#30HMBCM
Oleh: Shunink
CemerlangMedia.Com — “Barang siapa yang meminta maaf kepada saudaranya dengan suatu alasan, lalu saudaranya itu tidak menerima maafnya, maka orang yang tidak menerima maaf tersebut akan menanggung dosa seperti dosa pemungut pajak yang zalim.” (HR Abu Daud).
“Bagaimana selanjutnya? Ada apa dengan She? Setiap dijenguk, selalu menangis dan minta pulang?” tanya Ayah tiba-tiba.
“Saat jenguk bulan depan, biar aku tanyakan,” jawab Bunda.
…
“Assalamu’alaikum, Ustazah,” sapa bunda pada Ustazah ‘Aini yang juga merupakan Musyrif She di Pondok Pesantren Al-Imaani.
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, ya… Bunda. Apa kabar?” sahut Ustazah ‘Aini dengan ramah.
“Alhamdulillah, Ustazah. Semoga Ustazah juga demikian…” ucap Bunda sambil menyambut jabatan tangam Ustazah ‘Aini.
“Alhamdulillah. Sebentar saya panggilkan She dulu, ya,” pamit Ustazah ‘Aini.
Bunda pun menganggukkan kepala sambil tersenyum, dan bersama Ayah juga adik-adik She, mereka duduk di ruangan yang disediakan oleh pondok pesantren untuk menemui anaknya, “Ruang Lesehan” namanya.
Tidak lama kemudian, She pun datang dengan wajah yang seolah begitu tergambar beratnya pikiran, tetapi tetap dihiasi oleh senyuman manisnya.
“Bunda… Ayah, Assalamualaikum,” sapa She kepada kedua orang tuanya, sambil mencium punggung tangannya.
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh?” jawab Ayah dan Bunda.
“Apa kabar, She?” tanya Ayah dengan mengelus kepala anak gadisnya.
“Alhamdulillah,” ucap She diiringi dengan senyuman.
Namun, mimik wajah She tidak bisa menipu pandangan tulus kedua orang tuanya. Muncul rasa kaku, canggung, dan dingin di antara mereka. Ayah juga Bunda She merasa bingung untuk membuka sebuah percakapan hangat seperti biasanya.
Sedangkan She tiba-tiba cuek dan berusaha menikmati jajanan yang dibawa oleh Bunda.
Sesekali Ayah dan Bunda saling pandang, seolah mereka saling melempar kode agar salah satu dari mereka memulai percakapan. Akan tetapi, baik Bunda maupun Ayah, seolah berada pada pilihan yang sama, ‘Biarkan saja dulu, nanti saja ngobrolnya, kamu yang dulu bicara.’
Di luar dugaan Bunda, di tengah waktu penjengukan, Ayah mencairkan suasana canggung tersebut dengan cara berpamitan keluar ruangan lesehan untuk mencari angin dan membeli es teh di kedai dekat pondok pesantren tersebut.
Tiba-tiba…
“Bunda…” panggil She dengan suara lirih.
Bunda pun merespons panggilan tersebut dengan senyuman teduh, meskipun hati dan pikirannya berisik dengan pertanyaan receh, “Kali ini apa lagi?”
“She hanya ingin satu semester aja… di Ma’had ini,” pinta She.
Bunda masih mempertahankan senyumannya dan menganggukkan kepala, tetapi bukan berarti mengiyakan permintaan She.
“Bunda… She serius!” ucap She dengan wajah yang sedikit kesal dan ucapan yang menekan, seolah ingin teriak, tetapi dia masih memperhitungkan keadaan di sekelilingnya.
Bunda menarik napas agak dalam, lalu berkata satu kata tanya dengan nada lembut, “Kenapa?”
She hanya diam dan sedikit menundukkan kepala serta pandangannya ke bawah. Tangannya sibuk mengumpulkan nasi dan lauk pauk yang berserakan di sekitarnya.
Melihat reaksi She, Bunda pun mengajukan pertanyaan yang sama, lagi. “Kenapa, She?” Bunda dengan suara tegasnya berbicara pada She dengan bijak.
“She, Apakah tidak betah di sini, ji ? Apakah ada masalah berat?” tanya Bunda.
“Bukankah She sangat senang dan sumringah sekali, di sini? Kenapa sekarang tiba-tiba berubah pikiran, Nak?” imbuhnya.
Beberapa saat She hanya terdiam. Terlihat dia sedang mengontrol rasa sesak di dadanya. Seolah ada hal yang ingin dia ungkap, tetapi dia merasa bingung dan takut.
“She…” panggil Bunda lirih.
She mengangkat kepalanya dan pandangannya lurus ke wajah dan pandangan Bunda pada dirinya.
“Bunda… She tidak punya teman di sini, semua menjauh! Mereka membenciku… She selalu menjadi bahan ghibah dan gunjingan mereka. She selalu disalahkan, bahkan jika ada yang bicara sama She, mereka selalu menghasud anak itu agar menjauhi She!” jelasnya dengan tegas diiringi air mata yang mengalir tak terbendung. Sedikit demi sedikit, isak tangisnya pun terdengar lirih. She berusaha keras menahan reaksi emosinya karena malu jika dia akan menjadi pusat perhatian di ruangan tersebut.
…
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 5






















