Penulis: Widhy Lutfiah Marha
Pendidik Generasi
Tragedi freestyle yang merenggut nyawa anak seharusnya menjadi bahan evaluasi besar bagi semua pihak. Keselamatan generasi tidak cukup dijaga dengan peringatan sesaat setelah korban berjatuhan. Dibutuhkan perlindungan menyeluruh yang menyentuh akar persoalan, yakni pola pendidikan, arah media, fungsi keluarga, kontrol lingkungan, hingga kebijakan negara.
CemerlangMedia.Com — Masa kecil semestinya menjadi ruang paling aman bagi anak untuk tumbuh, bermain, dan belajar mengenal kehidupan. Namun, realita hari ini justru menunjukkan hal sebaliknya. Dunia anak perlahan dipenuhi ancaman yang datang tanpa suara, masuk lewat layar kecil yang nyaris tidak pernah lepas dari genggaman mereka. Ironisnya, ancaman itu bukan berasal dari perang atau bencana alam, melainkan dari konten hiburan yang dianggap biasa oleh banyak orang.
Di era media sosial, sesuatu yang viral dapat menyebar lebih cepat daripada nasihat orang tua. Apa yang tampak lucu, keren, atau menantang di layar sering kali diterima mentah-mentah oleh anak sebagai sesuatu yang aman untuk ditiru. Padahal, di balik tren yang terlihat sepele itu, bahaya bisa mengintai kapan saja.
Peristiwa memilukan terjadi di Lombok Timur. Seorang bocah kelas 1 SD meninggal dunia setelah meniru aksi freestyle yang viral di media sosial dan diduga terinspirasi dari tren permainan online. Gerakan ekstrem itu menyebabkan benturan keras di bagian kepala hingga korban tidak dapat diselamatkan meski sempat menjalani perawatan. Peristiwa tragis ini mengguncang warga sekaligus menjadi peringatan tentang bahaya tren digital yang mudah ditiru anak-anak tanpa memahami risikonya (medan.tribunnews.com, 10-05-2026).
Namun, tragedi ini tidak bisa dipandang sekadar sebagai kasus anak meniru tayangan berbahaya. Peristiwa tersebut adalah tanda bahwa generasi saat ini sedang tumbuh di tengah lingkungan digital yang minim perlindungan. Anak-anak dibiarkan berhadapan langsung dengan arus konten tanpa filter yang memadai, sementara kemampuan mereka untuk membedakan hiburan dan bahaya belum terbentuk secara sempurna.
Pembiaran Tumbuh Kembang Anak
Pada dasarnya, anak memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi. Mereka mudah tertarik pada sesuatu yang terlihat menegangkan, unik, atau dianggap keren oleh lingkungan sekitarnya. Sayangnya, pada usia dini, kemampuan berpikir kritis anak belum matang. Mereka belum mampu menghitung risiko dari tindakan yang dilakukan.
Apa yang mereka lihat di layar, sering dianggap aman untuk dipraktikkan di dunia nyata. Ketika sebuah aksi dikemas dengan musik menarik, efek visual dramatis, serta dipopulerkan oleh banyak orang, anak akan memandangnya sebagai permainan biasa. Apalagi jika aksi itu muncul dalam game yang mereka mainkan setiap hari. Akhirnya, media digital perlahan mengambil alih peran sebagai “guru baru” yang membentuk pola pikir dan perilaku anak.
Persoalan menjadi makin rumit ketika banyak orang tua hari ini hidup di bawah tekanan ekonomi dan kesibukan yang tinggi. Tidak sedikit yang akhirnya menjadikan gawai sebagai alat penenang anak. Anak diberi telepon genggam agar diam, tidak rewel, atau mudah diarahkan. Dalam kondisi seperti ini, pengawasan terhadap apa yang ditonton anak menjadi makin longgar.
Padahal, ketika akses digital dibuka tanpa pendampingan, anak akan masuk ke ruang informasi tanpa batas yang tidak semuanya aman bagi perkembangan mental mereka. Konten berbahaya dapat muncul kapan saja dan ditiru tanpa pemahaman yang cukup.
Perubahan sosial juga memperparah keadaan. Dahulu, anak-anak bermain di lingkungan yang masih dipenuhi pengawasan orang dewasa. Tetangga saling mengenal dan ikut memperhatikan perilaku anak-anak di sekitar mereka. Kini suasana seperti itu makin memudar. Banyak anak menghabiskan waktu sendiri bersama gawainya, sementara lingkungan sekitar cenderung bersikap individualis. Kontrol sosial pun melemah.
