#30HMBCM
Oleh: Yayat Rohayati
CemerlangMedia.Com — Melansir dari laman voi.id, 9 November 2025 angka perceraian alami kenaikan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), perceraian sepanjang 2024 mencapai diangka 399.921 kasus. Dibandingkan tahun 2023 angka ini sedikit menurun, walaupun lebih tinggi dibanding angka kasus sebelum pandemi covid, sekitar 291.677 kasus.
Sedangkan di tingkat daerah, Pengadilan Agama Bojonegoro telah memutus perkara perceraian sebanyak 2.240 kasus selama sepuluh bulan terakhir di tahun ini. Di bulan Oktober ada 220 perkara gugatan diputuskan. Diantara penyebabnya adalah perselisihan dan pertengkaran terus menerus. Sementara kasus perceraian yang disebabkan masalah ekonomi alami penurunan, dari 53 kasus menjadi 25 kasus.
Hal ini bukan berarti masalah ekonomi masyarakat sudah membaik. Akan tetapi, karena perubahan klasifikasi hukum. Permasalahan ekonomi masih ada, bahkan semakin menekan. Hanya sekarang tertutupi oleh label perselisihan.
Di saat angka perceraian meningkat tajam di beberapa tahun terakhir, sebaliknya angka pernikahan mengalami penurunan. Banyak anak muda yang enggan untuk melakukan pernikahan resmi. Tentunya dilatarbelakangi banyak faktor.
Tren tidak mau menikah memang miris dan yang miris lagi tren perceraian yang terjadi di dua masa. Pertama, perceraian usia muda. Dialami mereka yang baru menapaki pernikahan belum sampai lima tahun sudah berpisah. Hal ini diakibatkan lemahnya kesiapan mental dalam pernikahan, dan kurangnya pemahaman makna rumah tangga. Kemudian yang kedua perceraian usia senja (grey divorce), perceraian yang terjadi setelah puluhan tahun menikah.
Fakta ini membuktikan bahwa keretakan bahtera rumah tangga tidak hanya mengancam pasangan muda, tapi juga pasangan yang telah lama bersama. Alhasil, dari perceraian melahirkan generasi rapuh. Sebab, ibu sebagai ummu madrasah al-uulaa dan ayah sebagai qawwam yang menjadi fondasi dari sebuah generasi tangguh nan cemerlang sudah tidak utuh lagi.
Kerapuhan bahtera rumah tangga, baik yang muda maupun yang senja berakar dari sistem ekonomi rusak yang melahirkan pemutusan hubungan kerja, penghasilan minim, harga kebutuhan pokok yang kian melonjak. Ketika buntu solusi, akhirnya memicu pertengkaran dan berujung perceraian.
Selain itu, akibat kebingungan mencari solusi perekonomian, judi online (judol) menjadi alternatif. Bukan masalah terselesaikan, tetapi malah menciptakan masalah baru. Akibat pusing mencari modal judol, emosi tak terkendali, terjadilah KDRT.
Kesalahan yang melatarbelakangi problematika di atas, bukan terletak pada permasalahan individu atau keluarga saja. Akan tetapi, terletak pada sistem yang menjadi landasan dalam kehidupan. Kenapa? Karena sistem hari ini diatur oleh aturan manusia. Dimana manusia sebagai pembuat hukum memiliki sifat lemah, terbatas, dan serba kurang. Sehingga dengan sifat-sifat tersebut timbulah kerusakan dalam segala aspek kehidupan.
Berbeda halnya ketika IsIam yang menjadi landasan dalam berkehidupan. Dalam sistem IsIam, negara akan melakukan pembinaan pada setiap individu agar memiliki pola pikir dan pola sikap IsIami sehingga terbentuk kepribadian IsIam.
Negara juga akan menerapkan sistem pergaulan IsIam dalam rangka menjaga hubungan dalam keluarga dan sosial masyarakat, tentunya berlandaskan ketakwaan.
Dalam sistem pergaulan IsIam, perempuan adalah ibu dan pengatur rumah tangga yang kehormatannya harus dijaga.
Rasulullah saw. bersabda, “Nikahilah oleh kalian wanita yang penyayang dan subur keturunannya, karena sesungguhnya aku akan bangga dengan banyaknya umatku para hari kiamat nanti.” (HR Abu Daud).
Dalam sistem perekonomian IsIam, tolok ukur keberhasilan perekonomian diukur dari tercapainya kesejahteraan masyarakat dalam hal pemenuhan kebutuhan pokok, seperti sandang, pangan, dan papan. Serta kebutuhan dasar lainnya seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan.
Dengan begitu, setiap bahtera rumah tangga akan tercipta kuat dan harmonis. Generasi pun akan terjaga dengan penerapan syariat IsIam secara keseluruhan dalam bingkai Daulah Islamiyyah.
Wallahu a’lam.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 60






















