Oleh: Desy Putri Rahayu
CemerlangMedia.Com, CERPEN — Di sebuah semenanjung, di bawah langit yang mulai berwarna jingga, tampak seorang gadis tengah duduk di sudut bebatuan pantai. Penampilannya begitu sempurna dengan perpaduan warna yang senada. Namun, ada sesuatu yang tidak seirama dengan penampilannya sore itu, yaitu bentuk raut wajahnya.
Ya, dia adalah sahabatku. Seorang gadis dengan nama yang begitu indah. Aku biasa memanggilnya Ayla.
Sejak aku menjemputnya di rumah hingga kami tiba di pantai ini, aku merasa ada sesuatu yang berbeda darinya. Senyumnya tidak seperti biasanya. Tatapannya sesekali menerawang jauh, seolah ada sesuatu yang sedang memenuhi pikirannya.
“Ayla, sejak aku menjemputmu tadi hingga sekarang, sepertinya ada sesuatu yang berbeda dari dirimu. Kamu kenapa? Sedang ada masalah, ya? Coba ceritakan kepadaku, sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Tidak apa-apa kok, Rintan. Aku hanya sedang tidak enak badan.”
Dia memang biasa memanggilku Rintan.
Aku menatapnya sejenak. Rasanya aku mengenal betul bagaimana ekspresi wajahnya ketika sedang menyembunyikan sesuatu.
“Kamu jujur saja kepadaku. Kita sudah berteman cukup lama, dan aku tahu seperti apa dirimu ketika sedang menghadapi masalah,” kataku dengan nada yang sedikit serius.
Ayla terdiam sejenak. Ia menarik napas panjang, kemudian mulai membuka suaranya.
“Hmm… iya, Rintan. Kamu benar. Sebenarnya aku sedang memiliki sedikit masalah dengan keluargaku di rumah, terutama mengenai hubunganku dengan ibu.”
Suaranya mulai melemah.
“Aku sedih, Rintan. Kenapa ibu selalu membentak dan memarahiku, bahkan ketika aku hanya melakukan kesalahan kecil? Terkadang, ibu mengatakan hal-hal yang sebenarnya sangat menyakitkan bagiku. Aku merasa sedih mendengarnya. Dan terkadang, tanpa sadar, aku pun membalas perkataannya hingga akhirnya kami terlibat perdebatan.”
Ia menundukkan kepalanya.
.
“Aku selalu merasa menjadi anak yang gagal. Aku takut Allah tidak menyukaiku dan menakdirkanku menjadi anak yang durhaka. Aku sama sekali tidak ingin hal itu terjadi, Rintan.”
Ayla bercerita dengan mata berkaca-kaca. Suaranya terdengar begitu pelan, seolah ia sedang berusaha menahan sesuatu yang sejak tadi ingin tumpah dari kedua matanya.
“Oh, ternyata begitu yang sedang kamu rasakan.”
Aku menghela napas pelan sebelum melanjutkan perkataanku.
“Aku bisa memahami betapa beratnya perasaanmu, Ayla. Namun, ada satu hal yang ingin aku sampaikan. Menurutku, kamu patut menghargai dirimu sendiri karena kamu masih memiliki keinginan yang begitu kuat untuk menjadi anak yang baik bagi orang tuamu. Kamu merasa bersalah ketika menyadari telah menyakiti ibumu. Itu menunjukkan bahwa kamu masih peduli dan ingin memperbaiki diri.”
Aku berhenti sejenak, lalu kembali menatapnya.
“Tetapi, Ayla, aku tidak sedang membenarkan semua yang terjadi di antara kalian. Kita memang diperintahkan untuk berbakti kepada orang tua, berbicara dengan baik, dan berusaha menjaga kelembutan sikap kepada mereka. Namun, aku juga tahu bahwa terkadang tidak mudah melakukan semua itu ketika hati kita sendiri sedang terluka.”
Ayla mengangkat wajahnya.
“Tapi, Rintan, kenapa begitu sulit bagiku untuk tidak membalas perkataannya? Terkadang, apa yang ibu katakan benar-benar menyakitiku. Dan kenapa ibu tidak seperti ibu-ibu lainnya yang begitu lembut kepada anaknya? Bahkan, tidak pernah merasa canggung untuk mengungkapkan rasa sayang kepada anaknya?”
Aku tersenyum tipis. Bukan karena menganggap perasaannya sederhana, melainkan karena aku ingin ia tahu bahwa aku sedang mendengarkannya.
“Ayla, setiap orang tua memiliki karakter dan cara yang berbeda dalam menunjukkan kasih sayang. Mungkin ibumu bukan seseorang yang terbiasa mengungkapkan rasa sayang melalui kata-kata lembut atau pelukan. Namun, bukan berarti kita bisa langsung menyimpulkan bahwa ia tidak menyayangimu.”
Aku kemudian memandang laut yang terbentang di hadapan kami.
“Kamu tahu, Ayla? Selama aku mengenalmu, aku melihat kamu sebagai seorang perempuan yang begitu kuat dan mandiri. Kamu berusaha menjaga dirimu, menutup aurat dengan baik, dan berusaha menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang Allah perintahkan.”
Aku kembali menoleh kepadanya.
“Dan mungkin, ada banyak hal yang tidak pernah kamu ketahui tentang ibumu. Kamu tidak tahu bagaimana ia memikirkanmu ketika kamu sedang tidak bersamanya. Kamu juga tidak tahu doa-doa apa yang ia panjatkan untukmu dalam sujud di sepertiga malamnya. Bisa jadi, ada begitu banyak doa yang diam-diam ia panjatkan, memohon agar Allah senantiasa menjaga dan membimbingmu.”
Aku tersenyum.
“Namun, Ayla, ingatlah satu hal. Tidak ada manusia yang sempurna. Ibumu tidak sempurna, begitu pula dirimu dan aku. Kita semua masih belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik.”
“Jadi, jangan terlalu keras kepada dirimu sendiri. Ketika kamu melakukan kesalahan, belajarlah untuk memperbaikinya. Jika kamu merasa telah menyakiti ibumu, jangan ragu untuk meminta maaf. Dan ketika perkataannya menyakitimu, berusahalah menahan diri, memilih waktu yang tepat untuk berbicara, serta menyampaikan perasaanmu dengan cara yang baik.”
Aku menggenggam tangannya sebentar.
“Teruslah berusaha menjadi hamba yang Allah cintai, Ayla. Jangan sampai kesalahan yang pernah kamu lakukan membuatmu merasa tidak pantas untuk mendapatkan kasih sayang Allah. Justru, jadikan rasa bersalah itu sebagai alasan untuk terus memperbaiki diri. Aku percaya, setiap usaha baik yang kamu lakukan karena Allah tidak akan pernah sia-sia.”
Ayla terdiam. Ia menatapku dengan mata yang masih berkaca-kaca.
“Rintan…”
“Terima kasih atas semua nasihatmu. Aku benar-benar bersyukur memiliki teman sepertimu.”
Ia tersenyum kecil sebelum kembali melanjutkan perkataannya.
“Sekarang aku mulai memahami bahwa tidak semua orang tua mampu menunjukkan kasih sayangnya dengan cara yang sama. Aku juga sadar bahwa tidak ada manusia yang sempurna, termasuk diriku sendiri. Mungkin selama ini aku terlalu berfokus pada hal-hal yang menyakitkan hingga lupa melihat sisi lain yang mungkin belum aku pahami.”
Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum.
“Aku ingin belajar menjadi anak yang lebih baik. Bukan hanya karena ingin mendapatkan perlakuan yang baik dari ibu, tetapi karena aku ingin Allah meridai setiap langkahku. Aku ingin belajar bersikap baik karena Allah mencintai kebaikan, bukan semata-mata karena mengharapkan balasan dari manusia.”
Tanpa terasa, air matanya kembali jatuh. Kali ini, ia mendekat dan memelukku dengan begitu erat.
“Terima kasih sekali lagi, Rintan.”
Aku membalas pelukannya.
“Iya, Ayla. Sama-sama. Aku juga bersyukur memiliki sahabat sepertimu. Kamu adalah perempuan yang kuat dan mandiri. Bahkan, ada banyak hal yang juga aku pelajari darimu.”
Sore itu, langit perlahan kehilangan warna jingganya. Matahari makin tenggelam di balik cakrawala, menyisakan semburat cahaya yang perlahan memudar.
Percakapan kami pun berakhir seiring datangnya senja. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari Ayla. Wajahnya yang sejak tadi terlihat murung, kini kembali dihiasi senyuman.
Kami pun beranjak dari bebatuan pantai dan pulang bersama. Sepanjang perjalanan, canda dan tawa kembali menghiasi kebersamaan kami.
Dan sore itu, aku kembali menyadari bahwa terkadang, seseorang tidak membutuhkan jawaban atas semua masalahnya. Ia hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan, memahami, dan mengingatkannya untuk kembali melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas.
Sebab, tidak semua luka dapat disembuhkan dalam satu percakapan. Namun, sebuah nasihat yang tulus mungkin bisa menjadi awal bagi hati yang sedang belajar untuk kembali menguat. [CM/Na]
Views: 4






















