Penulis: Shahibatul Hujjah
Sudah saatnya peradaban ini berbenah, mengembalikan manusia pada fitrahnya. Sebab, keluarga yang utuh bukan sekadar rumah dengan dua orang tua, tetapi tempat di mana peran ayah dan ibu hidup di bawah naungan nilai Ilahi. Dari sini, hanya sistem Islam saja yang mampu menjamin kembalinya peran ayah.
CemerlangMedia.Com — Fenomena fatherless —ketiadaan peran ayah dalam kehidupan anak, baik secara biologis maupun psikis— kian marak di Indonesia. Berbagai laporan media menggambarkan kondisi ini sebagai krisis sosial yang mengkhawatirkan.
Menurut laporan Kompas.id berjudul “Lewat Media Sosial, Dukungan untuk Fatherless Mengalir” (2024), jutaan anak tumbuh tanpa figur ayah. Sebagian karena perceraian, sebagian lagi karena ayah tersita oleh kesibukan bekerja tanpa henti. Bahkan, artikel Tagar.co menyebut fenomena ini sebagai alarm bagi masa depan anak Indonesia karena dampaknya menjalar pada kesehatan mental, kemampuan sosial, hingga pembentukan karakter.
Di balik kisah anak-anak yang kehilangan sosok ayah, terselip potret para ayah yang sebenarnya tidak menghilang —hanya terpaksa menjauh. Laporan dari VOI.id berjudul “Desakan Ekonomi, Jutaan Anak Indonesia Fatherless” mengungkap bahwa tekanan ekonomi menjadi penyebab utama meredupnya figur ayah.
Cerminan Realita Kapitalisme Sekuler
Banyak ayah bekerja lebih dari delapan jam sehari, bahkan melakoni dua pekerjaan sekaligus agar dapur tetap mengepul. Mereka berangkat sebelum matahari terbit dan pulang setelah anak-anak tertidur. Menghabiskan waktu bersama keluarga menjadi kemewahan yang tidak terjangkau.
Kondisi ini bukan semata-mata tentang kemampuan personal atau lemahnya komitmen keluarga. Hal ini mencerminkan realita sosial yang dibentuk oleh sistem kapitalisme sekuler, yakni sistem yang menempatkan ekonomi di atas kemanusiaan, materi di atas makna.
Dalam paradigma kapitalisme, keberhasilan seorang laki-laki diukur dari penghasilan, bukan dari kepemimpinannya dalam keluarga. Seorang laki-laki tidak ubahnya sebuah roda kecil dalam mesin industri besar yang kehilangan kendali atas waktunya, bahkan atas perannya sebagai ayah.
Fenomena fatherless dengan demikian bukan sekadar masalah emosional atau rumah tangga, melainkan produk dari sistem hidup yang salah arah. Kapitalisme menuntut produktivitas tanpa batas, memaksa laki-laki bekerja hingga kehilangan fungsi dasarnya sebagai qawwam —pelindung, penuntun, dan pendidik bagi keluarganya. Ketiadaan figur ayah bukan hanya akibat kelelahan fisik, tetapi hasil dari sistem sosial yang meminggirkan nilai keluarga dari pusat kehidupan.
Ironisnya, masyarakat kapitalistik merespons krisis ini dengan cara yang justru meneguhkan akar masalahnya. Gerakan-gerakan self-healing, kampanye “Strong Without Father”, atau berbagai dukungan digital bagi anak-anak fatherless, muncul di media sosial.
Bukannya meredam krisis fatherless, solusi kapitalistik justru kian menormalisasi ketiadaan figur ayah dalam keluarga. Solusi ini memberi penghiburan sementara tanpa menyentuh akar penyakitnya, yaitu ideologi kapitalisme yang menjauhkan peran agama dari tatanan hidup dan menyingkirkan entitas keluarga dari sistem sosial yang melindungi anak bangsa.
Pandangan Islam
Di sisi lain, Islam memandang persoalan ini dari akar yang lebih dalam. Dalam pandangan Islam, keluarga bukan sekadar institusi sosial, tetapi fondasi peradaban. Ayah dan ibu diciptakan untuk saling melengkapi. Ayah sebagai qawwam yang menuntun, melindungi, dan memberi rasa aman. Ibu sebagai pengasuh dan pendidik pertama yang menanamkan kasih dan nilai (agama). Keduanya berjalan berdampingan, saling menopang dalam bingkai tanggung jawab dan ketundukan pada syariat.
Al-Qur’an bahkan mengabadikan kisah Luqman al-Hakim sebagai gambaran peran ayah ideal. Ia mendidik anaknya bukan dengan amarah, tetapi dengan hikmah. Ia hadir bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara spiritual. Sayang, keteladanan ini menjadi mustahil dalam sistem kapitalisme yang membuat ayah sekadar ‘tulang punggung ekonomi”, bukan “penopang akhlak dan ruhiyah keluarga”.
Lebih dari itu, Islam menegaskan bahwa peran ayah hanya dapat ditegakkan jika negara berfungsi sesuai dengan prinsip syariat. Negara wajib memastikan setiap kepala keluarga dapat menunaikan perannya dengan layak, di antaranya memiliki pekerjaan halal dengan upah cukup, menciptakan sistem ekonomi yang tidak eksploitatif, serta menjamin kesejahteraan rakyat sehingga para ayah tidak terpaksa menggadaikan waktu mereka demi bertahan hidup.
Dalam masyarakat Islam, anak yatim pun tidak kehilangan figur pelindung karena sistem perwalian berjalan secara struktural dalam sistem sosial. Tidak ada ruang bagi anak untuk tumbuh tanpa bimbingan, sebab tanggung jawab itu menjadi bagian dari kewajiban masyarakat dan negara.
Khatimah
Kapitalisme melahirkan rasa kesepian dalam keluarga, sementara Islam menumbuhkan kehangatan dalam struktur sosialnya. Kapitalisme menuntut ayah untuk hadir di tempat kerja, sedangkan Islam menuntut negara agar memungkinkan ayah hadir di rumah. Kapitalisme mengukur nilai hidup dengan harta, sedangkan Islam menilainya dengan tanggung jawab dan ketakwaan.
Jika hari ini fenomena fatherless kian meluas, itu bukan karena para ayah tiba-tiba hilang, melainkan karena sistem yang membuat mereka tidak mungkin hadir di tengah-tengah keluarga. Selama sistem kapitalisme sekuler masih menjadi fondasi kehidupan, keluarga akan terus menjadi korban dari kelelahan ekonomi dan kekosongan makna.
Islam menawarkan jalan keluar yang bukan hanya moral, tetapi sistemik. Islam menata kehidupan agar ayah mampu kembali menjadi pelindung sejati, bukan sekadar pencari nafkah. Para ayah menjelma menjadi pemimpin yang hadir, mendidik dan menumbuhkan iman di dada anak-anaknya.
Oleh karena itu, sudah saatnya peradaban ini berbenah, mengembalikan manusia pada fitrahnya. Sebab, keluarga yang utuh bukan sekadar rumah dengan dua orang tua, tetapi tempat di mana peran ayah dan ibu hidup di bawah naungan nilai Ilahi. Dari sini, hanya sistem Islam saja yang mampu menjamin kembalinya peran ayah. [CM/Na]
Views: 31






















