#30HMBCM
Oleh: Shunink
CemerlangMedia.Com — “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (TQS Al-Hujurat: 11).
Brakkk!
Terdengar suara pintu dibuka dan membentur tembok dengan keras.
She pulang dari mengaji dengan isak tangis dan penuh amarah yang terlukis di wajahnya.
“Astaghfirullahal’adziim…” ucap Bunda yang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh anaknya.
“Ada apa, She? Kamu kenapa…?” tanya Bunda yang berusaha untuk tetap tenang.
“Kenapa Allah menciptakan aku jelek! Allah enggak adil! Aku jelek dan aku miskin!” teriak She.
Bunda terbelalak mendengar kalimat yang keluar dari lisan anaknya dan bergumam dalam hati, “Astaghfirullahal’adziim, apa yang telah terjadi pada anakku?”
“Kenapa, sih. Mereka suka bicara kasar? Padahal, aku berusaha baik pada mereka!” kata She dengan terbata-bata, diiringi isak tangis yang tak mampu dia redakan.
“Bunda selalu bilang, kalau Allah tuh, enggak suka sama hamba-Nya yang mengolok orang lain, tetapi kenapa Allah enggak beri mereka hukuman karena sering mengolokku! Aku sakit hati, Bunda…” imbuhnya.
“Bunda juga bilang, selama tidak dipukul, aku cukup diam dan pergi, tidak perlu membalas olokan yang sama. Tapi, mereka terus aja mengolokku… Allah tuh, enggak adil!” cerca She tanpa henti.
Bunda membelai kepala She dan bertanya, “Mereka mengolok kamu seperti apa?”
“Aku dipanggil si Tompel! Aku mau hilangin tompel ini, Bunda…” jawab She sambil menunjuk ke arah pipinya yang telah dibasahi oleh air mata.
“Masya Allah, ini bukan tompel. Titik hitam kecil ini, namanya tahi lalat. Tanda lahir yang diberikan oleh Allah kepada She,” jelas Bunda.
“Teman-temanmu mungkin belum tahu atau tidak tahu. Sini, Bunda beritahu… mana yang namanya tompel dan mana yang namanya tahi lalat.” Bunda berusaha menenangkan She dan mengambil gawai lalu membuka aplikasi google untuk mencari info terkait tompel dan tahi lalat.
“Nah, coba She perhatikan. Ini namanya tompel, warna gelap di bagian kulit. Ada yang kecil, ada juga yang lebar. Kalau ini namanya tahi lalat, titik kecil yang menempel di bagian kulit. Ada yang bisa tumbuh, ada yang tidak,” jelas Bunda dengan detail pada She.
“Jadi, mereka itu salah…. Kenapa She merasa sakit hati pada orang-orang yang belum tahu atau bahkan mereka tidak tahu? Kalau She bisa menjelaskan ke mereka… nanti juga paham,” imbuh Bunda.
She yang mulai tenang dan mencerna gambar serta penjelasan tentang tompel dan tahi lalat di gawai tersebut, dia pun berkata, “Enggak, Bun. Aku enggak mau beritahu mereka, buat apa. Lagi pula, mereka juga enggak mau berteman denganku, katanya aku miskin, enggak pernah makan di kafe, enggak pernah pergi ke mall, apalagi ke luar kota pakai mobil. Mereka selalu jalan bareng, enggak pernah ngajak aku. Aku selalu jadi olok-olokan.”
“Shinta bilang Cuma bercanda, tetapi… masa bercanda sampai menghina teman? Aku kayak orang bodoh di antara mereka. Aku enggak ingin main lagi, mending aku punya teman di sekolah aja, ogah sama teman di rumah.” Serentetan pernyataan yang disampaikan oleh She menyayat sisi terdalam hati Bunda.
Namun, Bunda memberi senyuman dan berkata, “She, Allah itu sayang sama kamu. Allah mengirim teman-teman seperti mereka itu sebagai ladang pahala buat kamu untuk belajar lebih sabar lagi dan berani menyampaikan yang benar dari Allah. Sabar ya, Sayang. Tidak ada takdir buruk yang datang dari sisi Allah, yang sabar, ya…”
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 1






