Di sisi lain, negara tampak belum benar-benar serius menghadapi derasnya arus konten digital yang membahayakan anak. Upaya perlindungan sering kali berhenti pada imbauan atau edukasi sesaat setelah tragedi terjadi. Sementara itu, platform digital terus berlomba mengejar trafik, popularitas, dan keuntungan tanpa mempertimbangkan dampak serius terhadap keselamatan generasi muda.
Akar masalahnya tidak hanya terletak pada teknologi, tetapi juga pada cara pandang hidup yang berkembang saat ini. Sistem sekuler memisahkan pendidikan dari pembentukan akhlak dan kepribadian. Pendidikan lebih diarahkan untuk mengejar nilai akademik dan keterampilan kerja, sedangkan pembinaan moral serta kontrol diri makin terpinggirkan.
Akibatnya, lahirlah generasi yang sangat akrab dengan teknologi, tetapi rapuh secara mental dan spiritual. Mereka mengenal banyak tren, tetapi miskin arah hidup. Standar keberhasilan pun bergeser: sesuatu dianggap penting hanya karena viral dan ramai ditonton. Dalam kondisi seperti ini, anak-anak menjadi pihak paling rentan menjadi korban.
Islam sebagai Pelindung
Islam memiliki pandangan yang sangat berbeda dalam memandang anak dan pendidikan generasi. Anak diposisikan sebagai amanah yang wajib dijaga, diarahkan, dan dibimbing menuju kebaikan. Oleh karena itulah, syariat tidak membebani anak kecil dengan tanggung jawab sebagaimana orang dewasa. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Pena diangkat dari tiga golongan: dari anak kecil sampai ia balig…” (HR Abu Dawud).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa anak belum memiliki kesempurnaan akal sehingga membutuhkan perlindungan penuh dari orang dewasa. Islam tidak membiarkan anak tumbuh sendiri menghadapi pengaruh lingkungan yang dapat merusak dirinya.
Oleh karena itu, tanggung jawab pendidikan pertama berada pada orang tua. Dalam Islam, ayah dan ibu bukan hanya bertugas memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga menjadi pendidik utama bagi anak-anak mereka. Allah Swt. Berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS At-Tahrim: 6).
Ayat ini bukan sekadar berbicara tentang ibadah ritual, melainkan juga kewajiban menjaga keluarga dari segala hal yang dapat membahayakan fisik, akal, maupun moral mereka.
Orang tua tidak boleh menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah ataupun internet. Mereka wajib mengetahui apa yang ditonton anak, siapa yang memengaruhi mereka, serta lingkungan seperti apa yang membentuk cara berpikir mereka.
Meski demikian, Islam tidak membebankan tanggung jawab ini hanya kepada keluarga. Perlindungan generasi dibangun melalui sinergi tiga unsur penting: keluarga, masyarakat, dan negara.
Keluarga bertugas menanamkan akidah, kasih sayang, dan kebiasaan baik sejak dini. Masyarakat berperan menciptakan lingkungan yang sehat dan saling menjaga. Sementara negara memiliki kewajiban memastikan sistem pendidikan, media, dan informasi tidak menjadi sumber kerusakan bagi generasi.
Dalam sejarah peradaban Islam, negara hadir sebagai pelindung masyarakat. Konten yang merusak akidah, mengancam keselamatan, atau mendorong perilaku menyimpang tidak dibiarkan tersebar bebas atas nama hiburan maupun kebebasan pasar. Negara menjalankan fungsi perlindungan secara nyata, bukan sekadar menjadi pengawas pasif.
Sistem pendidikan Islam pun tidak hanya berorientasi mencetak tenaga kerja, tetapi membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, serta memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat. Anak-anak dibesarkan dengan keteladanan yang baik dan diarahkan kepada aktivitas yang membangun kepribadian mereka.
Oleh karena itu, tragedi freestyle yang merenggut nyawa anak seharusnya menjadi bahan evaluasi besar bagi semua pihak. Keselamatan generasi tidak cukup dijaga dengan peringatan sesaat setelah korban berjatuhan. Dibutuhkan perlindungan menyeluruh yang menyentuh akar persoalan, yakni pola pendidikan, arah media, fungsi keluarga, kontrol lingkungan, hingga kebijakan negara.
Khatimah
Jika hari ini anak-anak lebih takut tertinggal tren daripada kehilangan keselamatan dirinya, maka sesungguhnya ada yang salah dengan arah peradaban yang sedang dibangun. Islam menawarkan konsep perlindungan generasi yang menyeluruh, bukan sekadar solusi sementara. Tujuannya bukan hanya melahirkan generasi yang cerdas, tetapi juga generasi yang terjaga akal, jiwa, dan masa depannya. Wallahu a’lam bisshawab. [CM/Na]
Views: 9






















