#30HMBCM
Oleh: Vivi Nurwida
CemerlangMedia.Com — Ada luka besar yang kembali menganga setiap kali Gaza dibombardir. Anak-anak berlari ketakutan, bangunan runtuh menjadi debu, dan jerit ibu-ibu memenuhi langit malam. Namun, ada satu hal yang lebih menusuk daripada dentuman bom, yaitu keheningan dunia.
Keheningan itu bukan ketidaktahuan. Bukan ketidaksengajaan. Itu adalah pilihan. Pilihan negara-negara besar yang lebih peduli pada kepentingan geopolitik dibandingkan nyawa manusia. Pilihan lembaga internasional yang hanya mampu membuat pernyataan, tetapi tidak pernah menggerakkan kekuatan. Pilihan rezim-rezim muslim yang lebih takut kehilangan dukungan Barat daripada kehilangan kehormatan di hadapan Allah. Inilah fakta pahit yang harus kita terima, dunia memilih diam.
Tidak Bisa Berharap pada PBB
Kita menyaksikan bagaimana lembaga-lembaga internasional yang digadang-gadang sebagai penjaga perdamaian ternyata tak lebih dari ruang pertemuan tempat kata-kata diputar, tetapi keputusan nyata tidak pernah lahir. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), misalnya, yang semestinya menjadi garda terdepan penyelesaian konflik global, justru sering tampak tidak berdaya.
Setiap seruan untuk menghentikan kekejaman selalu terbentur veto negara besar, setiap rekomendasi kemanusiaan terhenti di meja perundingan, setiap harapan rakyat tertindas tertutup oleh kepentingan politik global. Bagaimana mungkin keadilan lahir dari sistem yang dapat dihentikan oleh satu suara veto dari negara pendukung penjajah?
PBB bukanlah rumah keadilan. Ia hanyalah panggung tempat negara-negara kuat menentukan siapa yang boleh hidup dan siapa yang boleh ditindas. Oleh karena itu, menunggu PBB membela Gaza sama saja seperti menunggu musim yang tidak akan datang.
Negeri Muslim dan Hilangnya Ruh Kepemimpinan
Lebih dari 50 negara muslim memiliki jutaan tentara, kekayaan yang luar biasa, dan lokasi yang strategis. Secara potensi, dunia Islam adalah raksasa, tetapi mengapa Gaza tetap sendirian?
Ini karena ruh kepemimpinan Islam telah terkubur. Negeri-negeri muslim terjebak dalam sistem sekuler yang memisahkan kekuasaan dari akidah. Mereka tidak digerakkan oleh iman, tetapi oleh perhitungan politik pragmatis.
Ikatan ukhuah islamiah yang seharusnya menjadi landasan hubungan antar kaum muslim telah tertimbun oleh jabatan, kursi kekuasaan, persekongkolan diplomatik, dan ketakutan kehilangan legitimasi di mata Barat. Mereka lebih takut dimarahi Barat, daripada dimurkai Allah.
Padahal Allah telah memeberi kita gelar umat terbaik, dengan firman-Nya, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah.” (TQS Ali ‘Imran: 110).
Kehormatan umat Islam bukanlah mitos. Itu pernah nyata. Allah menegaskannya kembali, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman… bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi…” (TQS An-Nur: 55).
Janji itu pernah terwujud di masa Rasulullah saw., para sahabat, dan para khalifah yang membentangkan keadilan ke seluruh penjuru bumi. Sejarah mencatat bagaimana Khalifah Al-Mu’tasim mengerahkan pasukan hanya untuk membela kehormatan satu wanita muslimah di Amuriyah. Sultan Abdul Hamid II menolak menjual sejengkal tanah Palestina, meskipun diiming-imingi kekayaan tak terhingga oleh Zi*nis.
Bandingkan dengan penguasa muslim hari ini.
Ada yang justru menormalisasi hubungan dengan penjajah.
Ada yang membungkam ulama yang bersuara.
Ada yang membuka pangkalan untuk tentara penjajah.
Tak hanya lalai, sebagian bahkan ikut menjadi bagian dari rantai penjajahan atas Gaza.
Solusi Hakiki untuk Palestina
Sampai kapan umat Islam akan berharap pada lembaga-lembaga internasional yang tidak memiliki keberpihakan? Sampai kapan kita terjebak dalam diplomasi yang tidak pernah menghasilkan apa pun selain kekecewaan?
Gaza tidak hanya membutuhkan bantuan kemanusiaan. Gaza membutuhkan perlindungan, pembebasan, dan kekuatan yang mampu menghentikan penjajah.
Dan itu hanya akan terwujud dengan satu cara, yaitu kembalinya kepemimpinan Islam yang menyatukan negeri-negeri muslim dalam satu kekuatan politik, militer, dan ideologi sebagaimana pernah diwujudkan oleh Khilafah Islamiyah.
Di bawah komando khalifah, tentara-tentara muslim digerakkan untuk membebaskan wilayah-wilayah terjajah. Sekat-sekat nasionalisme dihancurkan. Normalisasi dan perjanjian pengkhianatan dibatalkan. Tidak ada damai dengan penjajah. Tidak ada pengakuan terhadap eksistensi kezaliman.
Ini bukan slogan emosional. Ini solusi syar’i, historis, dan satu-satunya jalan yang pernah menorehkan kemenangan nyata untuk umat Islam.
Sudah Cukup Diam, Saatnya Umat Bangkit
Umat Islam adalah umat terbaik, tetapi gelar itu tidak akan bermakna selama kita diam. Dahulu, bendera Islam berkibar tinggi. Nama kita menggetarkan dunia. Keadilan Islam menaungi bangsa-bangsa. Namun hari ini, kehormatan itu diremas, darah kaum muslim ditumpahkan, dan tanah kita diinjak-injak.
Sudah cukup menunggu. Sudah cukup berharap pada sistem yang tidak dibangun untuk menolong kita. Sudah cukup membiarkan Gaza menanggung sendiri beban umat.
Gaza tidak membutuhkan doa kosong. Gaza membutuhkan umat yang sadar bahwa kemenangan tidak turun kepada kaum yang pasrah, tetapi kepada kaum yang berjuang.
Kita harus kembali menapaki jalan yang ditempuh Rasulullah saw., jalan dakwah yang menegakkan Islam secara kafah hingga umat ini kembali dipimpin oleh satu kepemimpinan yang melindungi seluruh kaum muslim.
Diamnya dunia harus menjadi pemantik kesadaran kita. Bangkitnya umat adalah satu-satunya jawaban atas penderitaan Gaza.
Wallahu a‘lam bisshawab
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 41






















