#30HMBCM
Penulis: Aksara Senja
CemerlangMedia.Com — Dunia hari ini telah berubah dan perubahan itu tidak selalu membawa kebaikan. Ia bergerak cepat, tetapi kehilangan kehangatan. Ia berkembang secara teknologi, tetapi merosot secara nurani. Kehidupan tidak lagi ramah bagi rakyat biasa. Empati perlahan menghilang, kepedulian memudar, dan manusia makin sibuk menyelamatkan diri masing-masing.
Di ruang-ruang kekuasaan, banyak pejabat pemerintah kian jauh dari realita penderitaan rakyat. Mata mereka seakan tertutup dari luka yang bertebaran di sekitar, telinga mereka tuli dari tangisan dan jeritan hidup yang semakin berat. Kebijakan dibuat tanpa rasa, angka lebih didengar daripada manusia. Dalam dunia seperti ini, penderitaan sering kali dianggap biasa, sementara keadilan menjadi barang langka.
Perubahan itu juga merembes ke relasi antarmanusia. Ikatan sosial yang dahulu menguatkan, kini melemah. Yang muda kehilangan rasa hormat kepada yang tua, sementara yang tua tak lagi merasa bertanggung jawab untuk mengayomi yang muda. Hubungan antargenerasi dipenuhi kecurigaan, bukan kepercayaan. Manusia hidup berdampingan, tetapi tidak benar-benar saling hadir.
Lebih dari itu, kerusakan moral kian tampak tanpa malu. Kekerasan dalam rumah tangga, penyimpangan perilaku, kejahatan seksual, dan berbagai bentuk kegilaan sosial merebak sebagai gejala zaman. Ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan tanda bahwa sistem kehidupan gagal menjaga fitrah manusia. Allah ﷻ telah mengingatkan,
“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (QS Shad: 26).
Ketika hawa nafsu dijadikan dasar hidup, ketika kebebasan dilepaskan tanpa batas nilai, maka kerusakan bukan lagi kemungkinan, melainkan kepastian. Dunia menjadi tempat yang keras bukan karena manusia kekurangan akal, tetapi karena kehilangan arah.
Dalam kondisi seperti ini, bertahan terasa makin sulit. Bukan hanya karena tekanan ekonomi atau ketidakadilan struktural, tetapi karena manusia dipaksa hidup di lingkungan yang dingin secara moral. Bertahan bukan lagi sekadar soal memenuhi kebutuhan hidup, melainkan soal menjaga kewarasan, menjaga iman, dan menjaga kemanusiaan agar tidak ikut runtuh.
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 1






















