Solusi Islam Atasi Kemacetan Berulang

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Cokorda Dewi

CemerlangMedia.Com — Meski hari libur Lebaran telah berlalu, tetapi tetap menyisakan PR (pekerjaan rumah) problematika kemacetan yang tak kunjung usai. Setiap tahun, arus mudik maupun arus balik selalu diwarnai oleh kecelakaan dan kemacetan yang berulang, bahkan hingga menimbulkan korban jiwa.

Kemacetan parah mengular di jalur Denpasar-Gilimanuk. Antrean kendaraan pemudik hingga mencapai sejauh 45-50 kilometer dari Pelabuhan Gilimanuk. Bahkan, kemacetan telah terjadi sejak malam kemarinnya. Mereka mengantre hingga tujuh jam lamanya (kompas.tv, 15-03-2026).

Sementara arus lalu lintas menuju Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten, dikabarkan padat merayap. Antrean kendaraan di Merak terjadi karena pemberlakuan sistem tiba bongkar berangkat (TBB) untuk mengurai kepadatan di Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Kemacetan mengular hingga satu kilometer (detik.com, 31-03-2026).

Kasus kecelakaan lalu lintas selama arus mudik dan arus balik di wilayah Jawa Barat mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan tahun lalu. Penurunan angka kecelakaan di jalur lalu lintas Jawa Barat disinyalir tidak lepas dari kerja sama berbagai pihak, baik jajaran kepolisian, instansi terkait, maupun masyarakat yang mematuhi aturan lalu lintas (cnnindonesia.com, 01-04-2026).

Upaya yang dilakukan oleh pemerintah hanya bersifat teknis untuk dapat mengurai kepadatan kemacetan saat libur lebaran, baik itu arus mudik maupun arus balik. Padahal sumber masalah dari kemacetan ini adalah disebabkan oleh penumpukan kendaraan di jalanan. Banyaknya pengguna kendaraan pribadi melakukan perjalanan di waktu yang bersamaan, yaitu saat momen arus mudik dan arus balik selama libur lebaran.

Penumpukan jumlah kendaraan yang melampaui kapasitas beban jalan yang ada akan menimbulkan masalah baru, yaitu rusaknya jalan. Masalah ini timbul karena jumlah kendaraan yang beredar tidak berbanding lurus dengan peningkatan kapasitas beban jalan. Mengakibatkan banyak jalan yang rusak dan tanpa perbaikan yang cepat. Apalagi jika tidak ada perawatan rutin terhadap kondisi jalan raya sehingga mengakibatkan rawan terjadinya kecelakaan.

Dalam sistem sekuler kapitalisme, yang diutamakan negara adalah asas manfaat dan keuntungan. Negara tidak dapat berfungsi sebagai raa’in yang mengurusi urusan rakyat dan menjadi abai akan jaminan keselamatan rakyat.

Dalam kasus mudik lebaran ini, penyebab penumpukan kendaraan di jalanan dikarenakan tidak adanya transportasi massal yang aman, nyaman, ramah, dan murah sehingga masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi. Sementara prasarana transportasi, yaitu jalan raya, tidak mengalami pertumbuhan atau perkembangan yang sejalan dengan jumlah kendaraan yang beredar. Manajemen rekayasa lalu lintas pun tidak dapat membantu mengurai permasalahan ini. Jadi penyelesaiannya hanya bersifat teknis pragmatis saja, contohnya buka tutup jalan, sistem one way, pengalihan jalan alternatif, menghimbau pemudik berhati-hati selama berkendara, mematuhi aturan lalu lintas, dan sebagainya.

Dalam sistem Islam, negara hadir sebagai raa’in. Negara akan mampu mencari solusi atas permasalahan yang timbul. Negara tidak akan abai terhadap keselamatan rakyatnya. Negara akan berusaha menyediakan sarana transportasi massal yang memadai dan mencukupi, aman, nyaman, ramah, dan murah sehingga tidak akan terjadi lagi penumpukan kendaraan pribadi yang membludak di jalanan.

Negara akan memperbaiki kondisi prasarana transportasi yang rusak, memelihara dan merawat secara rutin sehingga aman dan nyaman bagi penggunanya. Manajemen rekayasa lalu lintas pun akan lebih mudah diterapkan untuk memastikan lalu lintas berjalan sesuai dengan yang diharapkan bersama, yaitu mengutamakan keamanan, keselamatan, dan kenyamanan, juga ketertiban dan efisiensi bagi pengguna moda transportasi, baik itu di darat, laut, maupun udara. Jadi, solusinya akan bersifat komprehensif, tepat sasaran, jangka panjang, paripurna untuk kemaslahatan umat. Wallahu a’lam bisshawwab.

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 11

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *