#30HMBCM
Oleh: Fitri Sumantri
CemerlangMedia.Com, STORYTELLING — “Terkadang, sesuatu yang melelahkan itu bukan mencari apa yang telah hilang, melainkan mencari sesuatu yang belum pernah ada, atau sempat ada, tetapi belum dimiliki sepenuhnya. Namun, sering kali ia terasa nyata di dalam dada.”
Ada beberapa hal yang terkadang terasa begitu nyata, momen di mana kita sering kali berbicara dengan orang lain di dalam pikiran, membayangkan respons mereka ketika kita menjelaskan sesuatu, tawa mereka di saat kita sedang membual, atau merangkai cerita-cerita yang kita anggap lucu, atau semacam konflik yang belum pernah terjadi, tetapi terkadang bayangan itu serupa kenyataan yang sudah lama hidup dalam ingatan. Namun sayang, segalanya tidak pernah benar-benar ada, hanya sekadar bayangan yang hidup dalam ingatan.
Persis seperti momen waktu aku mengunjungi teman lamaku. Efek sudah lama tidak bertemu, jadinya terasa canggung sehingga segala pertanyaan tiba-tiba berserabut di kepala, serupa benang kusut yang butuh waktu panjang untuk membuatnya utuh, seolah segala hal itu memang akan ditanyakan. Semua jawaban pun sudah selesai dalam ingatan, padahal ketika bertemu dengannya pertanyaan dan jawaban yang penuh di benak tadi, tak satupun terucap. Semuanya mencair dalam suasana, obrolan seputar kehidupan kita sekarang yang terkadang terasa menyenagkan untuk dijadikan bualan, atau momen-momen lucu tentang masa lalu yang membuat kita pernah merasa ada.
Atau barangkali momen manis waktu pertama kali kita mengendong Zayan dengan hangatnya, belajar memandikannya di atas parlak bermotif bebek, momen yang membuat kita serta ruangan itu basah karena kita belum cukup berani mengangkatnya ke ember pemandian, atau momen dimana kita saling belajar banyak hal untuk membuatnya bertumbuh. Sebuah kenangan manis yang kita anggap juga akan tercipta pada Nusaibah, persis seperti kenangan indah masa kecil Zayan yang kita rawat dengan hati-hati, menyimpannya biar tak pernah hilang. Kita juga melakukan hal yang sama pada putri kecil kita, seolah ia pernah hidup di antara waktu, padahal ia hanya tumbuh dari harapan yang terlalu lama kubiarkan ada, yang dari awal aku sudah tahu bahwa ia hanyalah sesuatu yang tak mungkin.
Bahkan, aku pernah mengingat atau barangkali sempat membayangkan diriku sendiri dalam versi yang berbeda, versi yang tak pernah kujalani. Akan tetapi entah mengapa, ketika kutatap cermin, bayangan diriku dengan versi yang berbeda itu, tiba-tiba ada sesuatu yang hadir di kepala, sebuah bayangan seakan ada yang tersembunyi dari diriku. Seolah ada luka yang tak jua sembuh, terselip tawa yang tak pernah kubagi. Bahkan, ada suara yang juga tak pernah terdengar, persis dalam percakapan yang hanya ada di kepala, dan dalam kebersamaan yang tak pernah sempat menjadi nyata. Ia ada, tetapi sering kali berisik di kepala. Aneh, bagaimana hati bisa menyimpan sesuatu yang tak pernah benar-benar dimiliki, sesuatu yang kutahu dengan sadar kepergiannya, sesuatu yang kuucap ikhlas pada mulut, tetapi entah mengapa, lukanya terkadang terasa hadir kembali pada momen-momen tertentu.
Mungkin yang selama ini kuingat bukanlah kejadian, sebab momen di mana aku mendengar suaramu di balik telepon dengan menahan sesak itu teringat jelas di ingatan. Momen tak ada lagi air mata yang tersisa untuk sekadar menyembuhkan luka yang begitu menyesakkan dada. Apalagi ketika kau bilang dokter mengatakan bahwa bayi kecil itu tidak bisa lagi tertolong, dokter menyerah. Momen di mana harapku tinggal cerita, angan-anganku selesai dalam ingatan, dia yang memilih pergi untuk selamanya, barangkali luka itu hadir hanyalah karena perasaan yang kuciptakan sendiri.
Perasaan yang diam-diam kubangun, kuberi makna, lalu kuyakini sebagai sesuatu yang pernah ada. Padahal aku tahu dari awal bahwa sesuatu itu terlalu sulit, terlalu berat untuk di jadikan ada. Hingga pada akhirnya, ia memang tak pernah ada, tak ada tangis dan tawa yang pernah terdengar ada, yang tersisa hanyalah sebatas kenangan tentangnya, kenangan manis yang mengingatkan diri akan ketetapan Allah Swt.. Sesuatu hal yang kita anggap baik, belum tentu baik untuk kita. Dan sesuatu yang kita anggap buruk, belum tentu buruk untuk kita, sebab yang tahu diri kita hanyalah Sang Pencipta.
Dan di situlah letak lelahnya merindukan sesuatu yang tak pernah hadir, kehilangan sesuatu yang tak pernah dimiliki. Tetapi dari segala yang tak pernah ada itu, aku jadi mengerti akan sesuatu yang disebut dengan “pencarian “. Momen di mana kita butuh waktu untuk diri kita sendiri, bukan tentang berbagai hal menyenangkan dalam versi manusia kebanyakan, tetapi sesuatu yang menenangkan jiwa. Sesuatu yang membuat kita kembali pada Sang Pemilik diri, Allah Swt.. Entah ribuan luka yang pernah hadir dalam hidup atau secuil tawa sekadar jadi bayangan yang dianggap ada, apa pun itu, kita hanya butuh Allah Swt..
Karena dalam hidup ini, tidak semua yang terasa nyata adalah kenyataan. Bahkan, di zaman sekarang, kebahagian itu hanya milik mereka yang berkuasa dan berduit. Sebab, di zaman kapitalisme, keamanan ekonomi menjamin kesejahteraan, maka kecukupan ekonomi menjamin kesejahteraan individu yang berkolerasi dengan rasa bahagia.
Karena kebutuhan dasarnya terpenuhi dan uang dapat memberikan keamanan dan kenyamanan yang mempermudah tercapainya kebahagiaan. Jadi, dunia ini hanyalah tempat kita dihukumi atas kesalahan nenek moyang, bukan tempat untuk kita benar-benar bahagia. Kita hanya butuh waktu sejenak untuk mengumpulkan bekal untuk pulang pada rumah yang menanti dengan bahagia karena terkadang, hati hanya sekedar pandai bercerita, bahkan pada hal-hal yang tak pernah ada.
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 10






















