Harapan Amina

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Yulianaturrahmah AY

CemerlangMedia.Com — Hujan turun sejak malam, tanpa jeda sedikit pun untuk bernapas. Butirannya menghantam tenda-tenda pengungsian Gaza seperti jarum-jarum es yang menusuk dari setiap arah.

Tanah yang kemarin kering kini berubah menjadi lumpur hitam yang menyimpan dingin sampai ke tulang. Terpal lusuh yang menjadi dinding tenda berderak diterpa angin, seolah sewaktu-waktu bisa terangkat dan beterbangan.

Di tengah fajar yang menggigil, puluhan anak membentuk antrean panjang untuk mendapatkan semangkuk sup panas. Satu-satunya harapan mereka hari itu. Sup itu bukan hidangan lezat. Hanya air bening yang diberi sedikit rempah dan potongan sayur yang hampir busuk. Namun bagi anak-anak Gaza, itu adalah kehidupan.

“Pelan, jangan dorong! Semua kebagian!” suara relawan terdengar parau dan putus asa, meski ia berusaha tegar.

Tetapi bagaimana mungkin mereka tidak berdesakan?

Perut mereka sudah kosong sejak kemarin. Tangan-tangan mungil mereka sudah pucat dan membeku. Hujan turun tanpa berhenti. Dan kabar bahwa panci sup tidak sebanyak biasanya membuat antrean semakin kalang kabut.

Di tengah kerumunan itu, berdiri Amina, sembilan tahun, dengan syal biru yang sudah basah kuyup. Tangan kirinya menggenggam lengan adiknya, Yusuf, yang tubuhnya menggigil hebat.

“Kak … aku lapar,” bisik Yusuf dengan suara patah.

Amina mengusap kepala adiknya meski tangannya sendiri membeku.

“Sabar sedikit lagi ya, Yusuf. Kita dapat sup, nanti kamu hangat.”

Tapi antrean bergerak lambat. Beberapa anak terpeleset karena tanah yang semakin licin. Beberapa lain batuk keras, tubuhnya terlalu lemah menghadapi dingin.

“Tolong … minggir. Air panas mau lewat!”

Seorang relawan membawa baskom besar berisi air mendidih. Ia melangkah pelan di antara kaki-kaki kecil yang berdesakan. Namun tanah becek dan anak-anak yang lelah membuat langkahnya tidak stabil.

Hujan makin deras. Terpal dapur umum bergoyang. Lumpur menghisap kaki-kaki kecil itu.

Lalu.…

GUBRAAAAK!

Baskom besar itu tergelincir dari tangan relawan. Isinya tumpah, memercik ke segala arah.
Jeritan pecah serentak.

“Panas! Aaaa!!!”

“Ya Allah! Tolong! Panas!!”

Beberapa anak langsung tersungkur, memegang kaki dan tangan yang melepuh. Uap panas bercampur dengan bau tanah basah dan tangisan. Seorang bocah perempuan menjerit sambil memeluk betisnya yang memerah parah.

Amina refleks menarik Yusuf, melindunginya dengan tubuh sendiri. Namun percikan panas tetap mengenai punggung tangannya.

“Aah!”

Amina menggigit bibir, menahan rasa sakit yang seperti menyayat kulitnya.

“Kak! Tangan Kakak! Kak, sakit ya?”

Yusuf menangis, menarik syal kakaknya.

Amina menunduk, menahan air mata.

“Tidak apa … tidak apa
…”
Padahal rasa perih itu membuat kakinya gemetar.

Relawan panik mencari kain bersih, tapi apa yang mereka miliki hanya sobekan kain yang juga basah. Tidak ada air bersih. Tidak ada obat. Tidak ada perban.

Sementara di luar, hujan terus menghantam tenda-tenda yang hampir roboh.

Amina memeluk Yusuf dan menyeretnya pelan ke tenda keluarga mereka. Pupus sudah harap. Sesendok sup tinggal khayalan hari ini. Diantara lapar dan dingin, tenda menjadi tujuan mereka kembali. Tapi tenda itu sudah tak pantas disebut tempat tinggal. Air hujan menggenang setinggi mata kaki. Alas tidur basah seperti spons busuk. Selimut berubah menjadi kain lembap yang tak mampu menghangatkan siapa pun.

“Kak … tempat kita … banjir .…” suara Yusuf pecah, hampir tak terdengar.

Amina diam lama. Tangannya perih. Tubuhnya menggigil. Tapi ia tetap meraih adiknya, mendekapnya erat agar tubuh mungil itu masih punya sedikit kehangatan.

“Tenda kita sudah tidak kuat lagi, Kak.…”

Yusuf menyembunyikan wajahnya di dada Amina.

Amina menatap langit yang gelap di balik terpal robek.

“Allah tidak akan tinggalkan kita, Yusuf … Kita harus kuat.”

Seisi tenda seperti ikut menangis bersama mereka. Tetesan dari atap jatuh tanpa henti. Angin masuk dari sobekan terpal. Lumpur merayap masuk. Dan di kejauhan, suara jeritan anak-anak lain yang terkena air panas masih terdengar, menusuk hati seperti sembilu.

Di malam itu, Amina dan Yusuf akhirnya tertidur dalam keadaan basah, lapar, menggigil. Bukan karena nyaman, tapi karena tubuh kecil mereka kelelahan untuk bertahan.

**

Dan inilah kenyataan yang paling menyesakkan dada:

Mereka tidak menderita karena hujan semata.
Bukan karena dingin.
Bukan karena air panas yang tumpah.

Mereka menderita karena dunia membiarkan mereka tanpa perlindungan.

Sementara itu, kita di negeri jauh ini .…

Masih bisa makan tiga kali sehari.
Kadang mengeluh karena lauk tidak sesuai selera.
Kadang membuang makanan yang tak habis.
Kadang marah hanya karena internet lambat.
Kadang merasa hidup paling berat padahal kita tidur di kasur kering, di rumah yang aman.

Gaza mengantre sup encer. Kita bisa menghambur-hamburkan makanan.
Gaza berjuang melawan dingin. Kita bisa memilih jaket mana yang cocok untuk gaya.
Gaza takut tenda roboh. Kita tidur di kamar yang hangat dan nyaman.

Dan luka yang lebih pedih dari luka air panas adalah kenyataan bahwa Gaza sudah bertahun-tahun hidup tanpa sistem yang melindungi mereka.
Tanpa kekuatan yang menegakkan keadilan.
Tanpa perisai yang membela darah umat Islam dari penjajah.

Gaza tidak hanya butuh selimut dan makanan.
Gaza butuh sistem yang benar. Yang adil, yang kokoh, yang menjaga mereka secara menyeluruh.

Sistem yang tidak membiarkan anak-anak seperti Amina dan Yusuf melewati malam dengan lapar dan dingin.
Sistem yang tidak membiarkan ibu-ibu menangis memeluk anaknya yang melepuh.
Sistem yang tidak membiarkan dunia memilih diam.

Sampai hari itu datang, doa-doa kecil di tenda basah itu akan terus terbang ke langit, menggetarkan Arsy, menunggu jawaban dari Tuhan yang Maha Melihat.

Dan semoga kelalaian kita yang hidup dalam kelimpahan tidak menjadi sebab bertambahnya beban saudara-saudara kita di Gaza.

Semoga Allah menggerakkan hati, menguatkan langkah, dan mempercepat datangnya sistem yang memuliakan umat ini.
Sistem yang akan melindungi mereka sepenuhnya, sebagaimana mestinya.

Tamat

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 37

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *