Waktu yang Tidak Tepat

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Penulis: Aulia Syarah

CemerlangMedia.Com, MEMOAR — Nama yang selalu muncul di benakku, nama yang sering kali masuk ke dalam doaku. Satu tahun satu bulan aku selalu dihantui oleh perasaan diriku. Dihancurkan karena perasaan yang terlalu berharap dan bergantung itu menyakitkan. Makin aku berusaha menghapus semua tentangmu dan perasaanku, rasa sakit itu makin membuatku kecewa.

Dirimu berhasil membuat ruangan kosong yang hampa di hatiku, tanpa warna, tanpa suara. Dirimu seperti mawar putih yang sering kali dipandang indah tanpa orang lain tahu wanginya seperti apa. Rasa kekecewaan itu sering kali muncul karena tersadar, kau bukan lagi milikku. Seperti yang dirimu harapkan, dia akhirnya menjadi bagian dari hidupmu sepenuhnya tanpa ada aku di sana. Saat itu aku melihat bagian dari diriku yang terasa hancur-tanpa kehadiranku, kau terlihat lebih baik. Ruang yang kemarin terbentuk hanya kebejatan hati seseorang.

Waktu kita masih bersama, kau sering kali mengingatkanku pada hal-hal kecil, ada kalanya kau lupa mengabariku, terkadang aku bingung dan mulai bertanya-tanya. Pada saat itu aku mencoba memahami dirimu. Namun, makin sering hal itu terjadi, makin banyak pertanyaan yang muncul di benakku. Apakah ada yang kurang dari diriku? Apakah aku terlalu berlebihan mencintaimu? Bertanya-tanya, seperti apa bentuk cinta yang sesungguhnya.

Ketika dirimu mulai menjauh, pertanyaan-pertanyaan itu makin sering menghampiriku. Apakah aku melakukan kesalahan padamu? Atau apakah aku mengganggu waktumu? Aku mencari kesalahan di dalam diriku sendiri, bahkan ketika aku tidak tahu yang sebenarnya telah kulakukan. Sering kali dihantui rasa takut kehilangan. Beberapa kali mencoba kembali menatap percakapan kita di ponsel saat itu, hal-hal lucu yang kita lalui. Namun pada akhirnya, aku tidak bisa berkata. Aku lelah dengan semua yang kita lalui dan memilih diam.

Pada awalnya mungkin semuanya terasa seperti kisah yang tepat. Ada perasaan, ada kebersamaan, ada janji-janji kecil yang membuat seseorang percaya mereka sedang membangun sesuatu. Dari situ aku menyadari, aku kehilanganmu sekaligus kehilangan diriku sendiri. Barang kali kita serupa bunga tumbuh dari luka yang tak terlihat, membuka hati perlahan, lalu belajar menerima bahwa indah tak selalu berarti abadi. Maka bertumbuhlah dengan sangat indah, biarlah luka-luka itu jadi perjalanan yang membentukmu menjadi akar yang kuat.

Kekecewaan terbesar adalah kehilangan diriku karena ketergantungan kepada orang lain. Aku terlalu sering mencari kebahagiaan dari seseorang. Lupa bahwasanya hidup tetap harus berjalan, meski tanpa dirimu. Namun, yang paling sulit dari kehilanganmu bukan hanya karena aku tidak lagi memiliki dirimu seorang untuk berbagi cerita. Lebih sulit adalah menerima bagaimana semuanya berakhir begitu saja. Ternyata menjadi seseorang yang pernah dicintai tidak menjamin kita akan tetap diingat. Pada akhirnya, kita semua harus menerima takdir bahwa orang yang dicintai ditakdirkan untuk tinggal. Sebagian hanya datang untuk mengajarkan bagaimana rasanya kehilangan.

Sering kali yang menjadikan kita lebih baik itu adalah kita sendiri yang mau berusaha lebih baik dari sebelumnya tanpa berharap apa pun kepada manusia lainya. Kebahagiaan itu juga adalah karena kamu bahagia jadi dirimu sendiri tanpa harus menjadi orang lain.

Seburuk apa pun halaman sebelumnya, langkahmu tetap masa depan. Tugas menjadi baik, bukan menjadi sempurna. Hanya perlu menjadi lebih baik dari hari kemarin, bukan lebih baik dari orang lain. Sebab, kita tidak tahu kekecewaan apalagi yang akan datang, maka perluas lagi rasa sabar dan ikhlasnya. [CM/Na]

Views: 9

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *