Penulis: Juwita Rahmawati
CemerlangMedia.Com, MEMOAR — Jujur saja, aku tidak pernah membayangkan akan menari di hadapan banyak orang dengan kostum tari Dayak saat kelas sepuluh. Semuanya berawal dari temanku yang terus memaksa mengajakku masuk ekskul tari.
Awalnya aku sangat tidak percaya diri karena tidak pernah benar-benar serius menari. Namun, rasa penasaran untuk belajar—ditambah kekagumanku pada indahnya pakaian adat Dayak—membuatku akhirnya mengiyakan ajakan itu. Siapa sangka, paksaan dari teman itu justru membawaku pada sebuah pengalaman pementasan yang tidak akan pernah aku lupakan.
Perjalananku di ekskul tari ini ternyata tidak semulus yang aku kira. Di awal masa latihan, anggota yang bergabung sangat banyak dan kami dilatih tari giring-giring oleh pelatih baru. Namun, seiring berjalannya waktu, kehadiran teman-teman mulai berkurang. Latihan tari giring-giring itu bahkan terhenti di tengah jalan karena pelatihnya mendadak berhenti. Ekskul kami sempat mengalami fase bergonta-ganti pelatih sampai akhirnya menemukan pelatih yang cocok.
Tantangan terbesarku sebenarnya bukan karena tidak mampu, melainkan butuh waktu untuk beradaptasi. Kebanyakan anggota lain sudah pernah menari sebelumnya, sementara aku merasa masih lambat untuk menghafal gerakan baru. Pada detail gerakan tangan yang rumit, aku sebenarnya bisa menghafalnya, hanya saja butuh diajarkan secara pelan-pelan. Untuk perpindahan formasi terbilang cukup mudah aku ikuti, begitu aku mulai terbiasa.
Dahulu aku pernah ikut tampil singkat saat pawai 17 agustusan, tetapi karena persiapan terburu-buru dalam hitungan hari, aku tidak sempat menghafal gerakan dengan sempurna. Kali ini, pada penampilan perpisahan kelas dua belas, aku ingin membuktikan bahwa aku bisa membawakannya dengan baik.
Hari yang kami tunggu-tunggu pun tiba. Sejak pagi-pagi buta, sekitar pukul 02.00 WIB, kami sudah bergerak menuju rumah teman yang akan merias kami. Sesampainya di sana, kami bahkan harus membangunkan mereka terlebih dahulu karena mereka bergadang menyiapkan peralatan.
Setelah itu, kami bersama-sama berangkat menuju rumah tante dari teman kami karena lokasinya jauh lebih dekat ke sekolah. Menariknya, orang yang merias kami sebenarnya adalah teman sesama penari juga. Ada sekitar lima orang lebih yang dirias hari itu sehingga prosesnya tetap membutuhkan waktu hingga sekitar pukul 07.00 lewat.
Setibanya di sekolah, kami berkumpul di ruang mulok—ruangan khusus yang biasa kami pakai untuk latihan menari—untuk merapikan riasan dan hiasan kepala. Susunan acara perpisahan cukup panjang, kami sempat duduk santai di pinggiran sambil menonton penampilan lain.
Sebelum giliran kami, ada pementasan dari sekelompok temanku—sekitar lima orang—yang memang sudah sangat jago menari. Setelah diberitahu bahwa giliran kami sebentar lagi tiba, kami pun bersiap di sisi panggung; aku berdiri di sisi panggung sebelah kanan.
“Inilah tampilan dari ekskul tari SMAN 1 Mentaya Hilir Selatan!” seru pembawa acara. Kami pun melangkah maju diiringi alunan musik tradisional Dayak yang dimainkan secara live oleh para pemusik. Suara tabuhan instrumen yang bergaung makin memacu detak jantungku. Rasa cemas sempat menyergap karena postur tubuhku terbilang pendek; aku sangat takut kakiku tidak sengaja memijak ujung selendang panjang hingga tersandung di depan banyak orang.
Namun, saat tarian berjalan, fokusku beralih sepenuhnya pada irama. Sampai akhirnya, kami tiba di gerakan ending. Aku dan seorang temanku berdiri tepat di posisi tengah, sementara empat teman lainnya mengelilingi kami dan melilitkan selendang merah mereka. Di tengah formasi lilitan selendang itu, riuh tepuk tangan penonton membahana.
Di titik ending tersebut, sebuah perasaan lega yang luar biasa tiba-tiba membuncah di dalam dadaku. Rasa cemas, takut salah gerakan, dan kekhawatiran soal selendang yang terinjak seketika menguap tanpa sisa. Aku menyadari bahwa perjalanan panjang melewati masa-masa kaku, bergonta-ganti pelatih, hingga proses rias sejak pukul dua pagi telah terbayar tuntas.
Begitu pementasan usai dan kami kembali ke belakang panggung, suasana langsung berubah penuh canda tawa. Kami saling berbagi cerita sambil tertawa lepas—ada teman yang mengaku sempat melakukan kesalahan kecil, ada yang panik di salah satu hitungan, tetapi semuanya terbalas dengan rasa syukur. Tidak ada lagi rasa tidak percaya diri yang dulu menyelimutiku saat pertama kali diajak masuk ekskul. Kami berhasil menyelesaikan tarian itu dengan sangat baik.
Memasuki kelas sebelas, aku memutuskan untuk tidak lagi mengikuti ekskul tari. Bukan karena aku tidak menyukainya, melainkan karena perhatianku teralih dan tertarik untuk mempelajari alat musik tradisional yang pernah mengiringi tarian kami. Sayangnya, ketika aku mencoba masuk ke divisi musik tradisional, pelatihnya justru berhenti lagi. Alhasil, aku tidak pernah sempat menguasai alat musik itu secara utuh dan hanya bisa memainkannya setengah saja.
Meski begitu, aku tidak menyesali perjalanan tersebut. Pengalaman satu kali tampil di panggung perpisahan itu tetap menjadi salah satu momen paling berharga dalam hidupku. Pengalaman ini mengajariku bahwa tidak ada salahnya memberi kesempatan pada diri sendiri untuk mencoba hal-hal baru di luar zona nyaman. Keberanian kecil untuk mengiyakan ajakan teman ternyata membukakan pintu menuju pencapaian yang membuatku bangga pada kemampuan diriku sendiri.
Kini, pementasan itu memang telah berlalu, tetapi menjadi salah satu kenangan paling indah di masa awal SMA-ku. Aku bersyukur pernah memberanikan diri memakai kostum adat Dayak dan berdiri di tengah panggung lapangan sekolah hari itu. Pengalaman ini menjadi pengingat manis bahwa aku mampu menaklukkan rasa ragu di dalam diri. Kini, di tingkat akhir sekolah, keberanian itu akan terus kubawa untuk melangkah dan mencoba hal-hal baru lainnya dalam hidup. [CM/Na]
Views: 2






















