#30HMBCM
Oleh: Yulianaturrahmah AY
CemerlangMedia.Com — Ada masa-masa ketika hidup terasa seperti labirin gelap: bising, sempit, dan menyesakkan. Kita berjalan dengan langkah yang sama, tetapi hati terasa koyak oleh beban yang terus menempel.
Lalu di tengah kerumitan itulah, orang-orang sering berkata, “Sabar, ya….” Seakan sabar adalah kegiatan pasif. Diam, membeku, menunggu keadaan berubah dengan sendirinya.
Padahal, dalam kaca mata Islam, sabar bukanlah kelumpuhan jiwa. Sabar adalah keteguhan yang hidup. Ketegasan yang berdetak. Sikap kokoh yang mengikat kita kepada Allah ketika badai dunia berusaha melepaskan pegangan itu.
Fakta kehidupan hari ini memang pahit untuk ditelan. Kita hidup dalam tatanan yang bukan dibangun dari wahyu, tetapi dari pikiran manusia yang terbatas.
Sistem ekonomi yang membuat napas orang kecil terengah. Sistem sosial yang membentuk standar palsu hingga hati banyak orang mengapur oleh iri dan cemas. Berlomba untuk eksistensi lebih mencuri perhatian. Sistem pendidikan yang menjauhkan generasi dari fondasi akidah. Sistem politik yang menjadikan rakyat sekadar angka di atas kertas.
Tekanan demi tekanan itu menggulung, dan tiba-tiba … “sabar” terdengar seperti teori kosong. Indah di kata, perih di praktik.
Bukan karena manusia tidak ingin sabar, tetapi karena realita yang membelit mereka tak pernah ramah. Banyak yang terlempar dari rel kesabaran bukan sebab lemah, melainkan karena sistem dunia ini memang mencabut ketahanan dari akarnya.
Di sinilah kita harus kembali kepada makna sabar yang sejati. Sabar itu bukan tunduk tanpa suara, tetapi bertahan dengan keimanan yang menyala. Sabar itu bukan mematikan perasaan, tetapi menata hati agar tetap berada di bawah naungan Allah. Sabar itu bukan sekadar menahan, tetapi memeluk syariat saat hidup mencoba menyeret kita keluar dari jalannya.
Sabar adalah seni bertahan. Seni merapikan jiwa ketika dunia berantakan. Seni menjadikan Allah satu-satunya tempat kembali ketika semua pintu harap tampak tertutup.
Sabar selalu bersanding dengan amal. Bukan pasrah yang membatu.
• Sabar dalam musibah: menerima takdir dengan dada yang tetap tunduk.
• Sabar dalam ketaatan: berjalan lurus ketika banyak jalan bengkok terlihat lebih mudah.
• Sabar menjauhi maksiat: menahan diri di tengah godaan yang disulap cantik oleh dunia.
• Sabar memperjuangkan perubahan: tetap menyuarakan kebenaran meskipun suara kita hanya seperti bisikan di tengah hiruk pikuk kebatilan.
Dan sabar itu nyata, membumi—hadir dalam detil hidup kita yang paling kecil hingga yang paling menyesakkan.
Sabar adalah seorang ibu yang tetap lembut saat mengurus anak yang rewel padahal dadanya penuh sesak. Kepalanya menggelegak di antara ‘bebek karet’ yang berserak.
Sabar adalah ayah yang tetap jujur, meski penghasilannya belum cukup menambal kebutuhan yang mendesak. Bertahan di antara terpaan badai kehidupan yang menuntut tulangnya tetap kokoh menopang biaya pendidikan yang berteriak.
Sabar adalah seseorang yang menelan komentar pedas tetangga, tetapi tetap melangkah dalam aktivitas dakwah tanpa menukar keteguhannya dengan validasi manusia.
Sabar adalah keluarga yang merapatkan barisan saat keuangan sedang menipis, menahan diri dari keluh, sambil tetap yakin bahwa Allah tidak pernah salah mengatur rezeki.
Sabar adalah memilih tetap berbuat baik ketika bantuan yang kita berikan justru dibalas prasangka. Lalu, sabar menunda banyak keinginan yang tampak “normal” di mata orang lain, demi menjaga diri dalam batas syariat.
Bayangkan sabar seperti menggenggam tali di tengah badai. Anginnya kencang. Pasirnya menghantam wajah. Langkahmu goyah. Tapi peganganmu adalah syariat yang membuatmu tetap tegak ketika dunia ingin mematahkanmu. Tanpa pegangan itu, wajar jika banyak yang jatuh. Bukan sebab mereka tidak baik, tetapi karena badai ini memang bukan untuk ditantang dengan kekuatan manusia semata.
Maka hari ini, jika hatimu letih … bukan berarti kamu kalah. Jika kamu masih memilih taat meski harus menyeret langkah, itu sudah bentuk sabar yang di langit mungkin bergema sebagai pujian.
Sabar bukan tentang seberapa kuat kita. Sabar adalah tentang apa yang kita jadikan pegangan untuk bertahan.
Di tengah dunia yang dikuasai aturan manusia, sabar seorang mukmin bukan sekadar sikap, tetapi perlawanan. Perlawanan untuk tetap jernih. Tetap tegak. Tetap berpihak kepada Allah ketika dunia menawarkan segala jalan yang menjauh dari-Nya.
Dan di setiap ujung kesabaran, ada janji yang tak pernah Allah cabut:
Pertolongan-Nya lebih dekat daripada detak jantungmu sendiri. Pegang itu. Biarkan ia menjadi cahaya di relung hatimu. Langkahkan kaki sekali lagi.
Karena sabar itu bukan lemah. Sabar itu bertahan dengan berpegang pada syariat-Nya.
Selesai
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 25






















