Mengkritisi Politisasi Islam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Hasnah Lubis

CemerlangMedia.Com — Menjadikan Islam sebagai dasar dalam berpolitik bukanlah politisasi Islam, melainkan islamisasi politik yang saat ini justru dijauhi oleh masyarakat. Islam kok berpolitik? Politik itu kan kotor! Begitu pandangan mereka. Padahal sejatinya antara Islam dan politik tidak bisa dipisahkan. Politik dan agama bagaikan dua mata sisi koin.

Di dalam Islam, politik merupakan aktivitas mengurusi urusan umat. Suatu aktivitas mulia dan menjadi pokok dari kebangkitan Islam di seluruh lini kehidupan. Pengimplementasian Islam karena itu politik harus berdasarkan Islam. Bila politik diartikan sebagai pengaturan urusan rakyat, maka pengaturan itu pun juga harus berdasarkan syariat Islam.

Akan tetapi, pernyataan dari Menteri Agama (Menag) menjelang pesta demokrasi sangatlah kontroversial. Menteri Agama (Menag) RI Yaqut Cholil Qoumas mengimbau masyarakat agar tidak memilih pemimpin yang memecah belah umat dan menggunakan agama sebagai alat politik. Hal ini ia sampaikan saat menghadiri Tablig Akbar Idul Khotmi Nasional Thoriqoh Tijaniyah ke-231 di Pondok Pesantren Az-Zawiyah, Tanjung Anom, Garut, Jawa Barat.

Dalam hal ini, Yaqut menegaskan agar tidak memilih calon pemimpin yang menggunakan agama sebagai alat politik guna memperoleh kekuasaan. “Agama seharusnya dapat melindungi kepentingan seluruh umat, masyarakat. Umat Islam diajarkan agar menebarkan Islam sebagai rahmat, rahmatan lil ‘alamin, rahmat untuk semesta alam. Bukan rahmatan lil Islami, tok,” begitu katanya. “Harus dicek betul. Pernah nggak calon pemimpin kita, calon presiden kita ini memecah belah umat. Kalau pernah, jangan dipilih,” kata Menag Yaqut dalam keterangan tertulis di Jakarta, Ahad (republika.id, 3-9-2023).

Paradigma Sekularisme

Pernyataan Menag ini menunjukkan paradigma politik yang sekuler karena sangat jelas menghilangkan peran agama dari politik. Pernyataan seperti ini untuk menyebarkan opini yang menyesatkan umat karena menganggap Islam sebagai alat politik untuk menduduki kekuasaan. Seakan Islam menjadi momok yang menakutkan sehingga harus di hilangkan dari kancah perpolitikan.

Tidak heran memang apabila mereka mengatakan berpolitik jangan membawa-bawa Islam karena paham yang dianut di negeri ini adalah paham sekularisme. Di dalam sekularisme, negara wajib memisahkan agama dari kehidupannya. Agama hanya dicukupkan dalam ibadah ritual semata seperti syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji.

Tak ada satu pun penguasa di alam demokrasi yang menjadikan Islam kafah sebagai landasan dalam berkuasa. Al-Qur’an dan as-Sunah justru malah digantikan dengan undang undang buatan manusia. Hukum Islam dihilangkan dan di gantikan dengan hukum kufur buatan manusia yang digodok oleh para politisi dan penguasa di gedung parlemen. Politik Islam dilabeli negatif oleh mereka dengan label politik yang memecah belah umat.

Mirisnya, sekalipun dikatakan tak boleh politisasi Islam, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Menjelang pesta demokrasi 2024, mereka berlomba-lomba mendekati umat Islam. Berkamuflase, seolah penguasa taat agama. Menjelang pemilu tiba-tiba berhijab, bersorban, menjalin silaturahmi kepada para ulama dan pesantren yang tak lain tujuannya demi meraih suara umat.

Terlihat jelas mereka telah melakukan politisasi Islam dan memperalat Islam untuk meraih tujuan politiknya. Inilah wajah asli sistem demokrasi sekuler yang menjadikan Islam sebagai alat untuk meraih kekuasaan, setelah kursi kekuasaan sudah didapatkan, maka Islam ditinggalkan. Bahkan Islam dilabeli negatif seperti radikal dan teroris. Sementara para ulamanya dikriminalisasi, ajaran Islam begitu ditentang. Maka dari itu sistem demokrasi sekuler harus di tinggalkan.

Politik Islam

Berbeda dengan Islam, sejatinya antara Islam dan politik tidak bisa dipisahkan. Politik merupakan salah satu bentuk pengamalan Islam karena politik harus berdasar dan untuk kepentingan Islam. Politik Islam akan mendatangkan kebaikan dan rahmat bagi semesta alam.

Politik dalam Islam itu justru mengemban amanah mulia. Mereka yang duduk di bangku kekuasaan adalah orang-orang kompeten yang bertekad menerapkan syariat Islam secara menyeluruh di dalam negara Islam.

Islam menijadikan politik sebagai uslub untuk mewujudkan perintah Allah dan Rasul-Nya. Bagi umat Islam, politik adalah bagian dari aktivitas dakwah, politik adalah bagian dari syariat Islam. Allah menurunkan Islam sebagai ideologi yang darinya terpancar seperangkat aturan. Politik dalam Islam adalah mengatur, memimpin, memelihara dan mengurus urusan umat.

Seperti yang disebutkan di dalam hadis Rasulullah saw., dari Abu Hurairah radhiallahu anhu. Dahulu Bani Israil dipimpin oleh para nabi setiap kali seorang nabi meninggal ia akan digantikan oleh nabi lain, tetapi sungguh tidak ada nabi lagi sesudahku dan sepeninggalku, akan ada para khalifah lalu jumlah mereka akan banyak. Dalam kitabnya Daulah Islam, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa politik adalah mengurus urusan umat. Dengan menerapkan hukum Islam, baik di dalam maupun di luar negeri. Gambaran agama dan politik yang saling berkaitan dapat dipahami dari pendapat banyak ulama yang hidup di masa kejayaan Islam, salah satunya dalam perkataan Imam Al-Ghazali, “Kekuasaan dan agama adalah saudara kembar, agama merupakan fondasi dan penguasa adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki fondasi akan hancur, dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang,”

Sudah sangat jelas politik bukan hal yang terpisah dengan Islam, apalagi digunakan untuk berebut kekuasaan. Rasulullah saw. telah mencontohkan praktik politik Islam. Beliau mengurus seluruh urusan manusia dengan syariat Islam. Ketika Islam menjadi asas politik, politik akan berjalan dengan benar dan membawa kemaslahatan. Dan terbukti berdiri kokoh selama 1300 tahun dalam naungan Daulah Khil4f4h.

Sudah waktunya kaum muslimin kembali kepada makna politik hakiki seperti yang diajarkan Islam. Adapun tujuan politik saat ini adalah melanjutkan kehidupan Islam. Memilih pemimpin bukan sekadar beragama Islam, tetapi pemimpin yang menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan sehingga tercipta rahmat bagi semesta alam. Wallahu a’alam bisshawwab. [CM/NA]

Views: 29

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *