Gaza dalam Cengkeraman Penjajahan, Palestina Butuh Junnah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Persoalan Gaza tidak hanya membangkitkan rasa iba, tetapi juga kesadaran umat. Umat Islam perlu bersatu dalam pemikiran, perasaan, dan aturan yang diridai Allah Swt. serta menjadikan penderitaan Gaza sebagai momentum untuk memperkuat kepedulian dan persatuan umat.

CemerlangMedia.Com — Ketika penderitaan warga Gaza belum juga berakhir, muncul rencana yang semestinya mengundang keprihatinan serius: pemindahan warga Palestina dari tanah mereka sendiri. Jika perang saja telah menimbulkan penderitaan besar, lalu bagaimana nasib warga Gaza jika mereka juga harus meninggalkan tanah tempat mereka hidup dan bertahan selama ini?

Menteri Pertahanan Israel Katz mengungkapkan bahwa pemerintah Israel telah menyiapkan rencana pemindahan warga Palestina dari Jalur Gaza, sembari menunggu Amerika Serikat menentukan negara yang bersedia menerima mereka. Katz bahkan menyatakan bahwa tidak ada solusi bagi Gaza tanpa perpindahan warga Palestina dari wilayah tersebut.

Dalam konferensi Ynet dan Yedioth Ahronoth, Katz mengatakan Israel siap memindahkan warga Palestina melalui laut, udara, atau cara lain yang memungkinkan. Pernyataan tersebut tentu tidak cukup dipandang sebagai sekadar rencana politik. Sebab di baliknya, terdapat persoalan besar tentang nasib warga Gaza, tanah yang mereka tempati, dan masa depan mereka (3-9-2026).

Rencana pemindahan warga Palestina dari Gaza tidak berdiri sendiri. Di balik rencana tersebut, Israel masih menunggu persetujuan dan keputusan Amerika Serikat, termasuk terkait negara yang akan menerima warga Palestina sehingga persoalan Gaza tidak dapat dilepaskan dari peran dan pengaruh kekuatan besar.

Dari perspektif kritis, kondisi ini makin memperlihatkan kuatnya dukungan politik, diplomatik, dan strategis AS terhadap Israel. Dukungan tersebut memberi Israel ruang untuk menjalankan kebijakannya di Palestina, sementara rakyat Palestina harus menanggung dampak konflik dan berbagai kebijakan yang diterapkan.

Oleh karena itu, persoalan Gaza tidak cukup dilihat hanya dari tindakan Israel. Peran negara-negara besar yang mendukungnya juga perlu dipertanyakan karena dukungan tersebut membuat konflik Palestina-Israel memiliki dimensi geopolitik yang luas dan sulit dipisahkan dari kepentingan serta tanggung jawab negara-negara pendukungnya.

Dalam perspektif politik Islam, persoalan Palestina membutuhkan kekuatan politik yang mampu melindungi kaum muslim dan menjaga kepentingan mereka. Pemerintahan Islam dipandang sebagai junnah atau perisai yang bertanggung jawab menjaga keamanan, melindungi rakyat, membela wilayah kaum muslim, serta menjalankan pemerintahan berdasarkan syariat Islam.

Sebagai junnah, kekuatan politik tersebut harus memiliki kemandirian agar tidak bergantung pada kekuatan asing dalam menjaga kepentingan dan keamanan rakyat. Kemandirian politik juga perlu ditopang oleh kekuatan ekonomi, termasuk pengelolaan sumber daya strategis yang menjadi kepemilikan umum seperti minyak dan gas, untuk kemaslahatan rakyat sekaligus memperkuat negara.

Kekuatan politik yang melindungi umat juga harus dibangun di atas kepemimpinan yang amanah dan adil. Sejarah Islam memberikan teladan melalui Umar bin Abdul Aziz yang melakukan berbagai pembenahan dalam pemerintahan. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan negara tidak hanya diukur dari luas wilayah dan kemampuan militer, tetapi juga dari keadilan, amanah, kemandirian, serta kemampuan melindungi rakyat.

Penderitaan Palestina semestinya menjadi momentum bagi umat Islam untuk menyadari bahwa persoalan umat tidak cukup diselesaikan hanya dengan bantuan kemanusiaan atau diplomasi antarnegara. Diperlukan kekuatan politik yang mandiri untuk melindungi umat dan membela wilayah kaum muslim, dengan syariat Islam sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Dalam pandangan Islam, syariat bukan hanya mengatur urusan ibadah individu, tetapi juga memberikan pedoman dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Oleh karena itu, penerapan syariat secara menyeluruh dipandang sebagai jalan untuk membangun kehidupan yang berlandaskan ketaatan kepada Allah Swt..

Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan dalam membangun masyarakat dan negara berdasarkan Islam melalui pembinaan umat, pembentukan kesadaran, dan perjuangan politik yang terarah. Perubahan tidak dilakukan secara instan, tetapi melalui proses pembinaan yang membentuk kesadaran umat hingga mampu membangun kehidupan yang berlandaskan Islam.

Dengan demikian, persoalan Gaza tidak hanya membangkitkan rasa iba, tetapi juga kesadaran umat. Umat Islam perlu bersatu dalam pemikiran, perasaan, dan aturan yang diridai Allah Swt. serta menjadikan penderitaan Gaza sebagai momentum untuk memperkuat kepedulian dan persatuan umat.

Gaza mungkin masih berada dalam cengkeraman penjajahan, tetapi perjuangan umat tidak boleh berhenti pada rasa prihatin. Saatnya umat membangun kesadaran, memperkuat kemandirian, dan kembali menjadikan syariat Allah Swt. sebagai pedoman dalam kehidupan untuk meraih kembali kepemimpinan Islam kafah.

Ummu Inayah [CM/Na]

Views: 5

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *