#30HMBCM
Oleh: Cokorda Dewi
CemerlangMedia.Com — Ramadan tahun ini telah berlalu. Namun spirit Ramadan haruslah tetap ada dan berkembang dengan baik. Spirit Ramadan membentuk mental bertakwa dan harus dijaga agar tetap istikamah.
Allah telah memberikan manusia potensi kehidupan, berupa kebutuhan jasmani dan gharizah. Salah satu gharizah atau naluri adalah baqa’. Gharizah baqa’ merupakan naluri mempertahankan diri, memunculkan rasa percaya diri, keberanian, dan berpendapat. Gharizah baqa’ juga merupakan naluri menunjukkan eksistensi diri. Gharizah baqa’ ini juga yang membuat seseorang mampu untuk menjadi seorang pemimpin (khalifah).
Dalam QS Al Furqon ayat 74, Allah telah memberikan petunjuk berupa do’a yang sangat indah, tentang harapan memiliki generasi penerus sebagai sumber kebahagian. Dan do’a untuk menjadikan kita seorang pemimpin, tidak hanya sekadar pemimpin, tetapi sebagai pemimpin yang bertakwa.
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
Di samping itu, kita juga sudah diberikan privilege sebagai pemimpin di muka bumi (khalifah), sebagaimana firman Allah dalam QS Al Baqarah: 30,
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang akan membuat kerusakan di sana dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Juga dalam QS Al-An’am: 165, “Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat memberi hukuman, dan sungguh, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Rasulullãh saw. bersabda dalam hadis bahwa setiap anak dijadikan sebagai leader di muka bumi.
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya….” (HR Bukhari dan Muslim).
Manusia memiliki kemampuan unik, bisa merusak atau bisa membawa kebaikan. Namun, manusia juga diberikan akal, hati, dan kemampuan untuk berubah ke arah yang lebih baik dengan bertaubat dan belajar menjadi saleh. Manusia diberikan tanggung jawab dan amanah untuk mengelola serta menjaga alam dengan baik, menegakkan keadilan, dan hidup sesuai dengan aturan Allah. Bukan khalifah yang bebas berkuasa di muka bumi.
Dunia ini tempat ujian berlangsung, di mana perbedaan derajat merupakan ujiannya. Perbedaan derajat, kaya-miskin, pintar-bodoh, berkuasa-tidak berkuasa, bukanlah bentuk ketidakadilan. Akan tetapi, merupakan sebuah ujian hidup dan hasil tes-nya ada di akhirat kelak.
Hidup itu tidak hanya dijalani saja, tetapi ada tanggung jawab besar di dalamnya. Selalu ada konsekuensi dari yang dikerjakan dan selalu ada kesempatan untuk memperbaikinya menjadi lebih baik.
Peran orang tua, terutama seorang ibu adalah untuk merawat, membimbing, dan mendidik anak-anaknya agar berkembang dengan baik. Sejak dini, gharizah baqa’ harus distimulasi dengan baik. Sudah diajarkan dan diberikan tanggung jawab, kepercayaan, serta dukungan sehingga akan tumbuh keberanian dalam diri anak. Kelak, menjadikannya khalifah di muka bumi, bermental pemimpin, jujur, amanah, tangguh, serta mempunyai kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungannya.
Kepemimpinan bukan bakat, tetapi harus dipersiapkan sejak dini dengan stimulasi gharizah baqa’ yang tepat untuk membentuk karakter kepemimpinan sesuai dengan fase-fase anak. Dengan begitu, anak dapat berkembang menjadi individu yang percaya diri, bertanggung jawab, dan memiliki jiwa kepemimpinan.
Contoh stimulasi sesuai dengan fase anak.
Fase usia 0—2 tahun.
Memberi rasa aman, melatih keberanian ekplorasi, mengajarkan perlindungan dasar, dan melatih penguatan identitas diri. Penguatan identitas diri ini dengan cara memanggil nama anak yang jelas dan pemberian nama yang baik. Sebab, nama juga do’a.
Fase usia 2—7 tahun.
Mengajarkan kepemilikan, belajar, dan mengetahui haknya dan hak orang lain, serta melatih mempertahankan haknya untuk melatih keberanian dan menumbuhkan rasa percaya diri anak. Mengajarkan menjaga diri dalam pengawasan orang tua serta memahamkan batasan aurat. Melatih mengelola emosi bahwa boleh marah, tetapi tetap bisa mengendalikan diri dengan mengontrol baqa’.
Penting mengajarkan usaha untuk mendapatkan sesuatu dengan cara yang benar dan bersabar dalam berproses. Menjelaskan bahwa tidak semua keinginan didapatkan secara instan, tetapi perlu adanya ikthiar atau usaha. Membiasakan aturan dan disiplin, gharizah baqa’ harus dibatasi dengan aturan dan disiplin agar tidak menjadikannya egois sehingga mudah untuk mengarahkan anak menjadi pribadi yang memiliki syahsiyah Islam yang kuat dan terarah. Berani berpendapat, bertanggung jawab, dan percaya diri.
Anak perlu diberikan ruang untuk explorasi. Jangan suka membandingkan anak agar tidak memunculkan rasa insecure (harga dirinya dilemahkan) dan jangan memaksakan anak untuk mengalah agar gharizah baqa’-nya tidak melemah sehingga tidak hilang kemampuan untuk mempertahankan haknya. Dilarang memarahi ketika anak mengekspresikan emosi agar mampu mengelolanya sehingga menumbuhkan kepercayaan diri dan mampu mempertahankan hak-haknya.
Fase tamyiz, usia 7—10 tahun.
Mengajak dialog, memberikan tanggung jawab, dan diberikan aturan disiplin. Melatih tanggung jawab pribadi, melatih keberanian mengambil keputusan, mengajarkan menjaga diri dari bahaya, memahami batasan pergaulan, dan dapat melindungi dirinya sendiri. Melatih daya juang dengan memahamkan proses atau ikhtiar. Mengarahkan kompetisi secara sehat dengan stimulus yang benar. Memberikan semangat bahwa anak yang hebat mampu bersaing sehat dan bermental sebagai pemenang.
Fase 7 tahun—baligh.
Dalam Islam, anak usia baligh telah mampu untuk menafkahi dirinya sendiri. Pada Fase ini, melatih jiwa kepemimpinan, kepercayaan diri, dan bertanggung jawab. Memberikan gambaran untuk apa tujuan hidupnya. Visi misi hidupnya jelas dengan menumbuhkan tujuan hidupnya. Tidak hanya sekadar mengharapkan validasi dari orang lain. Melatih kemandirian dan tanggung jawab, mengarahkan ambisi menjadi prestasi yang bermakna. Tidak sekadar validasi, tetapi prestasi yang bermanfaat.
Menguatkan identitas diri bahwa dirinya adalah hamba Allah dan hanya mengharapkan rida Allah serta mengarahkan keberanian mempertahankan prinsip. Memahamkan juga bahwa manusia wajib berusaha, dan hasil akhir adalah Allah yang menentukan. Setiap usaha yang baik berpahala, sebagai bekal pertanggungjawaban kelak di akhirat (hisab).
Jadi, stimulasi gharizah baqa’ adalah dengan menumbuhkan kepercayaan diri. Sadar bahwa dia hamba Allah yang mampu dan berani berpendapat. Mendorong anak mengambil peran dengan mengarahkan hal-hal positif.
Setiap anak adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Jika laki-laki akan menjadi pemimpin dalam keluarganya. Jika perempuan mampu me-manage keluarganya agar sesuai dengan syari’at Allah. Membentuk ketegasan dan keberanian membela kebenaran. Memiliki keteguhan sikap dalam mengambil keputusan, berani menyampaikan kebenaran dengan teguh, dan melatih tanggung jawab untuk dapat menjaga kepercayaan yang diberikan, serta mampu disiplin pada dirinya sendiri. Seorang ibu harus bersabar dalam proses mengarahkan anaknya sehingga memiliki karakter yang kuat.
Orang tua berperan utama untuk membentuk gharizah anak secara positif. Ayah sebagai figur pemimpin dengan contoh ketegasan sebagai teladan orang tua, akan menumbuhkan keberanian anak. Sedangkan seorang ibu membentuk emosi dan kepercayaan diri (stimulus gharizah baqa’). Ibu adalah tempat anak curhat, memotivasi anak. Ibu tidak boleh menjadi hakim.
Lingkungan sekolah, guru, dan negara juga berpengaruh pada jiwa anak. Untuk itu, penting mengarahkan aktivitas anak pada hal-hal positif yang sesuai dengan syari’at Allah, melatih anak berpendapat, dan berani membela kebenaran.
Dengan stimulus yang tepat pada anak, sesuai fase usia anak dan melalui pemahaman akidah, serta pengenalan tsaqafah Islam, insyaa Allah dapat mewujudkan generasi bermental pemimpin yang amanah, jujur, perduli, dan bertakwa. Wallahu a’lam bisshawwab.
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 11






















