Iman Bukan (Hanya) di Hati

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Yulweri Vovi Safitria
Managing Editor CemerlangMedia.Com

CemerlangMedia.Com — Kalimat “Iman itu soal hati” menjadi pembicaraan publik. Sekilas, kalimat tersebut terdengar bijak, tenang, adem, dan seperti membela diri. Namun jujur, mari kita bandingkan dengan realitas kehidupan sehari-hari.

Kalau ada seorang penulis yang bilang, “Jiwa saya adalah jiwa penulis legendaris!”—tetapi ia tidak pernah meluangkan waktu untuk duduk dan menulis, tidak pernah berdarah-darah menghadapi writer’s block atau lembar kosong, dan tidak pernah menyelesaikan satu naskah pun, apalagi mengirimkannya ke penerbit atau pembaca. Lantas, apakah kita percaya dia seorang penulis? Tentu tidak.

Lalu, bagaimana bisa kita mengeklaim memiliki iman yang kukuh, kalau iman itu hanya kita kurung di dalam dada—tanpa pernah diizinkan keluar menyapa dunia? Kita enggan menampakkan keimanan, sebaliknya lebih suka tasyabuh atau ikut-ikutan budaya agama lain yang bertentangan dengan iman yang kita akui.

Makna Iman

Ulama mendefinisikan iman dengan sangat tegas dan indah. Akar iman ada di dalam hati, diucapkan oleh lisan, dan dibuktikan oleh perbuatan. Artinya, hati adalah akar, sementara perbuatan adalah buahnya.

Pohon yang akarnya sehat tidak akan pernah diam. Ia menyerap air, tumbuh menjulang, menumbuhkan daun-daun yang rimbun, dan memberi buah manis yang bisa dinikmati orang banyak.

Kalau ada pohon yang katanya berakar kuat, tetapi bertahun-tahun merangsek gersang tanpa daun dan buah… jangan-jangan akarnya sudah lama mati. Begitu juga dengan iman kita. Iman di hati yang jujur akan melahirkan lisan yang santun, kata-kata yang menenangkan, ucapan yang jauh dari kebohongan, serta adab dan akhlak yang mencerminkan iman dan Islam kita.

Iman di hati yang hidup akan menggerakkan langkah kaki menuju kebaikan dan menghindari kemaksiatan. Iman menggerakkan tangan untuk menolong, membimbing diri untuk taat pada-Nya dalam segala urusan—cara berpakaian, pergaulan, membangun rumah tangga, hingga membangun negara.

Akidah dan Iman

Akidah dan iman adalah dua konsep yang sangat erat dan tidak bisa dipisahkan. Akidah adalah pemikiran yang mendasar dan menyeluruh tentang alam sekitar, manusia, kehidupan serta hubungan ketiganya dengan apa yang ada sebelum dan sesudahnya.

Sementara iman adalah yakin dan percaya. Ibarat bangunan, akidah adalah fondasi yang tertanam di dalam tanah, sedangkan iman adalah struktur bangunan beserta seluruh aktivitas di dalamnya.

Oleh karena itu, Islam memberikan penjelasan yang begitu rinci mengenai akidah. Jawaban atas tiga pertanyaan mendasar—dari mana kita berasal, untuk apa kita diciptakan, dan ke mana kita setelah kematian—menjadi penentu apakah akidah seseorang sudah benar atau justru tersesat.

Ketiga pertanyaan di atas bukanlah sekadar teka-teki, melainkan petunjuk utama perjalanan hidup manusia. Islam tidak membiarkan akal manusia menerka-nerka, melainkan memberikan jawaban yang pasti—menenteramkan hati, dapat diterima oleh akal, dan sesuai dengan fitrah manusia.

Akidah Islam

Akidah Islam menegaskan bahwa manusia tidak ada dengan sendirinya, bukan pula hasil kebetulan dari proses alam semesta. Manusia adalah ciptaan Allah Taala yang ditiupkan ruh dan diberikan kemuliaan.

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun (tanpa pencipta) ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Atau apakah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (QS At-Thur: 35-36).

Ketika kita menyadari dari mana berasal, pertanyaan berikutnya adalah mengenai tujuan keberadaannya. Akidah Islam menetapkan bahwa tujuan hidup manusia di dunia adalah untuk mengabdi dan beribadah hanya kepada Sang Pencipta.

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzaryiat: 56).

Kita meyakini bahwa setelah kehidupan dunia akan datang kematian. Namun, kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pintu gerbang menuju kehidupan yang abadi.

Manusia akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkan setiap perbuatan dan menerima balasan. Kenikmatan surga akan dirasakan oleh mereka yang memiliki akidah yang lurus dan amal saleh, sedangkan siksa neraka bagi yang menyimpang dan melakukan kezaliman.

“Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara main-main (tanpa tujuan), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS Al-Mu’minun: 115).

Ketika ketiga pertanyaan tersebut dijawab sesuai dengan panduan Al-Qur’an dan Sunah, maka kukuhlah akidah seseorang dan terarah pula seluruh langkah hidupnya. Sebaliknya, siapa saja yang berpaling dari Islam, ia akan kehilangan arah, terjebak dalam krisis identitas spiritual, dan terombang-ambing oleh keraguan.

Khatimah

Dunia hari ini tidak kekurangan orang yang pintar bersilat kata tentang kebaikan. Akan tetapi, dunia hari ini sangat haus akan orang-orang yang menjadikan imannya sebagai tindakan nyata.

Jangan jadikan kalimat “yang penting hati” sebagai pembenaran atas sebuah kesalahan. Jadikan hati kita sebagai kompas, lisan sebagai kemudi, dan perbuatan sebagai langkah nyata.

Jangan biarkan paham sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan terus menggerogoti iman kita. Apalagi atas nama toleransi, lalu dengan mudahnya mengikuti tradisi di luar Islam. Padahal sudah jelas bahwa hanya Islam saja agama yang benar di sisi Allah.

“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah ialah Islam.” (QS Ali-Imran: 19)

Buktikan bahwa iman itu sebagai tanda cinta terbaik kepada Sang Pencipta. Sebab pada akhirnya, iman bukan hanya tentang apa yang kita rasakan, tetapi tentang apa yang kita perjuangkan.

[CM/Na]

Views: 1

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *