Si Pencuri Tenaga yang Tersembunyi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Yulweri Vovi Safitria

Bayangkan sebuah mesin canggih yang dirancang untuk terus bergerak, berkarya, dan memberikan manfaat bagi banyak orang. Namun, di dalam mesin itu, ada satu sekrup kecil yang mulai longgar. Awalnya hanya bunyi berderit tipis, lalu getaran kecil yang terasa di permukaan. Itulah gambaran ketika tubuh mulai memberikan sinyal melalui gangguan pencernaan.

CemerlangMedia.Com, STORYTELLING — Sering kali, saya merasa “ah, cuma kembung sedikit” atau “paling hanya telat makan.” Saya mengabaikannya demi mengejar tenggat waktu, memilih tidur sejenak karena terlalu lelah, menyelesaikan tulisan, atau memenuhi janji temu. Saya merasa kuat, padahal di dalam sana, sistem pusat energi sedang berteriak minta tolong, tetapi saya ‘tidak mau tau’ atau lebih tepatnya ‘enggan’ membaca signal itu.

Saat itu saya merasa masih 17 tahun, masih muda hingga ketika menginjak 20 tahun, kondisi makin parah. Terkadang dipaksa tidak sahur dan menerima semangkok bakso di saat berbuka karena sudah capek bekerja selama 12 jam. Bahkan, ketika muntah setiap kali shift malam, saya abaikan begitu saja. Tidak peduli dengan ‘jeritan’ halusnya.

Saya pun terlambat menyadari bahwa pencernaan bukan sekadar proses menghancurkan makanan. Ia adalah “otak kedua”. Saat ia terganggu, bukan hanya perut yang tidak nyaman, tetapi fokus pun ikut buyar.

Pada fase tertentu, saya sulit memeras kreativitas karena fokus terbagi dengan rasa perih atau begah. Tubuh pun menghabiskan terlalu banyak tenaga untuk memperbaiki sistem internal yang rusak, menyisakan sedikit sisa untuk produktivitas.

Bukan hanya itu, mood juga jadi labil. Ya, sebab hubungan antara usus dan suasana hati sangatlah erat. Pencernaan yang buruk sering kali menjadi akar dari rasa cemas dan letih yang tidak berkesudahan.

Kini mesin itu berderit lebih hebat, seperti tidak ada oli. Memberi kode kalau sudah lelah. Setiap kali mengonsumsi makanan, jeritan halusnya membuat saya merintih. Namun, tidak ada kata terlambat. Menjaga pencernaan bukan berarti berhenti berjuang. Justru, hal tersebut adalah strategi agar bisa berjuang lebih lama.

Semestinya tidak menunggu sampai ‘meledak’ baru berhenti. Tidak menunggu indra perasa menjadi pahit. Seharusnya saya sadar kapan tubuh butuh jeda dan asupan yang tepat. Kualitas adalah kunci, bukan asal makan. Hal yang sering kali saya abaikan. Sama seperti memilih kata-kata terbaik untuk sebuah tulisan, maka memilih nutrisi terbaik untuk tubuh harus dilakukan.

Perjuangan untuk pulih memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kedisplinan dan konsistensi. Ada kalanya godaan untuk kembali ke pola lama—mengabaikan jam makan—tidak nafsu makan.

Namun, saya menyadari, tubuh ini adalah milik-Nya, mencintainya adalah bentuk ketaatan yang sesungguhnya. Menghargai tubuh sama dengan menghargai karya secara profesional. Karya yang lahir dari raga yang bugar akan memiliki ‘nyawa’, jauh lebih kuat daripada yang dipaksakan dalam rasa sakit.

Setiap suapan nutrisi yang saya pilih sekarang adalah investasi untuk masa depan, mengganti ‘oli’ yang selama ini kering. Langkah-langkah kecil ini adalah fondasi bagi mimpi-mimpi besar yang sedang saya bangun. Mimpi untuk menua bersama serta membersamai anak-anak hingga dewasa dan mandiri.

Saya sadar bahwa perjalanan masih sangat panjang. Dakwah harus tetap berjalan, meski dengan segala keterbatasan saya. Agar mesin ini tetap bisa menderu kencang hingga garis akhir, ia harus dirawat dengan penuh ketulusan.

Kini, setiap kali tubuh memberikan sinyal sekecil apa pun, saya tidak lagi berpaling. Saya mendengarkan, memahami, dan memastikan bahwa benteng pertahanan ini tetap kukuh untuk menyambut ide-ide hebat yang siap saya bagikan kepada dunia. Terlebih, selalu ada sahabat yang menyemangati untuk tetap sehat.

Tapal Batas, 1 April 2026 [CM/Na]

Views: 10

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *