Caring Without Pretense (Peduli Tanpa Topeng)

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM2

Oleh: Lailatul Maulina

CemerlangMedia.Com — Setiap kepedulian tentu akan begitu menyentuh hati para penerimanya. Merasa ada yang mau membersamai setiap urusannya, merasa ada yang mau hadir di dalam hidupnya, ada yang mau memberi ketenangan atas setiap senang maupun sedihnya. Memang, kepedulian jelas sebagai sesuatu perbuatan yang mulia. Dari hal itulah yang kemudian banyak yang terjebak bahwa semua kepedulian adalah sesuatu yang benar-benar tulus dari hati si pelakunya. Padahal, ada banyak sekali kepedulian yang kemudian berujung pada kerusakan atau berakhir pada tujuan yang dikehendaki oleh pelakunya. Siapa pun yang mendapat kepedulian tanpa memperhatikan pola perilakunya dengan seksama, maka hanya akan terbuai dan otomatis hilang pula kemampuan untuk mengetahui maksud di balik kepedulian yang didapatkan.

Hati yang terlalu merasa dengan gejolak yang dalam terhadap kepedulian yang ada akan terasa begitu senang terhadap pelakunya, padahal itu hanyalah awal, bukan akhir. Sikap seseorang sejatinya tidak bisa dinilai dari interaksinya dengan seseorang hanya dalam satu atau dua kali, bahkan membutuhkan waktu selama bertahun-tahun untuk benar-benar bisa membuka tabir kebenaran yang sebenarnya dari suatu perilaku yang diberikan.

Kesan kepedulian pertama kalinya itulah yang menjadi umpan, seolah menunjukkan bahwa ada sosok yang punya hati dan kebaikan yang luas. Nyatanya, hanyut dalam penilaian pertama pada seseorang adalah risiko terbesar menuju maksud yang sebenarnya. Bukan untuk mengajarkan berprasangka buruk, tetapi tetap waspada dan berpikir atas setiap hal yang orang lain lakukan. Tidak ada salahnya berhati-hati, sebab itu usaha untuk mencegah hal yang buruk terjadi. Sering kali kerusakan terjadi dalam berita yang diawali dengan suatu kepedulian, seolah itu murni kebaikan.

Kepedulian yang sekadar topeng, tidak akan pernah bertahan lama. Jika ada sisi kepedulian, pasti ada suatu masa pelakunya akan acuh seiring berjalannya waktu. Jika ternyata orang yang diberi kepedulian tidak sejalan dengannya atau tidak bisa dikontrol kehidupannya. Mereka juga cenderung akan menjadikan kepedulian sebagai senjata yang dinilai ampuh untuk melumpuhkan ego siapa pun. Kemudian menjadi wajar jika seseorang yang diberikan kepedulian justru berpaling atau tidak tunduk pada setiap titahnya. Maka yang terjadi adalah banting setir pada sikap asli yang acuh tak acuh.

Kepedulian yang sekadar topeng itu cenderung subjektif. Jika merasa seseorang dapat memberikan manfaat dan pengaruh baik bagi kehidupannya, maka akan terus meningkat kepedulian itu, bahkan akan cenderung meluap-luap tidak wajar. Kepeduliannya yang pilih-pilih orang, akan cenderung terlihat berlebihan. Hal ini karena semangat yang terlihat berlebihan dan sikap yang dibuat-buat. Sikap yang benar itu tidak akan kaku dan cenderung terlihat wajar jika diperhatikan. Kepedulian yang subjektif akan menjadikan pelakunya seolah bisa berubah sikap dalam waktu sekejap. Jelaslah bahwa dirinya bersikap sesuai dengan orang yang ada di hadapannya. Jadi, berhati-hatilah bahwa semua bisa peduli, tetapi yang tulus tidak akan membedakan antar sesama.

Berbeda halnya dengan pribadi yang memang punya value di dalam dirinya, attitude mereka nyata dan tidak akan pernah memakai topeng dalam kepedulian. Orang yang punya value akan merasa bahwa peduli dengan topeng kepalsuan itu melelahkan. Tidak akan cukup energi orang yang bervalue untuk memakai topeng dalam kepeduliannya. Energinya tidak akan sanggup jika harus menjadikan orang lain sebagai tujuan ambisinya. Orang lain, termasuk keluarga dan orang-orang di sekitarnya adalah orang yang layak mendapat kepeduliannya, bukan karena ada maksud tersembunyi di balik kepeduliannya.

Jika memaksakan diri bersikap dalam kepalsuan, dirinya akan merasa kurang nyaman, sebab tidak sesuai dengan value dirinya yang penuh dengan ketulusan. Dirinya memahami bahwa semua orang layak diperlakukan sama, sebab begitulah yang dicontohkan baginda Muhammad saw. terhadap orang-orang yang menzalimi beliau. Bukan dengan dendam, hukuman, atau kepalsuan yang diberikan oleh beliau, tetapi justru menuntun mereka dengan kasih sayang menuju kebenaran.

Value seseorang akan menunjukkan bagaimana attutide mereka terhadap orang-orang yang posisinya ada di atas atau di bawah mereka. Bukan karena jabatan, mereka memperlakukan seseorang dengan adil. Bukan karena balas budi, tetapi sikapnya adalah murni datang dari pemikirannya yang utuh dengan nilai-nilai kebenaran dan hati yang senantiasa lembut karena ketakwaan.

Kepedulian yang penuh kepalsuan hanya terlihat oleh mata dan pasti akan segera sirna. Sedangkan kepedulian yang sebenarnya, justru akan senantiasa terasa pula di dalam hati, sebab itulah ketulusan yang paripurna. (L. Maulina)|

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 10

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *