Oleh: Bunga Khairina
CemerlangMedia.Com, MEMOAR — Saat nama saya dipanggil sebagai juara, jantung saya tidak berdegup karena bangga. Ia berdegup karena panik yang luar biasa.
Padahal awalnya, semuanya terasa begitu indah. Ketika baru memasuki bangku SMP, saya berhasil meraih peringkat tiga besar untuk pertama kalinya dalam hidup. Rasa senang membanjiri dada saya. Saat itu, saya mengira pencapaian tersebut adalah awal mula yang baik untuk masa depan saya.
Namun, siapa yang menyangka bahwa momen manis itu justru menjadi gerbang bagi ketakutan besar yang membuat saya tidak ingin menjadi juara lagi. Jujur, jauh di dalam lubuk hati, saya sangat menyukai kemenangan.
Tapi, rasa takut kini jauh lebih berkuasa. Ketakutan itu lahir dari tingginya harapan orang tua saya. Semua bermula saat posisi saya di peringkat ketiga tergeser. Peringkat saya turun menjadi posisi keempat.
Saya pulang ke rumah dengan perasaan sedih yang bercampur aduk. Sesampainya di rumah, saya memberanikan diri untuk memberi tahu kedua orang tua tentang penurunan peringkat tersebut. Namun, respons yang saya terima justru di luar dugaan.
Sertifikat penghargaan yang saya bawa dengan susah payah dilemparkan begitu saja ke lantai. Hati saya langsung patah melihat lembaran kertas yang saya perjuangkan kini tergeletak begitu saja di lantai. Kejadian itu terasa begitu sunyi, tetapi dampaknya menghancurkan sesuatu di dalam diri saya.
Sejak hari itu, saya mulai takut untuk menjadi juara. Saya takut akan mengecewakan mereka dan terlanjur takut untuk sakit hati lagi jika kegagalan serupa terulang kembali. Hingga akhirnya, tibalah saat saya memasuki kelas dua SMP.
Awalnya saya sudah membulatkan tekad untuk tidak mengejar juara lagi, tetapi hati kecil saya rasanya bimbang sekali. Memasuki semester pertama di kelas dua, keraguan itu terjawab. Saya kembali meraih peringkat ketiga.
“Wah, posisi saya kembali,” bisik saya dalam hati.
Ada kesenangan tersendiri yang saya bawa pulang hari itu dan untungnya, kepulangan saya disambut dengan baik. Kejutan yang lebih besar menanti di semester kedua. Saya berhasil menduduki peringkat pertama! Saya benar-benar tidak menyangka. Saya? Peringkat pertama? Rasanya mustahil.
Saat wali kelas mengumumkannya di depan semua orang, saya berjalan ke depan dengan campuran rasa bangga, haru, dan tidak percaya. Kemenangan ini membuat saya luar biasa bahagia, begitu pula dengan kedua orang tua saya.
Sayangnya, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Memasuki kelas tiga SMP, saya kembali terjatuh. Di semester pertama, peringkat saya merosot tajam ke posisi keenam. Teman-teman terkejut, terlebih lagi saya sendiri. Dengan berat hati, saya terpaksa menerima kenyataan pahit itu.
“Oh Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?” ratap saya kala itu.
Pulang membawa kekalahan, saya hanya berani berterus terang kepada Ibu. Saya memilih menyembunyikan kabar tersebut dari Ayah. Berbulan-bulan lamanya rahasia itu tersimpan hingga akhirnya Ayah baru mengetahui penurunan peringkat saya saat liburan sekolah usai. Untungnya Ayah tidak marah. Saya mengembuskan napas lega dan sangat bersyukur akan hal itu.
Tibalah semester kedua, ujian terakhir di bangku SMP. Saya terus mewanti-wanti diri sendiri, apakah saya bisa kembali ke posisi tiga besar atau tidak.
Hari perpisahan pun tiba. Orang tua, guru, teman-teman seangkatan, hingga adik kelas berkumpul memenuhi aula. Saya senang karena ini adalah kesempatan terakhir untuk bertemu dengan teman-teman. Dengan balutan kebaya yang indah dan riasan wajah yang cantik, semua orang tampak begitu menawan hari itu.
Sambil menunggu pengumuman juara, beberapa teman menampilkan pertunjukan puisi dan lagu. Rasa sedih, senang, dan haru melebur menjadi satu. Tidak lama kemudian, momen yang mendebarkan itu tiba. Saya dan teman-teman menunggu dengan jantung yang berdegup kencang.
Juara ketiga dari kelas saya disebutkan, dan itu bukan nama saya. Harapan saya menipis. Lalu, juara kedua diumumkan. Dan ternyata, nama sayalah yang dipanggil. Saya berhasil menempati peringkat kedua.
Dengan penuh rasa bangga, saya melangkah naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan. Dari kejauhan, saya bisa melihat tatapan penuh kebanggaan dari Ibu. Rasanya sungguh luar biasa mendapati diri saya ditatap dengan penuh rasa bangga seperti itu.
Kini, setelah semua riak perjalanan itu berlalu, saya akhirnya mengerti. Semua pasang surut di masa SMP dahulu adalah proses yang memang harus saya lewati demi kebaikan diri saya sendiri.
Saya beruntung memiliki Ibu yang selalu mendukung tanpa syarat. Tentang Ayah, saya kini sadar bahwa di balik didikannya yang keras dan sempat membuat saya takut, beliau sebenarnya hanya ingin saya tumbuh menjadi pribadi yang tangguh—seseorang yang bisa berdiri tegak dan bangga atas prestasinya sendiri. [CM/Na]
Views: 8






















