan senyuman yang tidak pernah ditunjukkan kepadaku itu menjadi bait-bait puisi yang megah.
Demi membuktikan eksistensi rasa yang sepi ini, aku nekat mendaftarkan diri untuk mengikuti sebuah lomba membaca puisi. Di dalam naskah yang kubawa, tersusun rapi huruf demi huruf yang membentuk namanya yang abadi.
Sebelum hari pelaksanaan, kuceritakan niat ini kepada sahabat dekatku. Dengan mata yang berbinar tulus, dia langsung mendukungku dan memberikan semangat yang sangat berarti.
Dukungan itu menjadi semangat yang menopang kakiku hingga tiba saat yang paling mendebarkan. Saat namaku dipanggil, langkahku terasa begitu berat.
Aku berjalan naik ke atas panggung dengan seluruh tubuh yang gemetar hebat. Rasa takut, cemas, dan malu bercampur aduk menjadi satu.
Namun, di tengah kepungan rasa panik yang nyaris membuatku runtuh, aku memberanikan diri menoleh ke kiri dan ke kanan, memindai barisan penonton di bawah sana. Tepat di baris penonton, mataku menangkap tiga sosok yang sangat kukenal duduk dengan khidmat.
Mereka tidak sedang melihat sekeliling, melainkan menatap lurus ke arahku. Di wajah mereka, terukir senyum bangga yang begitu lebar dan tulus, sebuah ekspresi yang belum pernah kulihat dari sosok asing yang selama ini kupuja.
Ada Mira dan Desy yang meyakinkan diriku dengan senyum yang tak pudar. Melihat kehadiran dan tatapan penuh keyakinan mereka, hatiku yang tadinya beku mendadak hangat.
Rasa gemetar itu perlahan mereda, digantikan oleh sebuah kekuatan baru. Aku membalas senyuman mereka dengan tulus, menarik napas dalam-dalam, dan mulai menggaungkan bait demi bait puisi persembahanku dengan suara yang lantang dan penuh penjiwaan.
Aku melangkah turun dari panggung dengan perasaan lega yang luar biasa. Di bawah panggung, ketiga orang tersebut sudah menunggu dan langsung menyambutku dengan pelukan serta senyum yang begitu hangat.
“Aku bangga banget sama kamu!” Ujar salah satu dari mereka sambil menepuk pundakku.
“Keren dan bagus banget penampilanmu tadi. Wihh mantapp, Naaaa,” timpal yang lain.
Di momen itulah, kata “seharusnya” yang selama ini merantai jiwaku, perlahan-lahan luruh dan hancur menjadi abu. Sosok yang kuabadikan tidak pernah memberikanku semangat, apalagi menonton.
Tetapi… momen bersama sahabatku tidak pernah kuabadikan, apalagi menyusun nama mereka menjadi bait-bait puisi. Padahal… mereka selalu hadir dan memberikan semangat kepadaku, meskipun di titik terakhirku.
Lomba itu menjadi saksi bisu runtuhnya sebuah obsesi semu. Selama ini, aku terjebak dalam labirin sepi, mengemis perhatian dari jiwa yang tak pernah peduli.
Kini, mataku terbuka lebar. Ketulusan nyata tidak butuh pembuktian rumit lewat bait-bait. Kehadiran ketiga sahabatku di garis depan adalah puisi terbaik yang ditulis oleh takdir. Mereka adalah pelukan hangat yang menyembuhkan segala luka salah alamat.
Saat aku pulang bersama sahabatku setelah mengikuti lomba itu, aku tersadar, selama ini doaku melesat, tulisanku tersesat. Aku sibuk mempertanyakan kekuranganku hingga aku tidak sadar bahwa selama ini mereka selalu menerima diriku apa adanya.
Aku melepaskan cengkeraman masa lalu yang melelahkan. Langkah kakiku kini terasa jauh lebih ringan, meninggalkan bayang-bayang dingin yang tidak pernah searah.
Cinta yang sejati rupanya tidak menuntut untuk menjadi sempurna atau mengemis ruang dalam ingatan seseorang. Cinta itu justru hadir dengan sederhana melalui tawa, waktu, dan kesetiaan yang tidak pernah absen dari ketiga sahabatku.
Aku berjanji pada diri sendiri untuk berhenti mengabadikan asingnya orang lain. Mulai hari ini, setiap goresan penaku hanya akan merayakan mereka yang selalu memilih untuk tinggal dan memeluk rapuhnya jiwaku. [CM/Na]
Views: 5






















