Kemerdekaan Hakiki Keluarga Muslim

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Siti Aisah

CemerlangMedia.Com — Banyak dikabarkan, baik oleh media yang ada dalam layar kaca ataupun di lingkungan sekitar kita, seseorang murtad atau perkataan anak- -anak yang dianggap lumrah alias biasa, seperti “Saya Kristen”, padahal mereka adalah muslim. Apakah tidak ada nasihat dari orang tua yang notabenenya muslim untuk mempertahankan akidahnya?

Demikianlah, keluarga Indonesia saat ini banyak yang meniru potret keluarga liberal. Dengan dalih hak asasi anak, orang tua membiarkan anaknya berperilaku di luar Islam. Bahkan, tak sedikit keluarga, phobia Islam alias takut dengan ajaran Islam.

Tidak merdeka dalam menjalankan rumah tangga berdasar syariat karena saking tidak pahamnya Islam. Terpengaruh dengan model keluarga liberal.

Kemerdekaan hakiki bagi keluarga muslim bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, melainkan penghambaan total hanya kepada Allah Swt.. Keluarga muslim yang merdeka adalah mereka yang hidupnya diatur sepenuhnya oleh syariat Islam, bukan oleh hawa nafsu, pemikiran liberal, atau sistem buatan manusia yang sekuler.

Keluarga yang merdeka, terbebas jiwa dan raga dari penghambaan kepada makhluk (dunia, harta, jabatan, hawa nafsu) menuju penghambaan yang murni hanya kepada Allah Swt.. Keluarga yang berpegang teguh pada tauhid dan syariat Allah, menciptakan keharmonisan, serta hidup berdasarkan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunah.

Bagaimana Gambaran Ideal Keluarga Muslim yang Merdeka?

Pertama, merdeka dari pendangkalan akidah.
Keluarga menjadi benteng utama bagi seluruh anggotanya dalam menjaga keimanan. Jangan sampai ada anggota keluarga menyimpang dari penghambaan kepada Allah Swt.. Keluarga selalu mengingatkan agar beribadah dan taat syariat. Keluarga mengajak anggotanya ke surga, bukan membiarkan atau bahkan menjerumuskan ke neraka.

Kemerdekaan akidah tercapai ketika keluarga menjaga akidah tetap murni (tauhid) dan terhindar dari pemahaman yang merusak, seperti syirik, liberalisme, atau pendangkalan iman.

Orang tua bertanggung jawab menjaga akidah anak-anak mereka di era teknologi dengan membatasi konten yang merusak dan mendampingi penggunaan perangkat elektronik.

Kemerdekaan akidah didukung dengan menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis (sakinah) dan membentengi diri dari lingkungan yang rusak.

Kedua, merdeka dari racun-racun sekularisme, pluralisme, dan liberalisme.
Keluarga muslim memiliki pola pikir yang khas Islam, tidak mendukung konsep sekularisme, pluralisme, dan liberalisme (sipilis). Keluarga muslim rajin mengikuti kajian Islam, bukan menghindari. Sebaliknya, justru waspada terhadap penyebaran virus sipilis yang merusak pola pikir Islam.

Ajaran sipilis itu radikal karena menjauhkan keluarga muslim dari ajaran Islam. Meracuni kaum muslim untuk tidak terikat pada syariat Islam dengan dalih kebebasan. Membelokkan identitas muslim dari Islam kafah menjadi moderat.

Racun sekularisme memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari (politik, ekonomi, sosial, pendidikan). Keluarga muslim yang sekuler hanya menerapkan Islam saat salat, tetapi tidak dalam mengatur rumah tangga atau mencari nafkah.

Kemerdekaan hakiki adalah menjadikan syariat Islam sebagai satu-satunya standar dalam mengambil keputusan rumah tangga, mendidik anak, dan mengelola harta. Agama adalah pusat kehidupan.

Racun pluralisme merupakan paham yang menganggap semua agama sama, benar, dan menuju Tuhan yang sama. Ini merusak akidah karena menghilangkan konsep truth claim (kebenaran mutlak) Islam.

Kemerdekaan hakiki adalah memiliki keyakinan kukuh (izzah) bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang diridai Allah tanpa harus membenci individu penganut agama lain dalam konteks sosial. Namun, tetap berpegang teguh pada akidah Islam.

Racun liberalisme adalah menempatkan akal di atas wahyu, kebebasan individu yang kebablasan, serta menolak aturan agama yang dianggap mengekang (seperti hijab, aturan pergaulan, atau waris).

Kemerdekaan hakiki adalah tunduk sepenuhnya kepada aturan Allah (nash) dan menjadikannya batasan dalam berperilaku. Keluarga muslim merdeka dari keinginan hawa nafsu yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Menanamkan akidah Islam yang lurus sejak dini kepada anak dan pasangan. Mengikuti kajian Islam intensif, mempelajari Islam secara komprehensif (kaffah) untuk membentengi diri dari pemikiran menyimpang, dan penerapan syariat di rumah untuk membangun keluarga yang taat dengan aturan Islam dalam segala hal. Jangan sekali lagi dibelokkan identitas muslim.

(bersambung)

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 21

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *