#30HMBCM
Penulis: Kak Na
CemerlangMedia.Com — Kadang lucu nggak, sih? Ketika banyak orang sudah tahu harus berubah. Tahu mana yang benar. Tahu apa yang harus diperbaiki, tetapi tetap saja… nggak mulai. Apakah kamu juga begitu?
Bukan karena nggak mampu. Bukan juga karena nggak peduli. Tetapi karena… menunggu waktu yang “pas”. Padahal waktu yang “pas” itu nggak pernah benar-benar datang. Akhirnya, niat hanya jadi rencana.
Disimpan.
Ditunda.
Dan pelan-pelan… dilupakan.
Di sisi lain, ada juga yang sebenarnya mau berubah. Tetapi saat diingatkan… rasanya nggak nyaman. Seperti ada yang “ganggu”. Bukan karena nggak tahu, tetapi karena belum siap diluruskan.
Terkadang, nasihat didengar… tetapi nggak benar-benar masuk. Lewat begitu saja. Seperti angin. Bahkan, ada yang memilih diam.
Fokus ke dunia sendiri. Asik dengan apa yang disukai tanpa benar-benar mikir… arah hidupnya ke mana.
Dan itu terjadi pelan-pelan. Bukan karena menolak kebaikan, tetapi karena terlalu sering menunda.
Sampai akhirnya… yang penting terasa jauh.
Dan yang nyaman jadi pilihan utama.
Coba bayangin ini. Kamu lagi duduk, pegang ponsel. Niatnya hanya buka sebentar. Nyari referensi tugas atau pekerjaan. Menit-menit awal masih aman, lima menit berubah arah… ngeliat berita hits tentang idola kamu, terdistraksi, deh! Sepuluh menit. 30 menit, byarrr!!!
Satu jam hilang. Nggak terasa. Nggak kerasa berat. Baru sadar tujuan kamu belum tercapai, referensi tugas? Lenyap! Tetapi waktu habis.
Hal-hal penting jadi tertunda. Salat mundur.
Target hilang. Niat jadi sekadar niat.
Ini bukan karena kamu malas, tetapi karena kamu terbawa.
Terbawa arus yang pelan… tetapi terus menarik.
Kayak orang yang lagi jalan di treadmill.
Kelihatannya jalan, tetapi sebenarnya nggak ke mana-mana.
Capek… tetapi tetap di tempat.
Dan hidup tanpa langkah nyata juga begitu.
Terasa “jalan”, padahal sebenarnya diam.
Makanya kita sering ngerasa capek sendiri.
Bukan karena terlalu banyak berubah, tetapi karena terlalu lama nggak mulai. Dan di titik ini, kita nunggu satu hal:
Nunggu siap.
“Nanti kalau aku sudah siap.”
“Nanti kalau aku sudah berubah.”
Padahal… siap itu nggak datang di awal.
Siap itu muncul setelah kamu mulai. Coba bayangin orang yang mau berenang. Kalau dia terus berdiri di pinggir kolam….
Nunggu berani….
Nunggu yakin….
Nunggu siap….
Dia nggak akan pernah masuk air. Padahal rasa “siap” itu datang setelah dia masuk dulu.
Walaupun pelan. Walaupun takut. Hidup juga sama. Kamu nggak akan merasa siap untuk berubah sampai kamu mulai berubah.
Allah juga sudah memberi batas yang jelas:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya….” (QS Al-Baqarah: 286).
Artinya, kamu nggak dituntut langsung sempurna. Kamu hanya diminta… mulai. Mulai dari yang kamu mampu. Yang sederhana. Yang realistis. Salat tepat waktu. Satu halaman Al-Qur’an.
Satu keputusan untuk nggak menunda. Kelihatannya kecil, tetapi arah hidup berubah dari situ. Karena hidup itu bukan tentang sekali berubah besar.
Tetapi tentang langkah kecil yang terus dijaga.
Satu hal yang sering dilupakan, kamu nggak perlu jadi baik dulu untuk mulai.
Justru dengan mulai… kamu jadi baik. Mungkin hari ini kamu masih jatuh. Masih bolong. Masih belum konsisten.
Itu bukan gagal.
Itu proses.
Karena yang penting bukan kamu langsung berubah. Tetapi kamu nggak berhenti mencoba.
Pelan nggak apa-apa. Lambat nggak masalah.
Selama kamu tetap jalan… kamu sedang berubah. Dan mungkin… hari ini bukan tentang kamu jadi sempurna. Tetapi tentang kamu berani mulai.
Dan dari satu langkah kecil itu, arah hidup kamu pelan-pelan berubah.
Renungan kecil:
“Kalau bukan sekarang… kamu mau mulai kapan?”
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 1






















