Di Bawah Hujan yang Membungkam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBC

Penulis: L. Arelina

CemerlangMedia.Com — Hujan turun deras siang itu, membuat Jalan Raya Cendana nyaris kosong. Air mengalir di sisi jalan, langit gelap, menggantung rendah seperti menyimpan sesuatu yang belum selesai.

Fajar memelankan motornya. Jas hujan tipis yang ia kenakan tak sepenuhnya menahan dingin. Jalanan licin, jarak pandang terbatas. Ia tak menyadari, beberapa meter di depannya, sebuah mobil hitam melaju cukup kencang.

Semua terjadi dalam sekejap. Dari arah kanan, seorang remaja berlari menyeberang, mungkin mencari tempat berteduh. Mobil hitam itu tak sempat menghindar. Benturan keras terdengar, memecah sunyi jalanan.

Tubuh remaja itu terpental, jatuh di tengah jalan. Fajar terkejut. Ia refleks menarik rem. Ban motornya tergelincir di aspal basah. Tubuhnya ikut terjatuh—tepat beberapa langkah dari korban. Hujan masih turun, sunyi. Tak ada keramaian, tak ada teriakan. Hanya suara air dan napas Fajar yang memburu. Mobil hitam itu berhenti tak jauh dari mereka.

Pintu terbuka. Seorang pria keluar dengan wajah tegang. Ia menatap korban sekilas, lalu beralih ke Fajar yang masih berusaha bangkit. Tatapan mereka bertemu dan dalam satu momen yang ganjil, pria itu menunjuk.

“Kamu yang nabrak!” Ucap pengemudi mobi itu, terdengar seperti pernyataan.

Fajar tertegun bingung.
“Bukan…tadi saya jatuh—”

Namun pria itu sudah melangkah mundur, mengeluarkan ponsel, berbicara cepat pada seseorang.

Tak lama, beberapa orang berdatangan. Mungkin warga sekitar, mungkin orang yang dipanggil. Namun ketika mereka tiba, satu cerita sudah lebih dulu ada.

Seorang ojek online jatuh tepat di dekat korban dan itu dianggap cukup. Fajar berdiri di tengah hujan, kebingungan. Ia tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi di saat itu juga, ia mulai merasakan sesuatu yang lebih dingin dari hujan—bahwa tuduhan mengarah dusta padanya. Ya! Laki-laki yang jelas sebagai pelaku itu membalikan cerita menujuk ke arahnya, dari sanalah sebuah tuduhan itu hidup.

Fajar hanyalah pengemudi ojek online. Ia bekerja dari pagi hingga malam demi menghidupi istrinya dan anak kecilnya yang masih belajar memanggil kata “ayah” dengan utuh. Hidupnya sederhana. Tak pernah berurusan dengan hukum. Namun hari itu, ia menjadi tersangka.

Di kantor polisi, ia mencoba menjelaskan kronologi. Tapi setiap kalimatnya terasa seperti tidak benar-benar didengar.

“Jadi kamu menabrak korban?” tanya penyidik.

“Bukan, Pak. Saya lihat mobil hitam—”

“Kita fokus ke kamu dulu.”

Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat Fajar mengerti.

Arah perkara ini… bukan tentang apa yang ia lihat.

Beberapa hari kemudian, kabar itu menyebar. Seorang ojek online menabrak pejalan kaki hingga kritis. Tanpa penjelasan, tanpa kronologi utuh. Foto motornya tersebar di media sosial, komentar berdatangan.

“Pengemudi sembrono.”
“Cari penumpang sampai lupa nyawa orang.”
“Harus dihukum berat!”

Tak ada yang bertanya, tak ada yang menunggu kebenaran, tapi langsung menghakimi.

Sidang dimulai, Fajar duduk di kursi terdakwa, tangan dingin, kepala tertunduk. Jaksa membacakan dakwaan dengan suara lantang, seolah semua telah terang sejak awal.

Saksi pertama dipanggil.

“Saya datang setelah kejadian. Saya lihat korban sudah jatuh dan motor terdakwa dekat sekali,” katanya.

“Apakah Anda melihat langsung benturan?” tanya pengacara.

“Tidak.”

Saksi kedua.

“Saya dengar suara keras, lalu lihat posisi seperti itu.”

“Apakah Anda melihat siapa yang menabrak?”

“Tidak.”

Tak satu pun melihat detik pertama.

Namun posisi Fajar—yang jatuh paling dekat—cukup untuk membangun kesimpulan.

Rekaman CCTV disebut-sebut ada. Namun yang ditampilkan hanya setelah kejadian. Saat tubuh korban sudah tergeletak dan Fajar berada di dekatnya.

Bagian sebelum benturan tidak pernah muncul, Fajar mulai memahami. Bukan karena tidak ada bukti, tapi karena bukti yang ada tidak digunakan untuk mencari kebenaran.

Di bangku pengunjung, istrinya duduk dengan mata sembab. Di sampingnya, anak kecil mereka menggenggam tangannya.

“Ayah kapan pulang?” tanya polos.

Ia tak menjawab.

Hari berikutnya putusan itu tiba, ruang sidang sunyi. Hakim membaca amar putusan dengan nada datar.

“…menyatakan terdakwa terbukti bersalah…” Fajar memejamkan mata, tak ada keterkejutan.

Sejak awal, ia sudah merasakan bahwa langkahnya berjalan di jalur yang tidak ia pilih, hukuman dijatuhkan.

Beberapa tahun penjara cukup untuk meruntuhkan hidup sederhana yang ia bangun.

Malam pertama di dalam sel terasa panjang. Fajar duduk bersandar di dinding dingin. Menatap langit-langit yang kusam. Ia tidak marah, Ia hanya lelah.

“Apa ini keadilan…,” bisiknya pelan. Tak ada jawaban.

Namun dalam diam itu, ia mulai memahami sesuatu yang lebih dalam. Bahwa hukum yang ia hadapi bukan sekadar tentang benar atau salah. Ia tentang siapa yang punya kekuatan untuk menentukan mana yang disebut benar. Dan selama ukuran itu bisa berubah, maka keadilan akan selalu menjauh dari orang-orang kecil.

Hari-hari berlalu, Fajar mulai terbiasa dengan rutinitas di balik jeruji. Tapi pikirannya tetap pulang—pada anaknya, pada istrinya, pada kehidupan yang terhenti tanpa penjelasan yang adil.

Ia sering bertanya dalam hati, bagaimana nanti anaknya memahami semua ini. Apakah ia akan tumbuh dengan cerita bahwa ayahnya bersalah? Atau suatu hari ia akan tahu bahwa ayahnya… hanya berada di tempat yang salah, dalam sistem yang salah?

Di antara sunyi itu, perlahan tumbuh satu keyakinan. Bahwa keadilan sejati tidak mungkin lahir dari aturan yang bisa dipengaruhi kepentingan. Keadilan yang benar hanya bisa tegak jika bersandar pada hukum yang tidak bisa dibeli, tidak bisa ditekan, dan tidak bisa dipelintir oleh siapa pun.

Hukum yang menetapkan benar dan salah secara pasti, bukan berdasarkan siapa yang kuat melainkan berdasarkan apa yang memang benar. Fajar menengadah untuk pertama kalinya, ia berhenti berharap pada sistem yang sama. Ia mulai berharap pada sesuatu yang lebih tinggi, Allah, agar lebih kuat dan lebih lapang menerima ketidakadilan dari hukum buatan manusia ini.

Di luar sana, hujan mungkin telah reda. Jalanan kembali ramai. Orang-orang kembali sibuk dengan hidupnya. Namun, kisah seperti Fajar tidak pernah benar-benar selesai. Ia akan terus ada. Selama kebenaran masih bisa dikalahkan oleh kepentingan dan keadilan masih bisa ditentukan sebelum kebenaran benar-benar didengar.

Pelan, tapi pasti. Seperti hujan yang jatuh tanpa suara, tetapi diam-diam merendam segalanya.

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 4

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *