Oleh: Mita Nia, S.Ak.
Aktivis Pemuda
Ittiba’ Rasul harus diwujudkan secara konkret, baik dalam pola pikir (keyakinan) maupun dalam pola sikap (perbuatan sehari-hari). Seluruh kehidupan Rasulullah didedikasikan untuk dakwah (hayatur rasul, hayatud dakwah). Oleh karena itu, meneladani beliau berarti ikut mengemban tanggung jawab dakwah tersebut.
CemerlangMedia.Com — Setiap bulan Rabiul Awal, perayaan Maulid Nabi Muhammad saw. bergema menghiasi seluruh penjuru negeri ini. Dari rumah-rumah warga, masjid-masjid kampung hingga istana negara, masyarakat menyambut dan merayakan hari kelahiran beliau, sang suri teladan. Mulai dari pengajian sederhana, acara salawatan hingga seremoni pejabat, semuanya mengaku mencintai Baginda Rasulullah saw..
Namun sayangnya, selama ini, makin meriah perayaannya justru menjadikan umat makin jauh dari sosok yang dirayakan tersebut. Hari ini kita dapat menyaksikan bersama bagaimana kerusakan individu dan masyarakat makin menjadi-jadi.
Membayangkannya saja membuat kita sedih. Ternyata, sejauh itu jarak kita dari sosok yang setiap tahunnya kita rayakan kelahirannya. Kondisi umat yang kian terpuruk karena impitan ekonomi, kriminalitas yang meningkat, generasi yang lemah, hingga pemimpin-pemimpin negeri yang haus akan kekuasaan seharusnya menjadi bahan renungan bersama. Apakah ini buah dari perayaan yang kita katakan sebagai bukti cinta kepada Rasul?
Perlu kita ingat bahwa Rasulullah telah memberikan contoh bagaimana membangun kebangkitan di Madinah. Kebangkitan yang beliau bangun bukan sekadar tentang perbaikan akhlak individual, melainkan juga pembentukan masyarakat dan negara yang utuh dan nantinya menjadi cikal bakal sebuah peradaban yang sangat gemilang. Dari sana lahir generasi-generasi emas yang kontribusinya terhadap peradaban dunia tidak hilang ditelan zaman hingga hari ini.
Potret Umat Hari Ini
Jika dibandingkan dengan potret umat hari ini, kita temukan banyak individu muslim yang mengalami split personality. Mereka mengaku beriman, tetapi berpikir dan bertindak justru dalam kerangka sekuler yang tidak menjadikan agama sebagai aturan kehidupan, baik aspek ekonomi, politik, hukum, dan sosial.
Umat Islam hari ini juga telah terpecah dalam sekat-sekat nasionalisme negara masing-masing. Negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia, tunduk pada aturan dan tekanan kekuatan global. Utang luar negeri yang mencekik adalah buktinya, impor bahan kebutuhan pokok. Bahkan, dalam menghadapi kebijakan lembaga keuangan internasional, kita pun tidak bisa berkutik.
Paling menyayat hati, akibat sekat-sekat nasionalisme ini adalah menyaksikan Palestina terus dibantai dan diusir dari wilayahnya sendiri. Sementara itu, negeri-negeri muslim yang berjumlah lebih dari 50 negara tidak mampu memberikan pertolongan nyata karena tersekat oleh aturan negara masing-masing dan tiadanya kepemimpinan politik yang menyatukan. Pertanyaannya, mengapa kondisi ini terus berlanjut? Umat dan segala keterpurukannya seolah tidak menemukan jalan keluar.
Racun Kapitalisme
Jika kita lihat lebih dalam, hal ini terjadi karena umat Islam sudah tidak lagi menjadikan Islam sebagai ideologinya. Kebanyakan umat Islam hari ini hanya melaksanakan Islam sebatas ritual, tradisi turun-temurun, dan simbol-simbol keagamaan yang diadakan dengan seremonial, tetapi tanpa substansi perjuangan.
Hal ini terlihat jelas terutama di negeri kita, Indonesia. Saat perayaan Maulid digelar dengan meriah dan salawat bergema di mana-mana, ajaran Islam tentang sistem ekonomi, hukum, dan politik pemerintahan, justru dianggap sebagai hal asing yang tidak perlu disentuh, bahkan dianggap berbahaya.
Inilah buah sebenarnya dari racun sekularisme dan liberalisme yang ditanamkan Barat sejak masa kolonial dan kemudian makin langgeng karena sistem pendidikan, hukum, dan politik pascakemerdekaan. Akibatnya, umat kehilangan kunci kebangkitan yang hakiki dari keterpurukannya saat ini.
Kunci tersebut adalah penerapan Islam secara menyeluruh dalam kehidupan yang merupakan warisan Rasulullah saw.. Warisan tersebut berupa sistem politik Islam yang pernah dicontohkan Rasulullah saw. di Madinah. Sistem tersebut terbukti berhasil menyatukan umat dalam satu kepemimpinan, yang dalam sejarah kita kenal dengan istilah institusi Khil4f4h. Hari ini, ajaran tersebut justru dicampakkan dan dianggap sebagai sesuatu yang menyimpang, padahal Khil4f4h dalam sejarahnya sudah membawa umat pada kejayaan peradaban yang diakui dunia.
Oleh karena itu, peringatan Maulid Nabi seharusnya kita kembalikan pada fungsi aslinya, yakni sebagai momentum penyadaran, bukan sekadar seremonial tahunan. Sejarah mencatat bagaimana Shalahuddin Al-Ayyubi menghidupkan tradisi momen Maulid Rasul justru dalam konteks membangkitkan semangat juang umat yang saat itu tengah lesu menghadapi pendudukan pasukan Salib atas Baitulmaqdis. Bagi Shalahuddin, Maulid bukan sekadar panggung untuk bernostalgia, melainkan momentum untuk membangkitkan kembali ghirah perjuangan umat Islam hingga akhirnya Al-Quds bisa kembali dibebaskan.
Ini menjadi pelajaran yang relevan bagi umat Islam Indonesia hari ini. Peringatan Maulid seharusnya menjadi ruang refleksi kolektif untuk menyadari bahwa penderitaan Palestina dan kaum muslim di berbagai belahan negeri lainnya yang masih terus tertindas. Umat yang terpecah dan lemahnya negeri-negeri muslim bukanlah sebuah takdir yang tidak bisa diubah dan cukup dibiarkan begitu saja. Kita harus menyadari bahwa kondisi terpuruknya umat Islam hari ini adalah akibat ditinggalkannya perjuangan Nabi saw..
Ittiba’ Rasul
Cinta kepada Nabi bukanlah cinta yang berhenti hanya pada salawat dan pujian lisan semata. Keimanan sejati kita menuntut ketundukan penuh pada seluruh ajaran yang dibawa oleh Rasulullah saw. dan bukan memilah-milah mana yang nyaman diamalkan dan mana yang tidak. Allah Swt. berfirman,
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Ayat ini menjelaskan bahwa bukti cinta kepada Allah dan Rasul-Nya bukan sekadar pengakuan, melainkan ittiba’, yaitu mengikuti sepenuhnya apa yang beliau contohkan, termasuk dalam mengatur masyarakat dan pemerintahan.
Salah satu kabar gembira dari risalah Nabi yang bisa kita jadikan semangat untuk berjuang dalam meneladani jejak beliau adalah bahwa Islam akan kembali tegak setelah masa kenabian berakhir. Kabar gembira ini menjadi penguat bagi umat untuk terus berjuang meneladani jejak Rasulullah saw..
Oleh karena itu, saatnya momentum Maulid saat ini menjadi titik balik umat Islam Indonesia untuk mengarahkan kekuatan yang selama ini tercerai-berai. Cinta kepada Nabi artinya cinta kepada seluruh risalah yang dibawa beliau. Rasulullah saw. adalah qudwah hasana bagi seluruh umat manusia, baik laki-laki maupun perempuan, lintas zaman, dari masa lalu hingga masa depan.
Ittiba’ ini harus diwujudkan secara konkret, baik dalam pola pikir (keyakinan) maupun dalam pola sikap (perbuatan sehari-hari). Seluruh kehidupan Rasulullah didedikasikan untuk dakwah (hayatur rasul, hayatud dakwah). Oleh karena itu, meneladani beliau berarti ikut mengemban tanggung jawab dakwah tersebut.
Perjuangan untuk menerapkan syariat dan menyatukan umat ini merupakan perjuangan jangka panjang (maraton) yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya secara estafet. Inilah aksi nyata dan peran yang bisa kita ambil dari sekarang.
Wallahu a’lam bisshawab. [CM/Na]
Views: 8






















