Rohingya: Bangsa yang Dibiarkan Tenggelam Tanpa Perlindungan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Vivi Nurwida

CemerlangMedia.Com — Di sebuah sudut dunia yang sering luput dari perhatian, ribuan muslim Rohingya hidup tanpa status kewarganegaraan. Sejak pemerintah Myanmar mencabut kewarganegaraan mereka pada 1982, hidup mereka berubah total.

Tanpa identitas, mereka tidak dianggap sebagai warga negara, bahkan tidak diakui sebagai manusia yang memiliki hak dasar untuk hidup aman. Mereka tidak boleh sekolah bebas, tidak bisa bekerja semestinya, tidak bisa berpindah tempat, dan tidak memiliki perlindungan apa pun dari negara yang seharusnya menjadi rumah mereka.

Di negara bagian Rakhine, tempat mereka tinggal selama generasi demi generasi, diskriminasi berubah menjadi pengusiran, dan pengusiran berubah menjadi kekejaman yang terencana. Pembakaran desa, penangkapan sewenang-wenang, pembantaian, hingga pelecehan brutal menjadi cerita yang berulang. Dunia menyebutnya krisis kemanusiaan. Namun bagi Rohingya, itu adalah kehidupan sehari-hari.

Penderitaan di Rakhine bukan datang tiba-tiba. Ia menumpuk dari generasi ke generasi hingga hari ini. Tercatat sebagai salah satu tragedi paling lama yang tidak pernah benar-benar diselesaikan.

Kamp Bangladesh: Hidup, tetapi Tanpa Masa Depan

Mereka yang berhasil melarikan diri ke Bangladesh tidak otomatis selamat. Di Cox’s Bazar, kompleks pengungsian terbesar di dunia, lebih dari satu juta Rohingya hidup berdesakan dalam tenda-tenda yang rawan badai, banjir, penyakit, dan kebakaran.

Di sana, anak-anak tumbuh tanpa sekolah formal, para ibu hidup tanpa perawatan yang memadai, sementara para lelaki tak bisa bekerja karena dilarang oleh kebijakan setempat. Mereka hidup, tetapi tidak memiliki masa depan. Tidak ada status, tidak ada negara, dan tidak ada jalan pulang.

Bangladesh pun tidak mampu menanggung beban ini selamanya. Dan karena tidak ada negara lain yang benar-benar siap menerima mereka, para pengungsi kembali menghadapi jalan buntu. Tinggal di kamp berarti bertahan hidup tanpa kepastian. Kembali ke Myanmar berarti kembali ke maut. Maka satu-satunya jalan yang tersisa adalah laut.

Ketika Laut Menjadi Pelarian Terakhir

Maka mulailah mereka menempuh perjalanan yang lebih berbahaya daripada tinggal di kamp. Naik ke perahu-perahu kayu yang sesak, mereka menyusun harapan di atas ombak, sambil berdoa agar angin tidak berubah arah atau kapal tidak pecah sebelum mencapai daratan.

Gelombang datang silih berganti, menggoncang tubuh-tubuh yang sudah lama letih oleh kelaparan dan trauma. Tidak sedikit yang hilang dan meninggal dalam perjalanan dan bagi banyak orang, laut menjadi kuburan sunyi yang tak pernah dihitung secara resmi.

Sebagian lainnya berhasil terdampar ke negara-negara tetangga, termasuk Indonesia. Di Aceh, wajah-wajah pucat dan tubuh kurus mereka kembali mengabarkan kepada dunia bahwa tragedi ini belum berakhir. Mereka datang bukan untuk mencari kemewahan, tetapi sekadar untuk bertahan hidup.

Empati yang Terkikis oleh Narasi yang Membingungkan

Namun sayangnya, kedatangan pengungsi Rohingnya justru memicu perdebatan. Sosial media penuh dengan narasi simpang siur, sebagian berdasarkan fakta, sebagian lainnya rekayasa yang sengaja dibuat untuk memicu penolakan. Dalam kebingungan itu, empati sebagian masyarakat terkikis.

Muslim Rohingya kini bertahan hidup dalam ketidakpastian tempat tinggal dan ketidakjelasan nasib. Simpang siurnya informasi antara fakta dan opini di media sosial menjadi salah satu sebab sebagian masyarakat tidak lagi berempati pada mereka. Padahal yang mereka butuhkan bukan justru penilaian, tetapi tempat aman setelah perjalanan panjang di tengah ancaman genosida.

Masyarakat seharusnya fokus pada akar persoalan yang membuat mereka terpaksa keluar dari negaranya, bukan terjebak pada persoalan turunan yang sering kali dibentuk oleh narasi yang manipulatif. Apalagi jika sampai terhasut sehingga mengabaikan ajaran Islam untuk menolong saudara seiman yang lemah.

Dunia Kapitalis Tidak Akan Menyelamatkan Mereka

Tragedi Rohingya adalah bukti bagaimana dunia kapitalis hanya bergerak berdasarkan kepentingan, bukan kemanusiaan. Negara-negara besar berbicara tentang hak asasi manusia, tetapi menutup pintu ketika pengungsi mengetuk. Negara-negara lain terjebak dalam nasionalisme sempit yang membuat mereka memandang saudara seimannya sebagai beban, bukan sebagai manusia yang wajib dibela.

Tidak ada negara kapitalisme yang benar-benar peduli. Tidak ada lembaga internasional yang mampu memberikan solusi tuntas. Tidak ada kekuatan yang cukup besar untuk menghentikan rezim Myanmar atau memberikan perlindungan permanen kepada Rohingya.

Mereka tidak sekadar membutuhkan tenda atau makanan sementara. Mereka membutuhkan institusi yang melindungi, membela, dan memberi mereka tempat untuk hidup bermartabat.

Junnah: Pelindung yang Pernah Menjaga Umat

Dalam sejarah Islam, kaum muslim tidak pernah dibiarkan hidup tanpa pelindung. Rasulullah saw. bersabda bahwa imam adalah junnah—perisai yang menjaga umat dari ancaman luar. Dalam payung institusi negara yang menerapkan Islam secara kafah yakni Khil4f4h, umat Islam pernah hidup dalam keamanan dan kesejahteraan.

Namun hari ini, junnah itu hilang. Rohingya menjadi bukti paling nyata bagaimana umat yang kehilangan pelindung berubah menjadi rapuh. Tidak ada otoritas yang mampu menolong mereka secara nyata, menekan rezim penindas, atau memaksa dunia untuk menghormati hak-hak mereka. Selama junnah itu tidak ada, tragedi serupa akan terus berulang, entah di Gaza, di Sudan, di Uyghur, atau di Rohingya.

Saatnya Umat Kembali Melihat Akar Luka

Rohingya bukan sekadar “isu pengungsi.” Mereka adalah cermin bagi umat Islam hari ini. ermin bahwa tanpa persatuan, tanpa pelindung, tanpa Khil4f4h, kita mudah diinjak-injak oleh kekuatan global.

Belas kasihan saja tidak cukup. Doa saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa penderitaan mereka adalah akibat langsung dari hilangnya pelindung umat. Dan kita sebagai bagian dari umat yang satu tubuh, harus kembali memperjuangkan apa yang telah hilang itu.

Wallahu a’lam bisshawab.

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 14

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *