Solusi Hakiki Tingginya Angka Perceraian

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Dalam Islam, relasi suami-istri adalah persahabatan yang penuh kasih sayang (mawaddah wa rahmah). Istri dimuliakan sebagai pilar keluarga tanpa harus dibebani kewajiban mencari nafkah sehingga ia bisa fokus mencetak generasi unggul.

CemerlangMedia.Com — Angka perceraian di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Pontianak mengungkapkan bahwa estimasi angka perceraian mencapai ribuan kasus setiap tahunnya atau berkisar di angka 20 persen dari total jumlah pernikahan.

Kepala Kantor Kemenag Kota Pontianak Ruslan menjelaskan, berdasarkan data rata-rata, terdapat sekitar 4.000 hingga 5.000 pasangan yang melangsungkan pernikahan di Pontianak setiap tahunnya. “Kalau pernikahan per tahun itu diperkirakan 4.000 sampai 5.000 pasang. Jika angka perceraian mencapai 20 persen, berarti ada sekitar 1.000-an kasus per tahun. Ini jumlah yang lumayan besar,” ujar Ruslan saat diwawancara (30-04-2026).

Tidak bisa dimungkiri, berbagai inisiatif telah digulirkan oleh banyak pihak untuk menekan angka perceraian. Namun, timbul pertanyaan besar: mengapa fenomena ini tidak kunjung mereda dan justru grafiknya terus mendaki?

Sebenarnya, langkah-langkah yang ada saat ini, seperti kursus calon pengantin hingga prosedur mediasi, belum menyentuh substansi masalah. Memang benar, faktor ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga jeratan judi online sering dituding sebagai pemicu. Pada pasangan muda, ketidakstabilan emosi dan impitan finansial kerap menjadi kambing hitam. Akan tetapi, semua itu hanyalah persoalan di permukaan. Akar masalah yang sesungguhnya terletak pada sistem kehidupan yang melingkupi keluarga saat ini.

Jika ditelaah lebih dalam, maraknya perceraian di Indonesia berpangkal pada adopsi sistem kapitalisme beserta turunannya: liberalisme, sekularisme, dan feminisme. Dalam bingkai kapitalisme, standar kebahagiaan sering kali diukur dari materi semata. Sementara itu, sekularisme telah mengikis peran agama dalam domestik keluarga, menjauhkan nilai ibadah dari interaksi suami-istri.

Sistem ini pula yang mengomersialkan kebutuhan hidup, membuat beban ekonomi kian mengimpit. Di sisi lain, paham feminisme mendorong perempuan untuk merasa harus mandiri secara finansial demi status sosial, yang tak jarang memicu perselisihan hak dan kewajiban. Semua ini berujung pada keretakan rumah tangga yang diakhiri di meja hijau.

Ditambah lagi dengan paham liberalisme yang menjunjung kebebasan tanpa batas. Pergaulan bebas dan gaya hidup permisif di media sosial membuka celah perselingkuhan yang lebar. Dalam logika liberal, pengkhianatan dalam pernikahan sering dianggap ranah privat yang tidak boleh dicampuri sehingga kontrol sosial masyarakat pun tumpul.

Fenomena ini membuktikan bahwa sistem sekuler kapitalisme telah gagal memberikan kesejahteraan dan ketenangan lahir batin bagi umat. Oleh karena itu, umat Islam perlu kembali pada tuntunan Islam secara menyeluruh (kafah). Dalam sistem Islam, peran suami dan istri ditempatkan sesuai fitrahnya. Pernikahan bukan sekadar ikatan dua insan, melainkan institusi terkecil pencetak generasi berkualitas.

Islam memandang, kesejahteraan rakyat sebagai tanggung jawab negara. Negara berkewajiban membuka lapangan kerja yang luas bagi laki-laki agar nafkah keluarga tercukupi. Negara juga menjamin kebutuhan publik seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan secara cuma-cuma melalui baitulmal.

Dalam Islam, relasi suami-istri adalah persahabatan yang penuh kasih sayang (mawaddah wa rahmah). Istri dimuliakan sebagai pilar keluarga tanpa harus dibebani kewajiban mencari nafkah sehingga ia bisa fokus mencetak generasi unggul. Hanya dengan penerapan hukum Islam secara totalitas, ketahanan keluarga dapat terwujud secara kokoh dan terhindar dari ide-ide destruktif yang merusak tatanan masyarakat.

Siti Hajariah [CM/Na]

Views: 4

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *