Dunia: Ruang Ujian yang Tak Pernah Lelah Menyapa

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Penulis: Yulweri Vovi Safitria
Managing Editor CemerlangMedia.Com

Hati yang tidak ikhlas akan menorehkan luka kecil yang jika dibiarkan akan merusak jiwa. Kita harus yakin bahwa semua yang ada di dalam kehidupan ini merupakan pemberian, bukan kepemilikan. Apa yang terjadi dalam hidup merupakan takdir terbaik dari-Nya untuk setiap hamba. Manusia hanya berencana, tetapi Allah Subhanahu wa Taala sebaik-baik Perencana.

CemerlangMedia.Com — Kehidupan di dunia ini penuh warna. Ada kebahagiaan, ada kesedihan. Ada kemudahan, ada pula kesulitan. Namun, satu hal yang pasti, kehidupan di dunia ini tidak pernah lepas dari ujian.

Kita sering kali berpikir bahwa ujian hanyalah berupa kesulitan, seperti kehilangan pekerjaan, sakit, kekecewaan, kegagalan. Namun sebenarnya, kemudahan juga merupakan ujian dari Allah. Allah Subhanahu wa Taala berfirman dalam surah Al‑Anbiya ayat 35,
“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.”

Ketika seseorang diberikan harta, itu adalah ujian. Apakah ia akan bersyukur atau justru menjadi sombong. Ketika memiliki pasangan yang saleh atau salihah, itu juga ujian. Ketika sudah memiliki anak, itu juga ujian.

Begitu pula ketika seseorang diberikan jabatan, itu juga ujian. Apakah ia akan berlaku adil atau menyalahgunakan kekuasaan. Bahkan, ketika seseorang diberi ilmu, itu pun ujian. Apakah ilmunya digunakan untuk kebaikan atau untuk kesombongan.

Dunia, Ruang Ujian

Dunia ini ibarat tempat ujian bagi kita. Waktu hidup di dunia mungkin tidak lama, tetapi ujiannya tidak pernah lelah menyapa. Ujian seolah tidak pernah habisnya. Datang silih berganti menguji keikhlasan dan kesabaran kita.

Akan tetapi, apabila kita mau mencermati, di balik semua ujian itu, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Taala sedang mengangkat derajat kita lewat ujian-Nya. Ibarat sekolah, makin tinggi level pendidikan seseorang, makin berat ujiannya. Begitulah ujian kehidupan, makin tinggi level keimanan seseorang, makin berat pula ujian yang harus dilewati.

Ada orang yang ketika diuji dengan kesulitan, ia makin dekat kepada Allah. Senantiasa bersabar, selalu berdoa, dan tetap berusaha. Sebab, ia yakin bahwa apa yang dilakukan di dunia akan menentukan bagaimana keadaannya di akhirat nanti.

Namun, ada pula orang yang ketika diuji dengan kenikmatan, ia lupa kepada Allah. Menganggap bahwa semua keberhasilan adalah karena dirinya sendiri, bukan karunia Allah sehingga ia merasa hebat dan lupa akan tujuan hidupnya.

Sikap Seorang Muslim

Pertama, bersabar ketika mendapat kesulitan. Sabar memang tidak mudah. Namun, pahala yang Allah janjikan kepada orang-orang mukmin yang senantiasa bersabar, menjadi penyemangat sehingga kita tidak mudah menyerah, meskipun godaan dan tipu daya setan sering kali membuat lalai, lalu membawa diri menjauh dari-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan di dalam Al-Qur’an surah Al‑Baqarah ayat 155,
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Ayat di atas menunjukkan bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan. Tidak ada manusia yang benar-benar terbebas dari ujian. Bahkan, orang alim mengatakan, “Tidak hidup jika tidak mau diuji.”

Kedua, bersyukur ketika mendapat nikmat. Syukur menjaga kita dari kesombongan dan membuat nikmat itu makin bertambah.

Oleh karena itu, jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar dunia, lalu melupakan tujuan utama kehidupan. Sebab, dunia hanyalah tempat persinggahan, bukan tujuan akhir. Kita datang ke dunia untuk beribadah dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang kekal.

Ketiga, selalu ikhlas. Ikhlas dalam menerima ujian dari-Nya terkadang memang berat. Sering kali kita jatuh bangun menata hati untuk menerima takdir-Nya. Bahkan, ketika lisan sudah berucap ikhlas, tetapi terkadang hati justru mengingkarinya.

Namun, kita menyadari bahwa hati yang tidak ikhlas akan menorehkan luka kecil yang jika dibiarkan akan merusak jiwa. Kita pun harus meyakini bahwa semua yang ada di dalam kehidupan ini merupakan pemberian, bukan kepemilikan.

Dengan demikian, hati akan senantiasa ikhlas, sekalipun kejadian demi kejadian mengecewakan kita. Sebab, apa yang terjadi dalam hidup merupakan takdir terbaik dari-Nya untuk setiap hamba. Manusia hanya berencana, tetapi Allah Subhanahu wa Taala sebaik-baik Perencana. [CM/Na]

Views: 28

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *