#30HMBCM
Penulis: Wa Ria Fauzia, S.Kom.
CemerlangMedia.Com — Istikamah adalah sikap konsisten, teguh, dan terus-menerus dalam menjalankan kebaikan serta perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya. Di mana istikamah adalah salah satu sifat paling mulia yang bisa dimiliki seorang manusia. Ia bukan sekadar sikap bertahan, bukan pula sekadar kebiasaan mengulang kebaikan. Melainkan istikamah adalah kemampuan untuk teguh pada jalan kebenaran, meskipun dihadapkan pada rintangan, godaan, kesulitan, dan perubahan suasana hati yang suka naik turun.
Dalam menjalani kehidupan ini, setiap orang pasti mengalami masa di mana hati terasa kuat, rasa semangat dalam diri berkobar, dan tekad begitu besar. Dan sebaliknya, ketika menjalankan sesuatu ada masanya terasa berat, malas bergerak, dan hati mulai goyah. Di sinilah makna istikamah diuji. Bukan pada saat iman kita sedang kuat, tetapi pada saat iman kita mulai lemah atau futur. Istikamah bukanlah sifat yang muncul begitu saja. Ia tumbuh dari keikhlasan dan proses panjang yang penuh jatuh bangun.
Istikamah bukanlah sifat yang muncul begitu saja. Ia tumbuh dari keikhlasan dan proses panjang yang penuh jatuh bangun. Seseorang yang istikamah bukan berarti tidak pernah salah atau tidak pernah tergelincir. Justru ia adalah orang yang ketika jatuh, segera bangkit kembali; ketika lalai, ia kembali mengingat; ketika salah, ia menyadari; ketika lemah, ia memperkuat diri. Istikamah berarti menjaga konsistensi untuk terus berada pada jalur kebaikan, sekecil apa pun langkahnya.
Dalam kehidupan modern saat ini, keistikamahan merupakan tantangan yang jauh lebih besar. Sebab, banyak gangguan yang mengalihkan perhatian dari fokus utama, baik dari diri pribadi maupun dari lingkungan sekitar. Dari dalam diri gangguannya seperti mudah lelah dan mudah lalai. Sedangkan gangguan dari lingkungan bisa berupa media sosial, lingkungan pertemanan, lihat temannya pacaran ia pacaran, bahkan ada pula gangguan dari tekanan di lingkungan keluarga.
Sehingga membuat seseorang yang dahulunya sering berbuat baik, rajin ibadah, aktivitas rutinannya diisi dengan ngaji Islam kafah malah kini mulai meninggalkan, bahkan sudah tidak sama sekali dilaksanakan. Bahkan, dahulunya ikut terjun dalam dakwah, sekarang sudah tidak ada lagi. Kini mulai meninggalkan aktivitas itu perlahan demi perlahan dan justru tidak sama sekali. Semua itu adalah bagian dari dinamika kehidupan dan justru itulah alasan mengapa istikamah sangat penting.
Lantas bagaimanakah caranya untuk tetap istikamah di masa sulit?
Pertama, adalah niat yang benar. Salah satu cara untuk tetap istikamah adalah niat yang benar. Di mana niat adalah salah satu fondasi dari setiap amalan yang dilakukan. Ketika seseorang melakukan kebaikan karena ingin dipuji atau karena sedang terbawa suasana, maka kebaikan itu mudah pudar. Namun, ketika kebaikan dilakukan karena Allah, maka hati akan lebih kuat untuk bertahan. Oleh karena itu, memperbaiki niat adalah langkah pertama sebelum memperbaiki tindakan.
Kedua, selain niat, kita juga perlu mengazamkan di dalam diri kita bahwasannya apa pun yang terjadi, kita harus tetap melakukanya. Contohnya ketika seseorang berada dalam sebuah jemaah yang di mana ada aktivitas “amar ma’ruf nahi mungkar”. Tentu aktivitas ini sangatlah tidak mudah, banyak cobaan dan rintangan yang silih berganti. Namun, dari aktiviatas ini banyak sekali pahala yang akan kita dapatkan dan balasannya ialah surganya Allah Swt.. Maka dari pada itu, untuk mewujudkan niat kita juga perlu tekad yang kuat.
