Penulis: Rizki Ika Sahana
Kemegahan dalam perhelatan acara pernikahan, meski tidak dilarang, seharusnya tidak juga menjadi tujuan yang dikejar mati-matian. Sebagai muslim yang menjadikan rida Allah cita-cita tertinggi, maka semestinya kita lebih menyibukkan diri dalam amal yang bernilai pahala.
CemerlangMedia.Com — Semua mata nyaris tertuju pada pernikahan Al Ghazali dan Alyssa Daguise yang degelar beberapa waktu lalu. Pernikahan yang mengusung konsep ‘Javanese Royal Wedding’ dengan semua kemegahannya itu, mengundang siapa pun berdecak kagum. Kesan glamor dipadu dengan gemerlap kemewahan, membuat banyak hati terpikat. Wajar jika ramai calon pasangan pengantin mengaku terinspirasi dan bercita-cita mewujudkannya.
Pesta Mewah, Bolehkah?
Dalam agama (Islam), tidak ada standar baku terkait budget untuk pesta pernikahan. Namun yang pasti, konsep pesta harus terikat dengan tata cara syariat, seperti tidak boleh ada ikhtilat (campur baur antara laki-laki dengan perempuan), tidak tabarruj di hadapan laki-laki ajnabi (asing), tidak boleh menghidangkan makanan atau minuman yang diharamkan, tidak mengganggu hak-hak umum, juga tidak menimbulkan mudharat atau bahaya bagi siapa pun.
Besar kecilnya budget tidak lantas menjadi standar sebuah pesta bisa digelar atau tidak. Namun, yang terpenting adalah niat ikhlas untuk memberi sesama. Sebab, harta dan kebahagiaan adalah dua diantara banyak hal yang jika dibagikan dengan hati lapang dan keikhlasan, maka akan Allah tambah kenikmatannya.
Bahan Renungan
Perlu menjadi refleksi, apakah pesta mewah bisa mengantarkan kepada sakinah? Sebab, sering kali prioritas khalayak jatuh pada kilap kemewahan dibanding persiapan inti mengarungi bahtera rumah tangga.
Meski benar bahwa bermegah-megah dalam merayakan pernikahan tidak dilarang —sepanjang dengan niat dan cara yang benar, tetapi jangan sampai semua energi tercurah untuk prosesi yang tidak wajib itu sehingga berakhir dengan melalaikan yang esensi. Sesungguhnya, pernikahan adalah jalan yang panjang, butuh persiapan matang serta kesungguhan, bukan perayaan sekejap mata yang selesai sesaat setelah perhelatan.
Oleh karenanya, jangan sampai kita terjebak dalam lingkaran pamer status sosial yang tidak pernah final. Hajatan yang dalam pandangan orang mungkin tampak luks, seharusnya tidak membelokkan kita dari niatan awal, yakni semata-mata melaksanakan sunah, meng-i’lankan pernikahan, berbagi kebahagiaan dan sebagian harta kepada karib kerabat dan sesama.
Pernikahan dalam Perspektif Islam
Dalam Islam, pernikahan tidak mensyaratkan mapan secara finansial. Akan tetapi, pernikahan mengandung konsekuensi tanggung jawab kepemimpinan kepada calon suami—yang di dalamnya termasuk amanah nafkah yang makruf bagi anak dan istri, serta tanggung jawab pengurusan rumah tangga dan amanah keibuan kepada calon istri. Tanggung jawab ini tidak boleh diabaikan, sebab bagian dari perintah dan larangan Allah.
Oleh karena itu, calon suami sekaligus calon istri harus mempersiapkan semua itu dengan sebaiknya, termasuk bagaimana jika nanti terjadi guncangan rumah tangga yang berpotensi akan mengganggu pelaksanaan tanggung jawab masing-masing. Respons apa yang harus dilakukan oleh suami atau istri. Inilah yang seharusnya menjadi bahan pembelajaran serta penguatan sejak sebelum menikah.
Pernikahan dalam Bayang-Bayang Kapitalisme
Di alam kapitalisme, ikatan pernikahan yang sakral telah kehilangan makna. Kapitalisme memandang pernikahan dengan kacamata ekonomi saja. Tidak lebih. Akibatnya, pernikahan dijadikan sebagai komoditas yang menguntungkan.
Berbagai konsep pernikahan pun ditawarkan dengan harga yang bervariasi tergantung fasilitas dan kemewahan yang diinginkan. Bahkan, konsep paling minimalis sekalipun bisa dibandrol dengan harga yang tidak masuk akal dengan narasi cantik yang berbau gimmick untuk menarik calon pengantin.
Mulai dari gedung, dekorasi, outfit, make up, fotografi, hiburan, hingga jamuan bagi para tamu, semuanya menjadi bagian dari industri yang menggiurkan. Even organizer pun mewabah, menyambut peluang emas pundi-pundi rupiah yang menggairahkan. Terlebih, pernikahan bukanlah fenomena musiman, kebutuhannya akan terus ada sepanjang masa.
Pada akhirnya, banyak yang jatuh terlilit utang karena memaksakan diri menyelenggarakan pesta wah dengan kemampuan pas-pasan. Jamak pula yang menunda menikah karena memperjuangkan standar pesta mewah sebagai preferensinya.
Kapitalisme telah merusak esensi pernikahan yang mulia sebatas pesta megah yang mampu menghipnotis khalayak. Kapitalisme memalingkan fokus calon pasangan suami-istri untuk menghadirkan gemerlap kemegahan semata dibanding membangun komitmen untuk hidup bersama dalam ketaatan.
Meraih Pernikahan Barakah
Bukan hal yang mustahil bagi siapa pun untuk meraih pernikahan barakah dengan S dan K tentunya. Sebab, bukan hanya pernikahan apa pun itu jika dijalani sesuka hati tanpa rambu-rambu dan batasan yang berfungsi membuat tertib, tentu akan berakhir dengan kegagalan dan juga kesengsaraan.
Pernikahan membutuhkan pengaturan yang datang dari Sang Pencipta, bukan dari suami atau istri, bukan pula dari kesepakatan keduanya, seperti yang hari ini populer dengan istilah perjanjian pra nikah, misalnya. Sebab, pernikahan adalah janji suci di hadapan Ilahi untuk menjalankan loyalitas terhadap keyakinan, bukan semata janji setia kepada pasangan.
Oleh karena itu, pernikahan dalam Islam adalah amalan bernilai ibadah. Suami akan diberi pahala karena menjalankan peran dan tanggung jawab dengan sebaiknya. Demikian pula sebaliknya, akan berdosa jika meninggalkan peran dan tanggung jawabnya di dalam rumah tangga. Istri pun demikian. Sama persis. Satu-satunya yang akan mengantarkan kepada pernikahan yang barakah, pernikahan yang di dalamnya melahirkan kebaikan demi kebaikan adalah terikat kepada syariat Allah.
Khatimah
Kemegahan dalam perhelatan acara pernikahan, meski tidak dilarang, seharusnya tidak juga menjadi tujuan yang dikejar mati-matian. Sebagai muslim yang menjadikan rida Allah cita-cita tertinggi, maka semestinya kita lebih menyibukkan diri dalam amal yang bernilai pahala. Dalam konteks pernikahan, yakni mempersiapkan bekal ilmu, kekuatan mental, sekaligus takwa. Bukan berlomba dalam kemewahan yang sama sekali tidak dituntut oleh Islam. Wallahu a’lam. [CM/Na]
Views: 97






















