#30HMBCM
Penulis: Titin Kartini
Bab 6 Ayah, Aku Bangga Padamu
CemerlangMedia.Com — “Saya heran dengan Kak Caca, dari SD sampai sekarang SMP, mondok lagi, tetapi ke mana-mana pasti dianterin kamu, terus kalau salam itu tidak cukup satu kali, pasti beberapa kali. Beda sekali dengan anak saya, kalau pun mau dianterin, jangan terlalu dekat dengan tempat tujuan, salam pun sewajarnya, sepertinya dia malu punya Bapak seperti saya.” Cerita teman suami tentang putrinya.
Alhamdulillah, salah satu nikmat yang tak terkira adalah memiliki anak-anak yang salihah. Dari kecil, Tiara begitu dekat dengan sang ayah, meskipun ia anak perempuan. Hal tersebut aku pelajari dari almarhum bapakku, anak-anak gadisnya semua dekat dengan bapak dan itu kuterapkan pada Tiaraku.
Suami pintar mengaji, azan, bahkan menjadi imam salat di musala tempat kami berada. Hal tersebut ia bawa ke tempat kerjanya. Ia kerap menjadi muazin atau imam salat menggantikan marbot masjid yang terkadang ada keperluan keluar masjid membuat atasannya senang. Ada rasa kagum pada suami yang hanya OB, tetapi bisa mengaji.
“Eh, Kang Iwan, masya Allah. Ini teman saya ngaliwet, Pak,” ucap seseorang kepada atasan suami. Pada saat itu, suamiku sedang mengantarkan minuman ke ruangan atasannya. Tamu tersebut merupakan guru suami.
Bahkan, atasan suami pernah memberikan tas sekolah untuk Tiara. Mendapatkan perlakuan seperti itu, menimbulkan rasa iri di salah satu temannya sehingga ada saja hal-hal yang membuat suami tak betah bekerja.
“Kalau kerja seperti ini, Ayah tak suka, Bu. Mereka mulai dengan hal-hal kotor yang tidak sepatutnya dilakukan sesama teman,” ungkapnya suatu hari.
Dari rentetan peristiwa tersebut, akhirnya suami memutuskan keluar dari pekerjaan. Sempat menganggur selama dua bulan sampai akhirnya ikut kembali berjualan koran. Lagi-lagi, penjualan koran tidak seperti dahulu, bahkan makin tidak dibutuhkan karena semua informasi dengan cepat didapatkan melalui gadget.
Pertolongan datang dari Allah, suami diterima bekerja di pondok tempat Kakak Tiara mondok. Suami bekerja di sana sebagai OB seperti dahulu.
“Ibu, sepertinya Kakak Tiara malu melihat Ayah bekerja sebagai OB pondok,” ungkap suami karena Tiara kerap menghindar jika melihat ayahnya bekerja.
Hal ini aku sampaikan pada Tiara melalui sambungan telepon dan ia jawab melalui sebuah surat.
[Assalamualaikum, Ayah. Terkait pekerjaan Ayah, Kakak mohon maaf jika Ayah tersinggung dengan sikap Kakak. Kakak senang, Ayah bekerja di pondok. Artinya, Kakak bisa bertemu Ayah setiap hari. Namun, ketika Kakak melihat Ayah bekerja seperti itu -potong rumput, bawa sampah, atau disuruh apa saja, jujur, Kakak tak sanggup melihatnya. Bukan Kakak malu, demi Allah, tetapi Kakak tidak tega. Di saat Kakak belajar di kelas, kakak melihat Ayah bekerja begitu keras. Ayah, apa pun pekerjaan Ayah, selama itu halal, Kakak tidak malu. Kakak minta maaf jika Ayah merasa Kakak malu akan pekerjaan Ayah, sama sekali tidak.]
Sebuah surat yang membuat ayahnya menangis bahagia.”Masyaallah, Nak,” gumamku.
Masyaallah, akhirnya kesalahpahaman ayah dan putrinya dapat terselesaikan.
“Kakak suka nunggu di gerbang, Bu, nunggu Ayah datang cuma buat cium tangan Ayah, lalu masuk kelas. Kadang Ayah suka ketawa sendiri, lucu melihat anak gadis Ayah, tingkahnya kayak anak kecil.” Cerita suami kalau pulang kerja. Setiap hari, ada saja cerita antara ayah dan putrinya.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 30






