Ketiga, istikamah juga memerlukan kesabaran. Kesabaran dalam istikamah bukan hanya sabar menghadapi musibah, tetapi juga sabar dalam menjalankan perintah, sabar menjauhi larangan, dan sabar terhadap godaan yang datang dalam bentuk apa pun. Ada kalanya istikamah terasa berat bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena kita tidak sabar dengan prosesnya. Kita ingin hasil cepat, perubahan instan, dan ketenangan yang datang tanpa usaha. Padahal istikamah adalah perjalanan panjang. Orang yang istikamah memahami bahwa perjalanan menuju kebaikan membutuhkan waktu, kebiasaan, dan ketekunan.
Keempat, miliki lingkungan yang baik. Teman yang baik akan menguatkan, sementara lingkungan yang buruk dapat perlahan merusak. Banyak orang yang awalnya istikamah, tetapi kemudian berubah karena lingkungan yang tidak mendukung. Sebaliknya, ada pula yang awalnya sulit istikamah, tetapi akhirnya kuat karena berada dalam lingkaran yang memotivasi. Islam mengajarkan bahwa manusia akan mengikuti agama dan kebiasaan sahabat dekatnya. Oleh karena itu, kita harus selektif dalam memilih siapa yang menemani perjalanan hidup kita.
Bahkan, Rasullah saw. bersabda yang artinya, “Perumpamaan teman yang baik dengan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dengan pandai besi, ada kalanya penjual minyak wangi itu akan menghadiahkan kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu mendapatkan aroma wanginya. Sedangkan pandai besi ada kalanya (percikan apinya) akan membakar bajumu atau kamu akan mendapatkan aroma tidak sedap darinya.” (HR Al Bukhari). Itulah sebabnya memilih lingkungan yang mendukung kebaikan sangat penting.
Kelima, istikamah juga membutuhkan disiplin. Disiplin dalam ibadah, disiplin dalam menjaga hati, disiplin dalam mengontrol pikiran, dan disiplin dalam menjaga ucapan. Tidak ada istikamah tanpa kebiasaan yang dijaga terus-menerus. Bahkan, amalan kecil yang dilakukan secara konsisten lebih dicintai Allah daripada amalan besar yang dilakukan sesekali.
Namun, istikamah tidak berarti kita harus sempurna. Setiap manusia pasti pernah lelah, pernah jatuh, dan pernah tergelincir. Yang membedakan orang yang istikamah dengan yang tidak adalah bagaimana ia bangkit. Orang yang istikamah tidak membiarkan kesalahan menghancurkan semangatnya. Ia tidak membiarkan rasa malas menggagalkan usahanya. Ia tidak membiarkan kegagalan membuatnya berhenti. Ia menyadari bahwa Allah tidak meminta kesempurnaan, tetapi meminta usaha yang terus dilakukan.
Dalam menghadapi masa sulit seperti masalah hidup, tekanan ekonomi, konflik batin, atau ketidakstabilan emosi, istikamah membuat seseorang tetap tenang meskipun badai menerjang. Ia membuat seseorang tetap bertindak benar meskipun situasi sulit. Ia membuat hati tetap hidup ketika dunia mulai terasa gelap. Di masa-masa sulit inilah kualitas istikamah seseorang benar-benar terlihat. Ingat bahwa setiap usaha menuju kebaikan selalu bernilai di sisi Allah, sekecil apa pun. Jangan remehkan langkah pertama, walaupun terlihat kecil. Kadang, satu langkah kecil itulah yang menjadi titik balik seseorang menuju perubahan besar dalam hidupnya.
Istikamah bukan hanya tentang ibadah ritual seperti salat atau membaca Al-Qur’an, tetapi juga tentang sikap hidup. Istikamah dalam menjaga hubungan dengan orang tua, istilamah dalam bekerja dengan jujur, istikamah dalam belajar, istikamah dalam menjaga akhlak, istikamah dalam berkata baik, dan istikamah dalam memperbaiki diri. Makin luas kita memahami makna istikamah, makin mudah kita menemukan ruang untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Istikamah adalah perjalanan panjang yang penuh dinamika. Ada bahagia dan sedih, ada kuat dan lemah, ada naik dan turun. Akam tetapi, selama kita terus kembali, terus memperbaiki niat, dan terus meminta kekuatan kepada Allah, maka kita termasuk orang-orang yang berusaha menuju istikamah. Dan seseorang yang berusaha akan selalu lebih baik daripada seseorang yang berhenti mencoba.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 12






















