Prahara di Selat Malaka

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Yulweri Vovi Safitria
Bab 2 Kabut Pagi yang Berdarah

CemerlangMedia.Com, NOVEL — Kabut pagi itu menggantung tebal di atas permukaan Selat Malaka, seolah-olah langit dan laut telah melebur menjadi satu tirai abu-abu yang dingin. Biasanya, Mala menyukai suasana ini—saat aroma garam bercampur dengan wangi tanah yang basah oleh embun. Namun pagi ini, udara terasa berbeda. Ada bau anyir yang samar, tertiup angin dari arah dermaga, menusuk indra penciumannya.

Mala terbangun sebelum azan Subuh berkumandang. Kegelisahan dari pertemuan di balai desa kemarin masih menyangkut di dadanya seperti duri ikan. Ia mencoba menyeduh teh untuk ayahnya, tetapi tangannya gemetar saat memegang cangkir kaleng.

Di luar, suara mesin kapal motor terdengar menderu-deru, tetapi bukan nada ritmis kapal nelayan yang biasa ia dengar. Ini lebih berat, lebih mengancam.

“Pak, dengar itu?” bisik Mala saat ayahnya muncul di pintu dapur sambil melilitkan sarung di leher.

Pak Hamid terdiam sejenak, telinganya yang tajam menangkap frekuensi yang asing. “Itu bukan mesin kapal kita, Mala. Itu mesin besar. Terlalu banyak untuk jam segini.”

Tanpa sempat menghabiskan tehnya, Pak Hamid menyambar parang yang biasa ia gunakan untuk membelah kelapa, sekadar untuk berjaga-jaga. Mala menyambar kerudungnya dan mengikuti di belakang dengan langkah seribu. Mereka berlari menembus kabut yang mulai menyelimuti perkampungan.

Di sepanjang jalan, pintu-pintu rumah kayu terbuka lebar. Warga keluar dengan wajah bantal yang penuh kebingungan dan ketakutan.

Saat mereka mencapai bibir pantai, pemandangan yang menyambut mereka adalah sebuah mimpi buruk.
Di balik tirai kabut yang mulai tersingkap oleh cahaya matahari pucat, tampak siluet kapal-kapal tongkang besar yang bersandar paksa di area konservasi bakau. Di atasnya, puluhan pria berseragam hitam tanpa atribut jelas berdiri tegap, beberapa memegang tongkat kayu, yang lain membawa peralatan survei. Namun yang membuat jantung Mala seakan berhenti berdetak adalah suara teriakan dari arah dermaga kecil tempat para nelayan menambatkan perahu mereka.

“Berhenti! Jangan berani kalian sentuh perahu kami!”

Itu suara Bang Jali, ketua pemuda kampung yang paling vokal menolak proyek. Mala mempercepat larinya. Di sana, di antara pasir yang basah dan akar-akar bakau, sebuah ekskavator kecil yang diturunkan dari tongkang mulai merobohkan gudang penyimpanan jaring milik warga.

“Minggir! Ini perintah pengosongan lahan tahap awal!” teriak seorang pria dari kelompok berseragam hitam itu. Suaranya serak dan penuh otoritas yang dipaksakan.

“Pengosongan apa? Kami belum sepakat! Kalian tidak punya hak!” teriak Bang Jali sambil merangsek maju.

Prahara itu pecah dalam hitungan detik. Mala melihat salah satu pria berseragam itu mengayunkan tongkat kayunya ke arah Bang Jali. Suara prak yang keras terdengar saat kayu itu menghantam bahu Jali. Pemuda itu tersungkur, tetapi warga lain tidak tinggal diam. Amarah yang sudah dipendam berbulan-bulan meledak seketika.

“Serang!” teriak seseorang dari kerumunan warga.

Batu-batu mulai melayang. Teriakan histeris para perempuan memecah kesunyian pagi. Mala terpaku di tempatnya, matanya menangkap pemandangan yang mengerikan. Kabut yang tadinya berwarna abu-abu, kini seolah merona merah.

Darah pertama telah tumpah di pasir putih Malaka. Bang Jali berusaha bangkit dengan wajah bersimbah darah, sementara beberapa pemuda lain mulai terlibat perkelahian tangan kosong dengan para petugas bayaran tersebut.

“Mala, pulang! Bawa Makmu menjauh dari sini!” Pak Hamid berteriak, suaranya parau karena emosi. Ia merangsek maju untuk melerai, tetapi justru terkena dorongan hingga jatuh terduduk di air payau.

“Pak!” Mala menjerit. Ia berlari menerjang kerumunan, tidak peduli lagi pada bahaya. Ia menarik lengan ayahnya tepat saat sebuah sepatu bot hampir mendarat di dada pria tua itu.

Di tengah kekacauan itu, Mala melihat pria berkacamata hitam dari balai desa kemarin. Pria itu berdiri jauh di atas geladak kapal tongkang, mengamati kerusuhan seolah-olah itu hanyalah sebuah pertunjukan teater yang membosankan. Di tangannya, ia memegang sebuah dokumen yang digulung, sesekali berbicara ke dalam radio panggil.

“Tidak beradab!” teriak Mala ke arah kapal itu, meskipun suaranya tertelan oleh kebisingan mesin dan teriakan massa.

Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar. Bukan suara tembakan senjata api, melainkan gas air mata yang ditembakkan untuk membubarkan massa. Asap putih pekat mulai menyatu dengan kabut alami pagi itu, membuat mata perih dan napas terasa mencekik. Warga kocar-kacir. Mala terbatuk-batuk hebat, matanya mengeluarkan air mata yang panas. Ia kehilangan pegangan pada lengan ayahnya.

“Bapak! Pak Hamid!”

Mala meraba-raba dalam kepulan asap. Dunia di sekelilingnya menjadi buram. Ia mendengar suara tangis anak-anak yang terinjak dan makian para pria.

Dalam kepanikannya, Mala menabrak seseorang. Ia mengira itu ayahnya, tetapi saat asap sedikit menipis, ia melihat seorang wanita asing berkulit putih. Wanita itu memegang kamera dengan tangan gemetar, mencoba merekam setiap detail kekejaman yang terjadi.

“Lari ke arah bukit! Di sini tidak aman!” teriak gadis itu sambil menarik tangan Mala.

“Ayahku! Ayahku masih di sana!”

“Dia sudah lari ke arah kampung bersama yang lain! Ayo!”

Mala terpaksa mengikuti tarikan gadis itu. Mereka berlari menjauh dari pantai, menuju sekolah dasar yang terletak di dataran yang agak tinggi. Dari sana, Mala menoleh ke belakang. Kabut mulai tersapu oleh angin laut, menyingkap pemandangan yang menyayat hati.

Dermaga kecil itu kini hancur. Perahu-perahu nelayan yang menjadi tumpuan hidup warga banyak yang terbalik dan rusak tertabrak tongkang. Dan di atas pasir, bercak-bercak merah terlihat jelas—jejak perlawanan yang dibayar dengan luka.

Sesampainya di halaman sekolah, Mala jatuh berlutut. Napasnya tersengal, dadanya sesak bukan hanya karena gas air mata, tetapi karena kenyataan pahit yang baru saja disaksikannya. Sekolah tempat ia menanam mimpi bagi anak-anak pulau kini terasa seperti benteng yang rapuh.

“Siapa kau?” tanya Mala pada wanita berkamera itu setelah berhasil mengatur napasnya.

“Namaku Maria Bo. Aku wartawan lepas. Aku datang semalam setelah mendengar kabar bahwa penggusuran paksa akan dilakukan pagi ini,” jawab gadis itu sambil memeriksa hasil rekaman di kameranya. “Mereka ingin melakukan ini di bawah perlindungan kabut agar tidak banyak saksi, tetapi mereka tidak tahu aku sudah di sini.”

Mala menatap Maria dengan mata yang masih merah dan basah. “Kau punya bukti? Kau punya rekaman saat mereka memukul Bang Jali dan mendorong ayahku?”

Maria mengangguk mantap. “Semuanya ada di sini. Tapi kita harus cepat. Jika mereka tahu aku merekam ini, mereka tidak akan membiarkanku keluar dari pulau ini hidup-hidup.”

Mala menatap ke arah laut. Matahari kini sudah naik sepenuhnya, menyinari Selat Malaka dengan cahaya yang kejam. Kabut pagi yang mistis telah hilang, meninggalkan kenyataan yang berdarah. Prahara ini bukan lagi sekadar wacana atau ancaman di atas kertas. Ini adalah perang.

“Mereka pikir kita akan menyerah hanya karena mereka punya mesin dan uang,” bisik Mala, lebih kepada dirinya sendiri. Ia berdiri, mengusap debu di gamisnya dan menatap ke arah perkampungannya yang kini dipenuhi raungan duka.

“Mereka salah. Laut ini telah mengajari kami cara bertahan dari badai yang lebih besar dari sekadar ekskavator.”

Mala memutar kepalanya, menatap sekolahnya yang sunyi. Ia tahu, mulai besok, ia tidak akan lagi bercerita tentang keindahan laut di depan kelas. Ia akan mengajarkan anak-anaknya bagaimana cara mencintai tanah kelahiran yang sedang coba dirampas dari tangan mereka.

Kabut pagi mungkin telah membawa darah, tetapi cahaya siang ini menyalakan api perlawanan di mata Mala yang tidak akan mudah dipadamkan. [CM/Na]

Views: 3

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *