#30HMBCM
Penulis: Yulweri Vovi Safitria
Bab 4 Tamu Tak Diundang
CemerlangMedia.Com — Api yang melalap perpustakaan sekolah mulai padam, tetapi sisa-sisa arang dan bau kertas terbakar sangat menyesakkan dada. Namun, bagi Mala, asap itu justru menjadi tabir yang menutupi sesuatu yang lebih besar.
Di tengah hiruk-pikuk warga yang mencoba menyelamatkan gedung utama sekolah, perhatian Mala teralih oleh suara terompet kapal yang menggelegar—sebuah suara yang frekuensinya begitu rendah hingga menggetarkan kaca-kaca jendela yang tersisa.
Dari arah Selat Malaka, tiga buah kapal bercat abu-abu metalik tanpa bendera negara yang jelas mulai tampak memecah kabut sisa pagi. Mereka bukan kapal tongkang pengangkut material, bukan pula kapal patroli resmi pemerintah yang biasa Mala lihat. Kapal-kapal ini ramping, panjang, dan memiliki bentuk yang mengintimidasi dengan antena radar yang berputar cepat di puncaknya.
“Itu mereka,” bisik Maria yang berdiri di samping Mala, lensa kameranya sudah membidik ke arah laut.
“Penyandang dana proyek ini. Mereka tidak lagi bersembunyi di balik orang-orang kemeja rapi itu. Mereka datang untuk memastikan investasi mereka aman.”
Kapal-kapal itu tidak berhenti di pelabuhan rakyat. Mereka justru membuang sauh tepat di depan perkampungan, seolah ingin memamerkan kekuatan baja di hadapan rumah-rumah panggung kayu milik nelayan.
Tidak lama kemudian, beberapa perahu karet bermesin cepat diluncurkan dari lambung kapal besar tersebut, membelah ombak menuju dermaga yang sudah setengah hancur.
Mala berjalan perlahan menuju pantai, diikuti oleh puluhan warga yang mulai berkumpul dengan raut wajah waswas. Tamu-tamu ini tidak diundang, tetapi mereka datang dengan cara yang tidak memungkinkan untuk ditolak.
Dari perahu karet pertama, melompat sekelompok pria berkulit pucat dan bertubuh tegap. Mereka mengenakan pakaian lapangan teknis yang tampak sangat mahal. Di tengah-tengah mereka, seorang pria paruh baya dengan rambut putih klimis dan tatapan mata setajam elang melangkah maju. Ia didampingi oleh pria berkacamata hitam yang semalam Mala lihat di mercusuar.
“Siapa kalian? Untuk apa kalian membawa kapal perang ke sini?” teriak Bang Jali yang kepalanya masih terbungkus perban putih. Ia berdiri di garda depan, tangannya memegang dayung sebagai satu-satunya senjata yang ia punya.
Pria berambut putih itu tidak langsung menjawab. Ia melepas kacamata pelindungnya, menatap sekeliling kampung dengan tatapan merendahkan, seolah-olah ia sedang melihat tumpukan sampah yang menghalangi jalan.
“Nama saya Mr. Vince,” ucap pria itu dalam bahasa Inggris yang kaku, yang kemudian diterjemahkan oleh si pria berkacamata hitam dengan nada bicara yang menjilat. “Saya adalah kepala konsorsium internasional yang memegang hak kelola wilayah ini. Saya datang untuk melihat mengapa ‘proyek masa depan dunia’ ini dihambat oleh masalah-masalah kecil seperti ini.”
Mala merangsek maju. Ia tidak takut. Kemarahan karena sekolahnya dibakar telah menghapus segala rasa gentarnya.
“Masalah kecil? Anda menyebut rumah kami, sekolah kami, dan hidup kami sebagai masalah kecil?”
Mr. Vince menoleh ke arah Mala. Ia sedikit terkejut melihat seorang gadis muda berani menatap matanya secara langsung.
“Gadis manis, yang Anda lihat di depan sana,” ia menunjuk ke arah kapal-kapal abu-abu di selat, “adalah kemajuan. Di dalam kapal itu ada peralatan survei terdalam di dunia. Kami tidak hanya membangun pelabuhan. Kami sedang membuka jalur sutra baru yang akan mengubah sejarah Malaka.”
“Anda sedang membangun kuburan racun!” teriak Mala lantang.
“Saya tahu apa yang kalian turunkan di mercusuar semalam. Saya tahu tentang limbah-limbah itu!”
Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Pria berkacamata hitam itu berbisik cepat ke telinga Mr. Vince. Wajah pria berambut putih itu berubah, otot rahangnya mengeras. Ia melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Mala, membuat beberapa warga bersiap untuk melindungi guru mereka.
“Hati-hati dengan lisanmu, Nona Guru,” ucap Mr. Vince, kini suaranya rendah dan mengancam.
“Dunia membutuhkan tempat ini. Selat Malaka terlalu berharga untuk dibiarkan hanya menjadi tempat nelayan tradisional menangkap ikan teri yang hampir punah. Jika Anda mencoba menyebarkan rumor yang tidak berdasar, Anda tidak hanya berurusan dengan perusahaan saya, tetapi dengan kepentingan banyak negara.”
Tiba-tiba, suara mesin helikopter terdengar menderu dari arah kapal induk mereka di tengah laut. Helikopter itu terbang rendah di atas perkampungan, menciptakan badai pasir yang membuat warga harus menutup mata. Ini adalah taktik intimidasi yang nyata. Mereka ingin menunjukkan bahwa bagi mereka, penduduk asli pulau ini hanyalah semut yang bisa diinjak kapan saja.
“Kami memberi waktu empat puluh delapan jam,” lanjut Mr. Vince sambil berbalik menuju perahu karetnya.
“Empat puluh delapan jam untuk mengosongkan area pesisir ini secara sukarela. Setelah itu, alat berat kami tidak akan berhenti hanya karena ada orang yang berdiri di depannya.”
Setelah tamu-tamu tak diundang itu pergi kembali ke samudra, suasana kampung menjadi sunyi senyap. Hanya suara isak tangis beberapa ibu-ibu yang terdengar.
Ancaman itu nyata. Mereka tidak lagi berurusan dengan preman bayaran atau pejabat lokal yang bisa disuap, melainkan dengan kekuatan modal global yang memiliki ‘tangan-tangan’ besi di mana-mana.
Mala kembali ke rumahnya dengan hati yang remuk. Di ruang tengah, Pak Hamid sedang duduk menatap pukatnya yang robek.
“Mereka bukan manusia, Mala. Mereka itu mesin,” ucap Pak Hamid tanpa menoleh. “Bagaimana kita bisa melawan mesin dengan tangan kosong?”
Mala duduk di samping ayahnya, mengeluarkan ponselnya yang ia sembunyikan di dalam saku mihnah yang tertutup jilbab.
“Kita tidak melawan mereka dengan otot, Pak. Maria bilang, rekaman dari mercusuar semalam sudah berhasil ia enkripsi. Ia punya jaringan di luar sana—orang-orang yang peduli pada lingkungan internasional.”
“Tapi apakah itu cukup tepat waktu?” tanya Mak yang masuk membawa segelas air putih. “Dua hari, Mala. Hanya dua hari.”
Mala terdiam. Ia melihat ke arah jendela. Di luar sana, di tengah remang senja yang mulai turun, lampu-lampu dari kapal-kapal abu-abu itu tampak seperti mata monster yang sedang mengawasi mereka dari kegelapan samudra.
Tiba-tiba, ada ketukan di pintu belakang rumah mereka. Mala waspada dan mengambil sebilah pisau dapur, tetapi saat pintu dibuka, ia melihat Pak Said, mantan penjaga mercusuar yang sudah lama menghilang dari peredaran. Wajahnya tampak kuyu, tetapi matanya memancarkan urgensi yang luar biasa.
“Mala… Hamid…” Pak Said terengah-engah.
“Jangan percaya apa yang mereka katakan soal pelabuhan. Itu semua bohong.”
“Kami sudah tahu soal limbah itu, Pak Said,” sahut Mala.
Pak Said menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Bukan… bukan hanya limbah. Itu hanya sebagian kecil. Di bawah mercusuar itu, ada sesuatu yang mereka temukan saat penggalian awal. Sesuatu yang sudah ada di sana sejak zaman kesultanan, yang terkubur bersama kapal karam kuno. Mereka tidak ingin membangun pelabuhan, Mala. Mereka sedang melakukan penggalian harta karun ilegal berskala besar di bawah kedok proyek negara!”
Mala dan Pak Hamid saling berpandangan. Rahasia di Selat Malaka ternyata jauh lebih berlapis dan lebih berbahaya daripada yang mereka bayangkan. Tamu-tamu dari samudra itu bukan sekadar pengusaha rakus. Mereka adalah penjarah sejarah yang siap menghancurkan apa pun demi apa yang tersembunyi di dasar laut mereka.
Prahara ini baru saja naik ke level yang berbeda. Dan Mala tahu, dalam dua hari ke depan, Selat Malaka akan menjadi saksi apakah keadilan bisa ditegakkan di atas tanah yang selama ini mereka puja. [CM/Na]
Views: 18






















