Oleh: Dina Fahriani
CemerlangMedia.Com, MEMOAR — Namaku Dina, seorang remaja sekolah menengah atas yang sedang belajar mengarungi riak masa muda. Di usiaku saat ini, dinamika kehidupan sekolah—mulai dari tantangan akademik, persaingan, hingga urusan personal—sering kali menguji ketahanan mentalku. Namun, aku memilih untuk menjadi pribadi yang selalu berani mencoba dan belajar berdiri di atas kaki sendiri. Aku sadar bahwa masa remaja adalah proses pembentukan diri. Ketimbang bergantung pada rasa nyaman yang diberikan orang lain, aku ingin membentuk pijakan hidupku sendiri dengan keberanian dan usaha pantang menyerah.
Ada keberanian unik yang baru bisa ditemukan ketika semua riuh tepuk tangan mereda dan semua sandaran perlahan menarik diri. Berdiri di atas kaki sendiri bukan berarti tidak membutuhkan orang lain, melainkan keputusan sadar untuk tidak lagi menggantungkan keutuhan diri pada kepastian yang dimiliki orang lain. Saat langkah pertama diambil tanpa ada tangan yang menuntun, rasa takut dan kebebasan hadir secara bersamaan dalam porsi yang sama besarnya.
Di momen-momen sunyi itulah, saya belajar mengenali ketukan langkah kaki sendiri. Menjadi tumpuan bagi diri sendiri mengajarkan bahwa kerapuhan tidak harus disembunyikan, melainkan diakui sebagai bagian dari proses pembentukan fondasi yang lebih kokoh. Pada akhirnya, mampu berdiri sendiri memberikan keyakinan paling berharga bahwa ke mana pun angin berhembus, saya memiliki akar yang cukup kuat untuk tetap tegak.
Bayangan di bawah terik sendiri, bukan berarti sepi. Kata-kata itu yang pertama kali terlintas di kepala ketika riuh tepuk tangan malam itu benar-benar padam, menyisakan derap langkahku seorang diri di trotoar jalan pulang. Semua sandaran yang dulu terasa begitu pasti perlahan menarik diri, memberi ruang bagi kenyataan baru yang selama ini kutolak: aku harus berjalan tanpa pegangan.
Berdiri di atas kaki sendiri ternyata bukan tentang menjadi kuat sepanjang waktu, melainkan keputusan sadar untuk tidak lagi menggantungkan keutuhan diri pada validasi atau kepastian yang dimiliki orang lain. Saat langkah pertama diambil tanpa ada tangan yang menuntun, rasa takut dan kebebasan hadir secara bersamaan dalam porsi yang sama besarnya. Ada kalanya angin berhembus terlalu kencang, membuat lutut terasa lemas dan keraguan merayap pelan. Namun, di momen-momen sunyi itulah, aku justru mulai belajar mengenali ketukan langkah kakiku sendiri.
Menjadi tumpuan bagi diri sendiri mengajarkan bahwa kerapuhan bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan rapat-rapat di balik senyum palsu. Kerapuhan adalah bagian dari proses, sebuah pengingat bahwa fondasi yang kokoh tidak pernah dibangun dari permukaan yang mulus, melainkan dari retakan-retakan yang berhasil disatukan kembali dengan kesadaran. Setiap kali aku harus mengambil keputusan sulit tanpa tempat bertanya, setiap kali aku harus menghadapi kekecewaan sendirian tanpa pundak untuk bersandar, di situlah lapisan baja dalam diriku terbentuk.
Pada akhirnya, mampu berdiri sendiri memberikan keyakinan paling berharga yang tidak bisa dibeli oleh apa pun. Ke mana pun angin berhembus, ke arah mana pun jalan hidup membawaku, aku memiliki akar yang cukup kuat untuk tetap tegak. Terik matahari boleh membakar pundak, bayanganku boleh memendek, tetapi aku tahu persis siapa yang memimpin perjalanan ini. Diriku sendiri. [CM/Na]
Views: 6






















