#30HMBCM
Oleh: Hawilawati
CemerlangMedia.Com, PARENTING — Menjadi ibu dari tiga anak dengan jarak usia yang berdekatan adalah perjalanan yang penuh energi. Rumah hampir tidak pernah benar-benar sunyi. Ada suara tawa dan tangis, ada langkah kecil berlari, ada panggilan bersahutan, dan tentu saja ada mainan yang tersebar di hampir setiap sudut ruang. Dalam fase itu, aku belajar bahwa rumah yang hidup memang tidak selalu identik dengan rumah yang rapi.
Sekalipun ada ART, hanyalah paruh waktu. Selebihnya, kerapian rumah kembali menjadi tanggung jawabku. Melihat ruang tengah yang tadinya bersih berubah seperti kapal pecah dalam hitungan menit, terkadang membuat napas terasa berat. Namun, di tengah rasa penat itu, aku selalu mengingatkan diri sendiri: masa kecil mereka hanya sekali. Jangan sampai aku terlalu sibuk mengejar kerapian, tetapi kehilangan momen tumbuh kembang yang berharga.
Sejak awal, aku dan suami sepakat bahwa anak-anak harus memiliki ruang bermain yang cukup. Kami menyiapkan satu area khusus di ruang tengah sebagai zona eksplorasi mereka. Perabotan yang berbahaya kami minimalkan. Mainan disimpan dalam kotak-kotak besar agar mudah dijangkau dan mudah pula dirapikan kembali.
Aku memahami bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Dari bermainlah mereka belajar berpikir, berimajinasi, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah. Jika masa bermain terlalu ditekan, kecerdasan mereka tidak akan berkembang secara optimal. Namun, kebebasan tanpa batas juga bukan pendidikan yang bijak.
Karena itulah, lahir sebuah kesepakatan sederhana. Suatu hari aku mengumpulkan mereka dan menyampaikan aturan itu dengan santai.
“Anak-Anak, boleh membongkar semua mainan yang ada di dalam kotaknya. Boleh menyusun balok setinggi mungkin. Boleh menumpahkan lego warna-warni ke lantai. Tetapi setelah selesai bermain, semua harus dirapikan kembali. Tidak boleh ada satu pun yang tertinggal. Jika Bunda menemukan satu mainan saja yang masih tercecer, maka keesokan harinya belum boleh bermain. Sepakat?”
Mereka menjawab dengan semangat, “Sepakat!”
Bahkan si bungsu yang saat itu baru berusia dua tahun ikut mengangguk. Ia sangat menyukai lego. Satu kotak besar lego menjadi dunia kecilnya. Dengan telaten ia menyusun potongan demi potongan menjadi berbagai bentuk.
Sering kali aku duduk di sampingnya dan bertanya, “Abang, ini bangunan apa?”
Ia menjawab dengan bahasa yang masih sederhana “Ini pesawat.”
Di lain waktu, “Ini mobil tank.”
Atau dengan penuh percaya diri, “Ini piramid.”
Ia memang belum pernah melihat piramida secara langsung, tetapi imajinasinya bekerja luar biasa. Dari gambar-gambar yang pernah ia lihat, ia membangun versinya sendiri. Aku sering mengabadikan hasil rakitannya karena bagiku itu bukan sekadar mainan, melainkan proses berpikir yang sedang tumbuh.
Yang membuatku makin kagum adalah kedisiplinannya. Ketika waktu bermain selesai, tak ada satu pun lego yang tertinggal. Semua kembali ke dalam kotak. Ia tahu bahwa itu bagian dari kesepakatan. Ia juga tahu konsekuensinya jika melanggar.
Kesepakatan kecil itu perlahan menjadi kebiasaan. Rumah boleh ramai saat bermain, tetapi akan kembali rapi setelahnya. Anak-anak belajar bahwa hak bermain selalu berdampingan dengan kewajiban merapikan.
Kami juga sepakat untuk tidak memberikan gadget di usia dini. Di saat banyak orang tua memilih layar agar anak lebih tenang, kami memilih membiarkan rumah dipenuhi kreativitas. Dan benar saja, suara riuh mereka justru menjadi tanda kehidupan.
Pernah suatu ketika, si bungsu sakit dan hanya terbaring lemah di tempat tidur. Tidak ada lego yang dibongkar. Tidak ada balok yang disusun. Rumah terasa sangat sunyi. Saat itulah aku menyadari, rumah yang ramai oleh mainan, sebenarnya adalah tanda bahwa anak-anak dalam keadaan sehat.
Kesepakatan bermain ini tidak hanya berlaku untuk anak-anakku, tapi berlaku untuk siapa pun yang bermain di rumah kami.
Hampir setiap akhir pekan, pintu rumah diketuk.
“Assalamu’alaikum, Humam….”
Teman-teman mereka datang dengan wajah berseri. Sebelum bermain, aku selalu mengingatkan, “Boleh bermain di sini, tapi selesai bermain harus dirapikan kembali. Sepakat?”
Anak-anak kecil berusia tiga sampai lima tahun itu menjawab kompak, “Siap, Bunda!”
Dan mereka benar-benar menepatinya. Setelah selesai bermain, mereka bekerja sama merapikan semua mainan. Tidak ada yang kabur tanpa tanggung jawab.
Suatu hari aku bertanya kepada salah satu dari mereka, “Kenapa suka bermain di sini?”
Jawaban polos mereka menyentuh hatiku. “Karena di sini boleh bermain. Bunda Humam baik.”
Aku sadar, yang mereka rasakan bukan sekadar banyaknya mainan, tetapi suasana yang hangat dan adil. Aturan disampaikan di awal. Konsekuensi jelas. Tidak ada bentakan tiba-tiba. Tidak ada sanksi tanpa kesepakatan.
Dari pengalaman itu aku belajar, mendisiplinkan anak sebenarnya tidak harus menguras tenaga. Anak-anak adalah jiwa polos yang bisa diajak komunikasi dengan bahasa sederhana. Ketika mereka mulai banyak bertanya, itu tanda bahwa komunikasi dua arah sudah bisa dibangun.
Kita hanya perlu duduk sejajar dengan mereka, berbicara dengan hangat, dan konsisten menjalankan kesepakatan.
Karena pada akhirnya, rumah bukan sekadar tempat tinggal yang harus selalu rapi. Ia adalah ruang tumbuh. Ruang belajar tanggung jawab. Ruang di mana anak merasakan kehangatan ibu yang selalu membersamai.
Suatu hari nanti, mainan itu akan tersimpan. Rumah akan menjadi lebih sunyi. Namun aku berharap, yang mereka kenang bukanlah larangan atau bentakan, melainkan masa kecil yang penuh tawa, penuh dialog, dan penuh kesepakatan yang adil.
Sebab, yang paling melekat dalam ingatan anak bukan seberapa bersih lantainya, melainkan seberapa hangat ibunya.
Disiplin terbaik bukan lahir dari bentakan, tetapi dari kesepakatan yang dijaga dengan cinta.
Hal ini pun juga Allah perintahkan kepada manusia harus berlaku adil dan tidak zalim terhadap sesama, sebagaimana ayat cinta-Nya
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan….” (QS An-Nahl: 90)
Memberikan aturan tanpa kesepakatan lalu memberi sanksi sepihak termasuk bentuk ketidakadilan. Islam memerintahkan keadilan, bahkan dalam rumah tangga dan pendidikan anak.
****
“Aturan tanpa dialog hanya akan menanam benih ketakutan. Namun, kesepakatan yang dibangun dengan cinta akan menumbuhkan rasa tanggung jawab. Jadilah orang tua yang bijak; jangan tergesa menjatuhkan sanksi sebelum ada hati yang saling berjanji.”
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 6






















