Penulis: Kharimah El-Khuluq
Untuk meruntuhkan cengkeraman Amerika Serikat dan Israel terhadap Palestina ataupun negara adidaya lainnya, tidak bisa dilakukan dengan media BoP semata. Kaum muslim harus bersatu melawan kaum kafir dengan jihad fii sabilillah. Sebab, hanya jihad jalan satu-satunya yang mampu menumpas kekuatan mereka.
CemerlangMedia.Com — Di tengah klaim Board of Peace sebagai mediator gencatan senjata, tidak menyurutkan Israel dari menyerang Palestina. Korban sipil masih terus berjatuhan, kendaraan dan tempat tinggal warga Palestina pun tidak luput diruntuhkan dan dibakar oleh pemukim Israel. Israel menghancurkan sebanyak 312 bangunan tempat tinggal dan pertanian milik warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki, selama enam pekan pertama 2026 (cnnIndonesia.com, 03-03-2026).
Rapat perdana Board of Peace (BoP) pada Kamis (19-2-2026), meresmikan pembentukan sejumlah badan di bawahnya yang akan membantu implementasi rekonstruksi Jalur Gaza Palestina, salah satunya Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (National Committee for the Administration of Gaza/NCAG). Dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) itu, Ketua NCAG Ali Shaath membeberkan agenda prioritas badannya yang akan fokus pada pembangunan dan menjaga stabilitas di Jalur Gaza.
Dalam pernyataan resmi Gedung Putih pada Januari lalu, mereka menyebut NCAG sebagai implementasi Fase Dua Rencana Komprehensif untuk mengakhiri konflik Gaza. Singkatnya, NCAG akan menjadi pemerintahan sementara di Gaza usai tahap dua gencatan senjata di wilayah itu berjalan (cnnIndonesia.com, 20-02-2026).
BoP, Media Legitimasi Penjajahan
Warga Gaza dan Tepi Barat hingga kini masih mengalami krisis. Penderitaan mereka terus berlangsung tanpa ada sedikit pun jeda, pembakaran, penembakan tetap berlanjut. Ini semua disebabkan oleh ulah Israel yang selalu melanggar perjanjian damai yang telah disepakati. Israel memandang perjanjian damai hanya sebatas kertas usang yang tidak ada fungsinya.
Tidak ada satu pun negara yang mampu mencegah ulah brutal Israel terhadap Palestina. Dunia bungkam. Berbagai upaya yang dilakukan hanya sebatas misi kemanusiaan dan negosiasi yang tidak berujung. BoP pun tidak memberikan dampak yang baik bagi pembebasan Palestina.
Mendamaikan Palestina dan Israel dengan mediator BoP ini sangat mustahil berhasil. Warga Palestina pun merasa ragu atas adanya lembaga BoP yang dibentuk oleh Trump ini. Mereka ragu, apakah Trump benar-benar tulus untuk menolong Palestina untuk keluar dari kekejaman Israel? Mengingat Amerika Serikat selama ini selalu menjadi penopang Israel. Mereka selalu sejalan dalam menghancurkan Palestina. Bahkan, AS menggunakan hak veto di PBB untuk membela Israel.
BoP hanyalah media untuk legitimasi pembersihan etnis, genosida, dan perampasan tanah Palestina. BoP tidak benar-benar hadir untuk wadah perdamaian, melainkan juga alat untuk mengikat para pemimpin kaum muslim yang terkecoh dengan adanya BoP. Ketika Trump sudah berhasil mengikat para pemimpin kaum muslim, akan mudah baginya untuk mewujudkan Gaza New.
Tidak hanya itu, dengan adanya BoP, Amerika Serikat ingin mengalihkan opini publik bahwa dunia tidak bungkam atas kekejaman Israel. Mereka ingin menipu publik dengan lembaga yang mereka bentuk. Seolah-olah memperlihatkan kepada dunia bahwa mereka prihatin atas kondisi Palestina.
Musuh Nyata Kaum Muslim
Perdamaian bagi Israel hanyalah perjanjian yang akan kembali diingkari. Sudah sering kali umat mendengar dan melihat bagaimana Israel melanggar janji-janji yang telah terikrar. Sudah seyogianya kaum muslim tidak mempercayainya lagi. Sebab, pada dasarnya, Israel tidak akan bersatu dengan kaum muslim dan mustahil terjadi karena mereka sangat memusuhi Islam, sebagaimana Allah telah menegaskan dalam QS Al-Maidah ayat 82 yang artinya,
“Pasti akan engkau dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik….”
Amerika Serikat dan Israel adalah negara kafir yang ingin menguasai dunia. Mereka melakukan penjajahan, baik dalam bidang ekonomi, politik, maupun militer. Setiap ketentuan ataupun kebijakan yang diteken, asasnya selalu bersandar pada mabda mereka sehingga lahirlah berbagai kebijakan yang rusak dan mereka suka berbuat kerusakan.
Ironisnya, para pemimpin kaum muslim bergabung dan turut serta dalam agenda kaum penjajah, padahal sudah sangat jelas bahwa mereka adalah musuh yang nyata. Musuh tidak akan pernah memberikan ruang kenyamanan bagi yang dimusuhinya. Ketika kaum muslim bergabung dengan para penjajah, tidak ada sedikit pun keuntungan yang didapatkan, melainkan sama seperti halnya dengan kesadaran penuh menceburkan diri dalam lembah kehancuran. Kehancuran di dunia maupun di akhirat kelak.
Jihad, Jalan Pembebasan Palestina
Untuk meruntuhkan cengkeraman Amerika Serikat dan Israel terhadap Palestina ataupun negara adidaya lainnya, tidak bisa dilakukan dengan media BoP semata. Kaum muslim harus bersatu melawan kaum kafir dengan jihad fii sabilillah. Sebab, hanya jihad jalan satu-satunya yang mampu menumpas kekuatan mereka.
Untuk terwujudnya jihad fii sabilillah tidak bisa dilakukan perorangan ataupun per kelompok. Melainkan seluruh kaum muslim harus bersatu dalam kekuatan Islam global dan membangun kembali Daulah Khil4f4h Rasyidah. Hanya Khil4f4h yang mampu menghapuskan penjajahan kaum Yahudi. Negara adidaya harus dilawan dengan negara adidaya, bukan dengan membaur dan mengekor.
Wallahu a’lam bisssawab [CM/Na]
Views: 18






















