Oleh: Hanniya Rahman
CemerlangMedia.Com, MEMOAR — Lebaran tahun ini seharusnya menjadi hari yang penuh kebahagiaan bagi keluarga kami. Tidak lupa, seragam pakaian yang dikenakan keluarga besar pun jatuh pada nuansa merah marun agar makin menambah kehangatan dan keceriaan di momen Idulfitri. Rumah eyang menjadi pelabuhan untuk berkumpul bersama. Aneka kue terlihat memenuhi ruang tamunya, begitu juga berbagai macam masakan khas lebaran pun sudah tersaji di ruang makan.
Namun, beberapa hari sebelum Idulfitri, anak pertama dirawat karena demam berdarah. Di saat itu juga, anak kedua (perempuan) juga mulai demam. Alhamdulillah, setelah dua hari rawat inap di rumah sakit, bungsu diperbolehkan pulang, tetapi kondisi anak kedua masih demam tinggi. Kami akhirnya membawa anak salihah ke klinik untuk cek darah dan hasilnya terkena demam berdarah juga dengan trombosit 132.000 di bawah dari batas normal. Namun, dia tidak mau dirawat inap, inginnya pulang saja karena besok paginya lebaran. Akhirnya, kami mengiyakan permintaannya dengan catatan: kalau kondisinya makin memburuk, berarti mau untuk dibawa ke rumah sakit.
Suara takbir bersahut-sahutan mengagungkan kebesaran-Mu dan menggetarkan jiwa pada malam takbiran tahun ini. Namun, pikiran dan perasaan kami pada malam itu diselimuti rasa was-was dan khawatir. Bagaimana tidak, selama ini kalau anak-anak panas tidak ada yang mengigau atau bahkan berbicara yang aneh-aneh atau kalau orang jawa menyebutnya “ngeromet”. Air mataku sudah jatuh bercucuran saat gadis kecilku berbicara aneh lagi, tetapi setiap ditanya sadar, dia jawab sadar dan seperti baik-baik saja.
Pagi harinya, setelah salat Idulfitri selesai, kami bergegas ke rumah eyang untuk berkumpul bersama keluarga besar dan bersilaturahmi antar tetangga. Putri kecil itu terlihat sangat antusias dan senang ikut bersilaturahmi, meskipun wajah pucatnya tidak bisa dibohongi. Selesai silaturahmi dia tertidur dan saat terbangun, dirinya meminta untuk ke rumah sakit saja, mungkin sudah tidak tahan dengan sakitnya.
Tidak lama, kami pun pergi mengantarkannya ke rumah sakit. Setibanya di IGD rumah sakit, tidak lama langsung ditangani dan diperiksa darah kembali. Kami sangat terkejut dengan hasilnya, trombositnya bisa turun drastis, dari 132.000 menjadi 51.000. Panik, ketakutan dan rasa bersalah karena tidak dibawa ke rumah sakit dari kemarin menghantui isi kepala ini.
Lebaran yang semestinya momen untuk berkumpul bersama keluarga dan berbahagia bersama menjadi terasa berbeda. Kami justru menghabiskan waktu di rumah sakit. Kali ini, tak terdengar tawa bahagia dan obrolan hangat, yang terdengar bunyi alat medis dan hentakan langkah sepatu perawat.
Hari berganti hari. Setiap pagi dan sore, petugas laboratorium datang untuk mengambil darah gadis salihah, hasilnya pun makin membuat khawatir karena trombositnya setiap kali diberikan hasil, malah terus turun dan hasil pada cek darah sore malah makin turun hingga mencapai 15.000, yang artinya berarti siap-siap untuk observasi masuk ICU jika hasilnya cek darah besok paginya makin menurun. Malam itu terasa panjang dan lama, air mataku terkadang jatuh tanpa terasa saat melihat tubuh anak perempuanku yang terbaring. Allahuakbar, kami pasrah dan ikhlas dengan keadaan saat ini. Mohon berikanlah kekuatan dan kesehatan untuknya.
Keesokan paginya, kami menunggu hasil pemeriksaan darah dengan hati berdebar. Setiap langkah petugas laboratorium yang mendekat ke kamar terasa seperti membawa kabar yang menentukan harapan kami. Aku mencoba terlihat kuat di depan putriku, meski dalam hati dipenuhi rasa takut yang sulit dijelaskan. Di sela tubuh kecilnya yang lemah, ia masih sempat tersenyum dan berkata pelan, “Ibu jangan sedih, ya, Mbak ingin cepat sembuh.” Kalimat sederhana itu justru membuat dadaku makin sesak. Anak sekecil itu sedang menahan sakit, tetapi masih memikirkan perasaan orang tuanya.
Baca selengkapnya di ==== ⇒ Memoar Sahabat CM
[CM/Na]
Views: 7






















