Penulis: Irsad Syamsul Ainun
Creative Design CemerlangMedia.Com
Penyesalan sering kali berakar dari rencana yang hanya berhenti pada tahap angan-angan tanpa aksi nyata, padahal perubahan nasib sepenuhnya bermula dari keberanian diri untuk melangkah. Menyadari kerinduan mendalam akan medan dakwah menjadi titik balik untuk memulihkan energi yang sempat lalai dan memperbaiki arah perjuangan hidup.
CemerlangMedia.Com, Storytelling — Ceklis target hidup. Rasanya banyak hal yang terlewat begitu saja yang pada akhirnya menjadi sebuah penyesalan. Kenapa nggak kayak gini, ya? Atau kenapa nggak seperti dia, ya?
Seyogianya bukan salah siapa pun, melainkan salah diri sendiri. Banyak mikir tanpa aksi, nihil juga ternyata. Setelah dipelajari, apa pun impiannya, semua butuh aksi. Bukan hanya omon-omon, apalagi sekadar dihayalkan.
Btw, sedikit cerita tentang perjalanan akhir-akhir ini. Merasa paling banyak yang terlalaikan. Perlu membangun kembali energi dan semangat sebelumnya. Menyesal iya, tetapi jika pun menyesal tanpa gerakan untuk memperbaiki juga, ya hasilnya bisa jadi jauh lebih anjlok.
Setelah muhasabah, teringatlah dengan satu ayat, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah diri mereka sendiri.” (QS Ar-Rad: 11).
Oleh karena itu, sebisa mungkin kuupayakan segala bentuk usaha untuk menyelesaikan semuanya. Berjuang yang intinya tidak mudah. Semua orang bisa merasakan ini dalam hal apa pun itu. Entah dalam tanah dakwah atau yang lainnya.
Namun, satu hal yang terus membuatku menyesal yang berlepas diri dari medan dakwah. Rasanya sungguh sangat menyakitkan. Sebab, kita kudu berjuang sendiri dan tidak ada jaminan untuk fine saja.
Sekarang semua pilihan itu menjadi hal yang menentukan bagaimana akhir yang kita inginkan. Harapannya dapat kembali pulang dalam rida-Nya. Menjadikan diri ini untuk mampu istikamah, berkumpul bersama manusia pilihan yang tentu saja dapat dinaungi oleh-Nya. Dicintai bukan karena harta, tahta, dan gelar, tetapi karena-Nya.
Dicintai pula karena keindahan akhlak yang dengannya menjadi rida Yang Kuasa. Dapatkah kita bersama mereka yang lisannya selalu basah oleh zikir untuk mengingat dan juga memikirkan bagaimana semua ini ada? Ataukah hadirnya diri ini hanya sebagai wara-wiri dunia?
Semua hanya bisa terjawab oleh diri, bukan orang lain. Akan tetapi perlu diingat, tidaklah sesuatu terjadi kecuali atas izin-Nya. Oleh karena itu, perlulah diri ini untuk selalu berdoa agar ditetapkan hatinya dalam taat sampai akhirnya Dia memanggil. Waktumu t’lah usai, maka kembalilah dengan tenang.
Mimika, 21 Ramadan 2026 [CM/Na]
Views: 7






















