Perempuan yang Kehilangan Suara

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Penulis: Kak Na

CemerlangMedia.Com, MEMOAR — Aku masih mengingat rumah itu. Rumah yang dahulu kupikir akan menjadi tempat paling aman untuk pulang. Tempat aku bisa meletakkan lelah tanpa takut dihakimi. Tempat dua manusia saling menggenggam ketika dunia terasa terlalu berat. Namun ternyata, rumah juga bisa berubah menjadi tempat paling sunyi bagi seseorang yang perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Malam-malam di rumah itu terasa panjang. Terlalu panjang. Setelah semua pekerjaan selesai, setelah dapur kembali rapi, setelah suara televisi dimatikan dan seluruh isi rumah tertidur, justru aku masih terjaga sendirian.

Aku duduk di lantai dingin sambil memeluk lututku sendiri. Tidak menangis atau mungkin lebih tepatnya, sudah terlalu lelah untuk menangis. Ada sesak yang menggantung di dada seperti batu besar yang tak mampu dipindahkan. Aku mencoba bernapas seperti biasa, tetapi rasanya ada sesuatu yang menekan dari dalam.

Rumah itu sunyi. Namun anehnya, kepalaku tidak pernah benar-benar tenang.

Ada terlalu banyak kalimat yang terus berputar di sana. Nada bicara yang tajam. Tatapan yang membuatku merasa kecil.

Kekecewaan-kekecewaan yang tidak pernah benar-benar selesai dibicarakan. Aku mulai terbiasa menelan semuanya sendiri.

Bukan karena aku tidak punya perasaan. Bukan karena aku tidak ingin bicara, tetapi karena terlalu sering merasa bahwa suaraku tidak pernah benar-benar didengar.

Setiap kali ingin menjelaskan isi hati, selalu ada ketakutan yang lebih dahulu membungkam. Takut dianggap berlebihan. Takut suasana makin buruk. Takut perkataanku justru menjadi sumber pertengkaran baru.

Akhirnya, aku memilih diam. Ternyata, diam yang terlalu lama mampu mengikis seseorang sedikit demi sedikit, bahkan sampai ia tidak lagi mengenali dirinya sendiri.

Ada malam ketika aku berdiri cukup lama di depan cermin. Aku memandangi wajahku sendiri yang terlihat begitu asing. Mataku sembab. Lingkar hitam di bawah mata makin menampilkan kelelahan yang tidak pernah selesai.

Namun, aku tetap tersenyum kecil seolah semuanya baik-baik saja. Lalu dalam hati aku bertanya pelan, “Apa aku masih hidup sebagai diriku sendiri?”

Aku bahkan tidak tahu sejak kapan mulai kehilangan diriku.

Hari-hari tetap berjalan seperti biasa. Aku tetap menjadi istri. Tetap memasak. Tetap menyambut orang lain dengan senyum. Tetap terlihat kuat di depan siapa pun.

Namun, di dalam diriku, ada sesuatu yang perlahan mati. Aku sering menangis diam-diam di malam hari sambil menutup mulutku sendiri agar tidak ada suara yang keluar. Dan aku mulai memahami, tangisan paling menyakitkan memang bukan yang terdengar keras, melainkan yang dipaksa tetap sunyi.

Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa perempuan harus kuat. Harus banyak bersabar. Harus menjaga rumah tangga, apa pun yang terjadi. Aku percaya, diam adalah bentuk kedewasaan. Aku percaya, persoalan akan selesai jika aku cukup sabar menahannya sendiri.

Namun, makin lama, aku mulai merasa ada sesuatu yang salah. Mengapa rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang, justru terasa seperti tempat yang menguras jiwa?

Mengapa aku mulai takut menjadi diriku sendiri? Mengapa aku merasa sendirian, bahkan ketika tidak sedang sendiri? Pertanyaan-pertanyaan itu tinggal lama di kepalaku san tanpa kusadari, saat itulah hidupku sebenarnya mulai runtuh perlahan.

Rumah itu perlahan berubah menjadi medan perang yang tidak terlihat. Tidak ada pecahan kaca. Tidak selalu ada teriakan. Namun, ada luka-luka yang tumbuh diam-diam di dalam hati. Makin hari makin subur, lalu mematikan keceriaan semu yang selama ini berusaha kupelihara.

Aku seperti sedang memakan buah simalakama. Diam terasa menyakitkan, tetapi berbicara justru terasa lebih menakutkan.

Makin lama aku memilih diam, keadaan justru makin memburuk. Sikapku yang terus menahan semuanya membuat orang-orang mengira aku baik-baik saja. Seolah aku menerima semua ketidakbertanggungjawaban itu. Seolah aku tidak terluka. Seolah aku sanggup menanggung semuanya sendiri.

Padahal, setiap hari aku sedang runtuh sedikit demi sedikit. Aku lelah memikirkan semuanya sendirian. Lelah menjaga perasaan semua orang, sementara hatiku sendiri tidak pernah benar-benar dijaga.

Karena aku terus diam, orang tuaku mulai masuk ke dalam persoalan rumah tanggaku. Mereka melihat sesuatu yang selama ini berusaha kusembunyikan. Mereka melihat mataku yang makin kosong. Mereka melihat bagaimana aku mulai kehilangan semangat hidup.

Mereka melihat bagaimana aku bertahan sambil perlahan hancur. Menutupi setiap retak dengan ucapan yang terus kuulang sendiri, “Dia pasti berubah…”

Baca selengkapnya di ==== ⇒ Memoar Sahabat CM

[CM/Na]

Views: 7

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *