Penulis: Indri Nur Adha
Aktivis Dakwah
Persoalan sampah bukan sekadar isu kebersihan, tetapi amanah kepemimpinan dan konsekuensi sistem yang diterapkan. Dalam Islam, negara sebagai raa’in, wajib menghadirkan solusi yang menyeluruh dan menyentuh akar masalah, bukan sekadar proyek sesaat atau imbauan moral. Hanya dengan tata kelola yang berlandaskan kemaslahatan, persoalan sampah dapat diselesaikan secara tuntas dan berkelanjutan.
CemerlangMedia.Com — Persoalan sampah tampaknya bukan perkara sepele bagi negeri ini, meski yang dihadapi hanyalah limbah buangan sehari-hari. Namun dalam kenyataannya, urusan yang terlihat sederhana ini justru membuat pemerintah kewalahan dalam menanganinya.
Berbagai kebijakan dan program terus digulirkan, tetapi persoalan serupa tetap berulang dari waktu ke waktu. Hal ini menunjukkan bahwa masalah sampah bukan sekadar soal teknis pengangkutan atau pembuangan, melainkan menyangkut tata kelola, kesadaran masyarakat, dan keseriusan negara dalam mengurus kepentingan publik secara menyeluruh.
Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi TPA Terjun yang kian memprihatinkan. Ia mengungkapkan bahwa tinggi timbunan sampah di lokasi tersebut kini telah mencapai sekitar 30 meter, jauh meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang hanya beberapa meter.
Saat melakukan peninjauan langsung, ia menilai persoalan ini harus segera ditangani melalui sistem pengelolaan sampah yang lebih modern. Pemerintah Kota Medan, lanjutnya, mendapat dukungan dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk mengolah sekitar 1.600 ton sampah per hari menjadi energi listrik melalui pembangunan pabrik di lahan seluas kurang lebih 6 hektare.
Namun, ia menegaskan bahwa keberadaan pabrik saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan sampah tanpa keterlibatan aktif masyarakat. Oleh karena itu, warga diimbau mulai membiasakan diri memilah sampah dari rumah dan membuangnya pada tempat yang semestinya agar upaya penanganan sampah dapat berjalan efektif (detik.com, 07-02-2026).
Perilaku Konsumtif
Rencana membangun pabrik pengolahan sampah menjadi energi listrik menunjukkan solusi berbasis teknologi. Namun, persoalan publik harus diselesaikan secara menyeluruh dari hulu ke hilir, bukan hanya sekadar mengatasi dampaknya, tetapi yang paling penting adalah menyelesaikan masalah sampai akarnya. Pertanyaannya, apakah sistem produksi dan konsumsi yang memicu tingginya volume sampah juga dievaluasi?
Pembahasan mengenai sampah ternyata bukan perkara sederhana, melainkan persoalan yang cukup kompleks. Masalahnya tidak hanya terletak pada bagaimana sampah dikelola, tetapi juga pada faktor-faktor yang menyebabkan jumlahnya terus meningkat. Jika ditarik benang merahnya, hal ini berkaitan erat dengan gaya hidup masyarakat yang makin konsumtif. Kebiasaan berbelanja secara berlebihan dan mengutamakan kepraktisan menjadi salah satu pemicu utama bertambahnya timbunan sampah dari waktu ke waktu.
Pakar Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University Megawati Simanjuntak, menyebutkan bahwa perilaku belanja berlebihan kerap terjadi saat Ramadan. Overbuying, yaitu membeli barang atau jasa melebihi kebutuhan, lebih sering muncul pada bulan ini dan berdampak negatif (pikiran-rakyat.com, 27-02-2026).
Persoalan Sistemik
Persoalan sampah sejatinya merupakan masalah yang bersifat sistemik. Dalam kapitalisme yang berorientasi pada keuntungan, pengelolaan sampah kerap tidak menjadi prioritas utama. Akibatnya, penanganan baru benar-benar dipikirkan ketika timbunan sampah sudah membludak dan menimbulkan keresahan. Barulah kemudian pemerintah terlihat sibuk mencari solusi, seperti mengubah sampah menjadi sumber energi, bukan melakukan pencegahan dan pengelolaan yang terencana sejak awal.
Pengelolaan kebutuhan publik, termasuk persoalan sampah adalah tanggung jawab langsung negara dan tidak boleh diserahkan kepada pola proyek jangka pendek atau kepentingan segelintir kelompok tertentu. Masalah sampah bukan isu musiman yang cukup dijawab dengan program sesaat ketika kondisi sudah darurat, melainkan urusan mendasar yang menyangkut kesehatan, lingkungan, dan kualitas hidup masyarakat.
Oleh karena itu, negara seharusnya memiliki perencanaan yang menyeluruh dan berkelanjutan, mulai dari pengurangan produksi sampah, pengaturan pola konsumsi, hingga sistem pengelolaan yang efektif. Jika kebijakan hanya berorientasi pada proyek atau keuntungan ekonomi semata, maka akar persoalan tidak akan tersentuh dan masalah yang sama akan terus berulang di kemudian hari.
Solusi Islam
Dalam Islam, penguasa adalah pengurus urusan rakyat (raa’in) yang wajib memastikan kemaslahatan dan mencegah mudarat. Jika persoalan sampah terus menumpuk hingga memprihatinkan, ini menunjukkan lemahnya perencanaan dan pengawasan sejak awal, bukan sekadar kurangnya fasilitas.
Dalam Islam, penguasa akan proaktif dalam menjalankan tugasnya, melakukan pencegahan sebelum masalah membesar, serta membangun sistem yang mampu mengatur produksi, distribusi, dan pengelolaan limbah secara terintegrasi. Dengan demikian, pengelolaan sampah bukan hanya respons atas krisis, melainkan bagian dari tanggung jawab negara dalam menjaga kehidupan dan kesejahteraan rakyat secara berkelanjutan.
Ajakan memilah sampah memang penting, tetapi negara tidak boleh menjadikan partisipasi masyarakat sebagai alasan untuk menutupi lemahnya sistem. Dalam Islam, tanggung jawab utama tetap berada di pundak penguasa, sementara masyarakat berperan mendukung, bukan menggantikan peran negara.
Islam memandang pengelolaan sumber daya dan lingkungan sebagai bagian dari menjaga kemaslahatan umum. Kebijakan tidak boleh hanya berorientasi pada efisiensi ekonomi atau produksi energi, tetapi harus memastikan lingkungan bersih, sehat, dan tidak membahayakan kehidupan warga.
Khatimah
Persoalan sampah bukan sekadar isu kebersihan, tetapi amanah kepemimpinan dan konsekuensi sistem yang diterapkan. Dalam Islam, negara sebagai raa’in, wajib menghadirkan solusi yang menyeluruh dan menyentuh akar masalah, bukan sekadar proyek sesaat atau imbauan moral. Hanya dengan tata kelola yang berlandaskan kemaslahatan, persoalan sampah dapat diselesaikan secara tuntas dan berkelanjutan.
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Wallahu a’lam bisshawab. [CM/Na]
Views: 13






















