Sedekah, Meraih Keberkahan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Penulis: Ummi Fatih

Menjelang Ramadan tiba, negara memantau berbagai persediaan bahan pangan agar kualitas, harga, dan jumlah di pasaran stabil. Negara juga menugaskan para aparatur keamanan untuk menjaga masyarakat dari kemaksiatan.

CemerlangMedia.Com — Ramadan adalah bulan penuh berkah. Berbagai kesempatan istimewa dibuka oleh Allah bagi kaum yang bertakwa. Di dalam inti ibadahnya yang berupa puasa saja, ada dua nikmat yang luar biasa.

“Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya.” (Muttafaq ‘alaih).

Kemudian dalam ibadah-ibadah salat sunah pun, nilai pahalanya dapat berlipat ganda. Ketika masjid diramaikan dengan tarawih dan itikaf, keberkahan satu malam Lailatulqadar yang lebih baik daripada malam 1000 bulan bisa diraih.

Jika demikian, patutlah kita toleh kembali kondisi para korban bencana alam Sumatra. Apakah ibadah Ramadan ini sudah dapat mereka jalani dengan lancar? Sebab, bantuan pangan untuk sahur dan berbuka masih sulit didapatkan. Listrik masih padam sehingga ibadah salat dan membaca Al-Qur’an juga menjadi susah dilakukan.

Wakil DPRD Sumatra Utara Sutarto saja sudah menyatakan bahwa aliran air bersih, BBM, dan listrik di wilayah Sumatra masih sedikit. Oleh karena itu, pemerintah seharusnya segera memberikan jaminan bagi masyarakat korban bencana selama Ramadan 1447 H ini (bonarinews.com, 20-02-2026).

Pemimpin negeri ini telah ramai diberitakan memberi sumbangan 1.455 ekor sapi seharga Rp72 miliar untuk tradisi menyambut Ramadan Meugang Aceh pada (17-02-2026). Namun, apakah jumlah sapi yang dibagikan pada 19 kabupaten tersebut dapat mencukupi kebutuhan pangan jutaan korban untuk sebulan Ramadan?

Selain itu, bangunan huntara yang diklaim pemerintah sebagai kebijakan rekonstruksi pasca bencana juga patut untuk dipertanyakan. Sebab, sertifikat pendanaannya yang rumit, membuat proses pembangunannya menjadi panjang. Ditambah lagi lokasi bangunan yang didirikan di atas lahan mantan proyek perkebunan, membuat kondisi kehidupan makin mengkhawatirkan. Hasilnya, ibadah Ramadan pun menjadi sulit ditunaikan.

Jika sebelumnya sudah diketahui bahwa akar masalah banjir adalah karena pengubahan daerah hutan menjadi perkebunan, bukankah seharusnya lahan itu dikembalikan lagi menjadi area alam liar berpohon besar? Jika pengubahannya justru menjadi barisan bangunan huntara, kondisi alam ekstrem akan mudah mendatangkan bencana lagi. Akhirnya, huntara akan ambruk, kerugian menumpuk, dan kehidupan rakyat makin terpuruk.

Efek Kapitalisme

Dari fakta di atas, tujuan bantuan dan kebijakan pemerintah perlu dipertanyakan. Apakah sudah sesuai dengan tanggung jawab kepemimpinan dan tulus demi kemanusiaan?

Sebab, ketulusan adalah hal yang seharusnya disembunyikan, bukan dipamerkan di berbagai media. Tanggung jawab dalam kepemimpinan juga merupakan kewajiban yang sudah seharusnya ditunaikan.

Sayangnya, ketika sistem kapitalisme diterapkan, landasan utama perbuatan lebih fokus mencari keuntungan pribadi. Akibatnya, pemberi bantuan terbanyak dan terbaik selama ini masih tampak dari pihak masyarakat yang tidak memamerkan diri.

Mirisnya, dampak kapitalisme juga membuat rakyat makin jauh dari kesejahteraan dan keimanan. Bantuan pemenuhan kebutuhan dari pemerintah hanya sementara sehingga mereka tidak merasakan kemakmuran. Mereka merasa sedih dan kebingungan hingga sulit untuk khusyuk beribadah dalam berbagai kesempatan, terutama saat Ramadan.

Khil4f4h Menyejahterakan

Khil4f4h adalah suatu bentuk negara berlandaskan syariat Islam. Posisi seorang pemimpin bukan hanya sekadar kepala negara yang dihormati dan dikagumi, tetapi lebih dipandang sebagai pelayan rakyatnya.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam At Tirmidzi dan Abu Daud, Rasulullah saw. bersabda,
“Siapa yang diserahi oleh Allah Swt. mengatur kepentingan kaum muslimin, kemudian ia sembunyi dari hajat kepentingan mereka, maka Allah Swt. akan menolak hajat kepentingan dan kebutuhannya pada hari kiamat.”

Pemimpin negara akan sadar bahwa ia harus bertanggung jawab optimal. Berbagai kebijakan dibuat berdasarkan syariat. Hasilnya, kehidupan masyarakat akan sejahtera dan saat Ramadan, mereka dapat khusyuk beribadah.

Ketika syariat Islam menunjukkan bahwa hutan termasuk kategori harta milik umum, maka pihak swasta dilarang untuk terlibat dalam tata kelolanya. Kebutuhan modal dapat segera diambil dari kas negara. Masyarakat juga dapat langsung diangkat menjadi tenaga kerja yang patut diupah.

Selanjutnya, hasil pengelolaan hutan wajib dikembalikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dengan begitu, kesejahteraan terjamin dan peribadahan mereka menjadi tenang sepanjang masa.

Bahkan, menjelang Ramadan tiba, negara memantau berbagai persediaan bahan pangan agar kualitas, harga, dan jumlah di pasaran stabil. Negara juga menugaskan para aparatur keamanan untuk menjaga masyarakat dari kemaksiatan.

Semua hal itu mereka lakukan agar kewajiban puasa terlaksana dan predikat utama menjadi sosok bertakwa tercapai, sebagaimana firman Allah Swt.,
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al Baqarah: 183).

Pada masa pemerintahan Daulah Bani Abbasiyah, lembaga pengawas ekosistem pasar yang disebut Hisbah didirikan. Melalui lembaga Hisbah ini, kedamaian dan kemakmuran hidup dapat dirasakan sehingga ibadah dapat berjalan dengan tenang.

Selain dari kewaspadaan sistem ekonomi Islam, ideologi Islam yang dianut negara juga akan melahirkan pemikiran cemerlang. Pemimpin dan rakyat akan selalu mengejar rida Allah Swt. sehingga membawa berkah setiap waktu, bukan hanya saat Ramadan. Sebab, mereka telah yakin dan paham terhadap firman Allah Swt.,
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf: 96).

Namun, ketika Daulah Khil4f4h belum kembali ditegakkan dan kehidupan masih jauh dari harapan, mari bangkit di Ramadan ini untuk mengubah kondisi kehidupan saat ini. Sedekahkan harta, tahta, dan tenaga untuk berjuang bersama para jemaah ideologis Islam agar keberkahan bulan mulia bisa dapatkan.

Dari Anas ra., sahabat bertanya, “Sedekah apa yang paling utama? Rasulullah saw. bersabda, ‘Sedekah bulan Ramadan.” (HR Tirmidzi). [CM/Na]

Views: 6

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *