#30HMBCM
Oleh: D. Leni Ernita
CemerlangMedia.Com — Menjadi pengemban dakwah dalam jeratan sistem kufur saat ini tidaklah mudah. Hambatan dan rintangan akan selalu mengadang di depan kita. Ujian dari internal dan eksternal akan selalu ada.
Para pengemban yang memperjuangkan Islam kafah tidak mudah untuk mengajak umat menjadi manusia yang mengerti akan Islam secara menyeluruh. Bahkan, kerap dicap sebagai para pengemban dakwah yang radikalisme dan dakwahnya pun kerap diawasi, dibatasi dengan penuh ancaman dan tekanan.
Hambatan-hambatan yang dialami para pengemban dakwah untuk menyampaikan Islam kafah terasa begitu sulit.Terkadang ujian itu dari pihak keluarga yang tidak mendukungnya. Bahkan, ada dari pihak suami yang tidak mendukung istrinya untuk ikut berdakwah mengajak umat.
Sekedar ikut pengajian saja tidaklah mudah dalam sistem yang dikuasai oleh aturan manusia, yaitu sistem sekuralisme yang memisahkan agama dari kehidupan.
Namun, akankah kita berhenti dan tidak mau berdakwah?
Ada sebuah perkataan, “Tidak dakwah kita akan mati. Berdakwah pun kita akan mati, maka muslimah akan pilih yang mana!”
Allah Swt. berfirman, (QS Muhammad: 7)
“يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ”
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong mu dan meneguhkan kedudukanmu.”
Ayat ini menekankan pentingnya menolong dan membela agama Allah Swt. serta janji Allah untuk menolong dan meneguhkan kedudukan orang-orang yang beriman.
Tentunya tidak menjadikan muslimah mundur dan berhenti berdakwah di tengah-tengah umat. Sebab, hukum berdakwah adalah wajib. Oleh karenanya, hambatan, rintangan, kesulitan, tidak akan menggoyahkan sedikitpun langkah-langkahnya untuk terus berdakwah.
Dengan adanya ancaman, justru muslimah makin bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam berdakwah. Menyampaikan kebenaran Islam agar umat kembali memahami Islam yang sempurna, bukan Islam yang setengah- setengah.
Dengan begitu, ada perubahan yang hakiki dan menyeluruh kepada umat. Oleh karenanya, umat paham hukum syarak, lalu diterapkan dalam dirinya dan negara secara sempurna. Alhasil, segala permasalahan umat dan dirinya akan menemukan solusi sesuai dengan Islam.
Lalu, bagaimanakah muslimah menjadikan dakwah sebagai poros hidup ?
Ketika muslimah memutuskan untuk terjun ke dunia dakwah, tentunya kita harus menjadikan dakwah sebagai poros hidup. Artinya, kita bersungguh-sungguh meluangkan waktu, pikiran, dan harta untuk dakwah serta dilakukan dengan mengharapkan rida Allah Swt..
Muslimah yang mengutamakan dakwah sebagai poros hidup akan memberikan loyalitas dalam apa pun yang dia miliki untuk dakwah. Bahkan, ilmu yang dimiliki atau keahlian, jabatan, kedudukan, ide, waktu, dan juga tenaga, semua itu akan, dipersembahkan demi dakwah. Menjadikan visi dan misi hidup lebih terarah, dan jelas—yang sedang diperjuangkan adalah untuk perubahan dirinya menjadi seseorang yang berkepribadian Islam, memiliki aqliyah Islam, dan menjadikan akidah Islam sebagai pandangan hidupnya.
Tentunya kita sering mendengar dakwahnya Rasulullah saw. ketika mendapatkan wahyu pertama, yaitu di dalam surat Al-Alaq, beliau menyatakan kepada istrinya, Khadijah ra., “laa rahata ba’da al-yawma, ya Khadijah. (Tidak ada lagi waktu berleha-leha setelah hari ini, wahai Khadijah).” Ini menunjukkan bahwa kita harus menjadikan dakwah sebagai poros hidup, serius, dan profesional.
Dengan itu, kita perlu berada dalam sebuah jemaah dakwah agar istikamah dalam memperjuangkan ideologi Islam yang menuntaskan segala permasalahan hidup. Menjadikan syariat Islam sebagai solusi setiap ujian yang dihadapinya dengan takwa sebagai pijakannya, menjadi ibu pendidik anak-anaknya agar menjadi generasi saleh dan salihah, serta taat kepada suaminya. Menjadikan sabar dan keikhlasan dalam dakwahnya.
Seorang pengemban dakwah harus sekuat tenaga dalam berdakwah dan menyerahkan hasil kepada Allah Swt.. Ketika dakwahnya tidak diterima umat, muslimah akan sabar dan terus mengajak serta menuntun umat ke jalan yang benar. Hambatan dan tantangan tidak menjadikan muslimah mundur dalam dakwah.
Sekalipun berat dalam ujian dakwah tetap istikamah menjalaninya. Allah Swt. berfirman,
“Dan Allah tidak menjadikannya (pemberian bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan tidak ada kemenangan itu selain dari Allah yang maha perkasa, mana bijaksana.” (QS Ali Imran: 126).
Demikianlah, muslimah kafah yang menjadikan dakwah sebagai poros hidupnya, ujian dan rintangan di tengah-tengah umat menjadikan aktivitas kesehariannya dengan jiwa yang kuat dalam mengemban amanah dakwahnya.
Hidup dunia ini hanya sementara, akhirat selamanya. Dakwah mati, tidak dakwah juga mati. Maka pilihan kita adalah mati dalam keadaan berdakwah, sebab itu adalah manusia yang paling mulia, itulah janji Allah. Cukuplah Allah yang menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baiknya pelindung.
Semoga kita para muslimah yang memperjuangkan Islam kafah akan menuai kemenangan yang hakiki.
Mari memperjuangkan tegaknya kembali sistem Islam yang kafah. Yuk, menjadi muslimah yang kafah. Allahu Akbar
Wallahu a’lam
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 19






















