Hidup yang Tidak Menjanjikan Kepastian

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Penulis. Aksara Senja

CemerlangMedia.Com — Harapan tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari pergulatan panjang manusia menghadapi kenyataan hidup. Setelah harapan ditegakkan sebagai sandaran iman, muncul satu pertanyaan yang tak bisa dihindari: mengapa hidup terasa makin berat dan masa depan kian sulit dipastikan? Pertanyaan inilah yang mengantar kita pada wajah kehidupan hari ini—sebuah realita yang menuntut perjuangan tanpa memberikan jaminan kepastian.

Di tengah sistem yang berjalan, manusia diajarkan untuk merencanakan hidup dengan matang, bekerja keras, dan bersaing tanpa henti. Namun pada saat yang sama, hasil dari semua usaha itu sering kali tidak sebanding dengan pengorbanan yang dikeluarkan. Ketidakpastian bukan lagi pengecualian, melainkan menjadi bagian dari keseharian. Dari sinilah luka itu bermula, dan dari sinilah kegelisahan kolektif terbentuk.

Salah satu luka terdalam kehidupan hari ini adalah hilangnya kepastian. Manusia hidup dalam sistem yang menuntut perencanaan matang, tetapi tidak menyediakan jaminan hasil. Segalanya serba kompetitif, serba cepat, dan serba tidak pasti. Hidup seolah menjadi perjudian panjang: siapa yang kuat bertahan, itulah yang dianggap berhasil, sementara yang jatuh dibiarkan tertinggal.

Pendidikan yang selama ini dijanjikan sebagai jalan menuju masa depan yang lebih baik, perlahan kehilangan maknanya. Gelar akademik tidak lagi menjamin pekerjaan yang layak. Bertahun-tahun belajar, menghabiskan biaya besar, sering kali berujung pada pengangguran atau pekerjaan yang jauh dari harapan. Namun, ironi tidak berhenti di sana. Mereka yang tidak memiliki akses pendidikan justru berada dalam kondisi yang lebih rapuh, terperangkap dalam lingkaran kemiskinan yang nyaris mustahil ditembus.

Di saat yang sama, kesehatan berubah menjadi barang mahal. Ketika sakit datang, bukan hanya tubuh yang diuji, tetapi juga kemampuan ekonomi. Banyak orang dipaksa memilih antara berobat atau memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dalam sistem seperti ini, sehat bukan lagi hak dasar, melainkan privilese bagi mereka yang mampu membayar.

Kesulitan ekonomi yang terus berulang melahirkan kebingungan lintas generasi. Anak muda tumbuh dalam kegamangan: bekerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan, sementara masa depan terasa makin kabur. Mereka diminta optimis, tetapi realita tidak memberi cukup alasan untuk percaya. Sementara itu, para orang tua hidup dalam tekanan yang tak kalah berat—memikirkan biaya pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga dan ketakutan akan hari tua yang tidak terjamin.

Ironisnya, di tengah jeritan kehidupan rakyat, banyak pejabat pemerintah justru hidup dalam jarak yang aman dari penderitaan tersebut. Kebijakan dibuat dari ruang-ruang nyaman, jauh dari realita lapangan. Kesulitan rakyat direduksi menjadi angka statistik, bukan jeritan manusia. Ketika sistem gagal memberikan kepastian, yang terjadi bukan sekadar krisis ekonomi, melainkan krisis kepercayaan.

Islam memandang ketidakpastian ini bukan sebagai keniscayaan hidup, melainkan sebagai akibat dari sistem yang disusun tanpa landasan keadilan hakiki. Ketika manusia mengatur kehidupan hanya berdasarkan kepentingan materi dan kekuasaan, maka ketimpangan adalah hasil yang tak terhindarkan. Allah ﷻ mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.” (QS Ar-Rum: 41).

Ayat ini menegaskan bahwa kekacauan hidup bukanlah takdir semata, tetapi konsekuensi dari sistem dan kebijakan yang menyimpang dari nilai kebenaran. Ketika keadilan diabaikan, ketidakpastian menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun, Islam juga mengajarkan bahwa sumber kepastian sejati bukanlah sistem buatan manusia, melainkan ketundukan kepada Allah. Di tengah dunia yang rapuh, Allah menawarkan satu sandaran yang tidak pernah goyah,
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS At-Talaq: 2–3).

Ayat ini bukan janji kosong, tetapi jaminan Ilahi. Kepastian hidup bukan terletak pada gelar, jabatan, atau kekayaan, melainkan pada hubungan manusia dengan Tuhannya. Ketika dunia gagal memberi rasa aman, iman justru menjadi tempat kembali.

Hidup dalam ketidakpastian memang melelahkan. Namun bagi seorang beriman, kebingungan ini seharusnya menjadi alarm kesadaran bahwa sistem kehidupan hari ini tidak cukup untuk menjamin kesejahteraan manusia. Islam tidak hanya menawarkan ketenangan individu, tetapi juga kerangka nilai yang adil untuk mengatur kehidupan secara menyeluruh.

Maka, di tengah dunia yang tidak menjanjikan kepastian, seorang muslim tidak boleh kehilangan arah. Ia boleh lelah, boleh kecewa, tetapi tidak boleh menyerah karena kepastian sejati tidak pernah berasal dari manusia, melainkan dari Allah Yang Maha Mengatur kehidupan.

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 16

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *